Apa Itu “Homeless Media”? Istilah Viral Usai Disebut Dirangkul Bakom RI
4 mins read

Apa Itu “Homeless Media”? Istilah Viral Usai Disebut Dirangkul Bakom RI

On Berita – Jakarta – Istilah homeless media mendadak ramai diperbincangkan publik setelah Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Muhammad Qodari, menyebut sejumlah media digital berbasis media sosial kini menjadi mitra komunikasi pemerintah.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di kantor Bakom, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Dalam keterangannya, Qodari menjelaskan bahwa kelompok media yang sebelumnya dikenal sebagai homeless media kini mulai bertransformasi menjadi bagian dari ekosistem new media di Indonesia.

“New Media Forum ini sebuah kolaborasi dari beberapa pelaku new media. Jadi dulu namanya dikenal dengan istilah homeless media, tapi teman-teman berusaha bertransformasi menjadi new media,” ujar Qodari.

Beberapa platform digital yang disebut dalam forum tersebut di antaranya Narasi, Indozone, Folkative, USS Feed, Kok Bisa?, hingga CXO Media.

Menurut Qodari, kerja sama dengan media berbasis digital dan media sosial tersebut dianggap penting agar pemerintah mampu menjangkau audiens yang lebih luas, terutama generasi muda yang aktif di platform digital.

“Jadi justru kalau dijauhi malah susah ngomong kita. Ya kan? Tambah dulu nih silaturahmi kan begitu. Kalau silaturahmi kan nanti poin-poin masukan, saran, itu bisa tersampaikan dengan baik,” katanya.

Apa Sebenarnya Homeless Media?

Istilah homeless media pertama kali diperkenalkan oleh Eddward Samadyo Kennedy pada 2017.

Secara sederhana, istilah ini merujuk pada media yang tidak memiliki “rumah” berupa situs web resmi dan lebih mengandalkan media sosial sebagai platform utama penyebaran informasi.

Fenomena ini berkembang pesat seiring perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda.

Konten-konten yang diproduksi biasanya tersebar melalui Instagram, TikTok, X (Twitter), YouTube, hingga Telegram.

Mengutip laporan ANTARA pada 9 Februari 2026, homeless media diartikan sebagai praktik produksi dan distribusi informasi yang sepenuhnya bertumpu pada media sosial tanpa struktur kelembagaan pers yang mapan seperti media konvensional.

Penelitian yang dilakukan Remotivi pada 2024 menyebut ada beberapa faktor yang membuat model media ini berkembang cepat.

Salah satunya adalah kecepatan distribusi informasi. Karena proses produksi dilakukan secara lebih informal dan minim tahapan verifikasi, konten dapat dipublikasikan dalam waktu singkat.

Selain itu, kedekatan dengan audiens juga menjadi kekuatan utama.

Banyak homeless media mengangkat isu sehari-hari, budaya populer, komunitas lokal, hingga keresahan generasi muda dengan gaya komunikasi yang lebih santai dan interaktif.

Tidak hanya itu, sifat partisipatif juga membuat audiens merasa lebih dekat.

Pengguna media sosial dapat ikut menyebarkan, mengomentari, bahkan menjadi bagian dari produksi informasi itu sendiri.

Muncul Bantahan dari Sejumlah Media Digital

Usai pernyataan Qodari viral, sejumlah media digital yang disebut dalam daftar kerja sama langsung memberikan klarifikasi.

Mereka menegaskan bahwa keberadaan mereka di forum tersebut tidak berarti direkrut pemerintah atau menjadi bagian dari alat komunikasi negara.

Salah satu yang mengeluarkan pernyataan adalah Big Alpha, dalam unggahan di akun Instagram resmi @bigalphaid pada Kamis (7/5/2026), mereka menyebut tergabung dalam Indonesia New Media Forum (INMF), forum independen yang dibentuk pada Juli 2025.

“Big Alpha merupakan salah satu anggota INMF,” tulis pernyataan tersebut.

Namun mereka membantah adanya perekrutan oleh Bakom RI.

“Tidak benar bahwa Big Alpha direkrut oleh Bakom untuk menjadi mitra dalam menyampaikan atau menjalankan program-program pemerintah,” lanjut pernyataan itu.

Hal serupa juga disampaikan Pandemic Talks, melalui akun Instagram resminya, media tersebut menegaskan tidak memiliki hubungan kerja sama resmi dengan Bakom RI.

“Pandemic Talks tidak direkrut oleh Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI),” tulis mereka dalam unggahan Kamis (7/5/2026).

Fenomena Baru Ekosistem Media Digital

Perdebatan mengenai homeless media memperlihatkan bagaimana lanskap media di Indonesia terus berubah.

Jika dahulu media identik dengan kantor redaksi, situs berita, dan proses editorial panjang, kini informasi dapat diproduksi secara cepat dan tersebar luas hanya melalui akun media sosial.

Di sisi lain, perkembangan ini juga memunculkan tantangan baru, mulai dari persoalan verifikasi informasi, independensi media, hingga batas antara konten kreatif dan produk jurnalistik.

Meski demikian, kehadiran homeless media dianggap menjadi bagian penting dari transformasi komunikasi digital di Indonesia, terutama dalam menjangkau kelompok muda yang kini lebih banyak mengonsumsi informasi lewat media sosial dibanding media konvensional.

#OnBerita #HomelessMedia #BakomRI #MediaDigital #NewMedia #Qodari

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *