Gus Yahya dan Paus Leo XIV Ajak Dunia Bersatu Usai Gagalnya Dialog AS-Iran
3 mins read

Gus Yahya dan Paus Leo XIV Ajak Dunia Bersatu Usai Gagalnya Dialog AS-Iran

On Berita – Jakarta – Kegagalan perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, menuai respons dari berbagai tokoh dunia.

Salah satunya datang dari Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, yang menyampaikan keprihatinan mendalam atas gagalnya upaya diplomasi tersebut.

Dalam pernyataannya pada Senin (13/4/2026), Gus Yahya mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya umat beragama, untuk bersatu dalam mendorong terciptanya perdamaian dunia.

Ia menegaskan bahwa konflik global tidak hanya berdampak pada negara yang terlibat, tetapi juga berpotensi memengaruhi stabilitas internasional secara luas.

“Mengajak segenap umat semua agama untuk menggalang solidaritas dalam perjuangan bersama untuk keselamatan, kesentosaan dan kesejahteraan seluruh umat manusia,” ujar Gus Yahya.

Ia juga memberikan apresiasi terhadap seruan damai yang terus disuarakan oleh Paus Leo XIV.

Menurutnya, upaya yang dilakukan oleh pemimpin Gereja Katolik tersebut menjadi contoh penting dalam membangun dialog lintas bangsa dan agama.

“Mengapresiasi seruan Paus Leo XIV untuk dengan sabar memperjuangkan terwujudnya koeksistensi damai,” lanjutnya.

Gus Yahya menilai, kegagalan perundingan bukan berarti upaya diplomasi harus dihentikan. Ia justru mendorong agar proses dialog terus dilanjutkan dengan melibatkan berbagai pihak yang memiliki kapasitas untuk menjadi mediator.

Dalam hal ini, Pakistan dinilai memiliki peran strategis dalam memfasilitasi komunikasi antara pihak-pihak yang berseteru.

“Mengapresiasi peran Pakistan dan mengharap Pakistan melanjutkan upaya membawa pihak-pihak ke meja perundingan,” tegasnya.

Lebih jauh, ia juga meminta pemerintah Indonesia, termasuk Presiden Prabowo Subianto, untuk mengambil peran aktif dalam mendorong penyelesaian konflik secara damai melalui jalur diplomasi internasional.

Menurutnya, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara yang menjunjung tinggi prinsip perdamaian dunia.

“Meminta Pemerintah Indonesia dan Presiden Prabowo ikut menggalang desakan internasional bagi dihentikannya kekerasan, ditempuhnya jalan damai, dan konsolidasi internasional untuk mengatasi dampak perang berupa dukungan terhadap korban-korban, terutama korban sipil, dan penanganan atas dampak ekonomi yang meluas,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa konflik bersenjata akan berdampak luas, tidak hanya secara politik, tetapi juga sosial dan ekonomi.

Oleh karena itu, penting untuk membatasi eskalasi konflik agar tidak melibatkan lebih banyak pihak yang justru akan memperumit penyelesaian.

“Untuk itu, harus diupayakan pembatasan pihak-pihak yang terlibat konflik dan tidak memperluasnya karena semakin luas pihak-pihak yang berkonflik, semakin sulit diselesaikan,” pungkasnya.

Sebelumnya, PBNU juga telah mengambil langkah konkret dalam memperkuat ketahanan sosial di tengah dinamika geopolitik global.

Salah satunya melalui pertemuan lintas agama yang melibatkan tokoh Katolik Indonesia, Ignatius Suharyo, pada Jumat (10/4/2026).

Ketua PBNU, Alissa Wahid, menjelaskan bahwa pertemuan tersebut bertujuan untuk memperkuat kerja sama lintas agama, khususnya dalam meningkatkan ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat di tingkat akar rumput.

“Ketum menyampaikan bagaimana ketidakpastian global geopolitik itu pasti akan membawa banyak sekali dampak bahkan kepada Indonesia dari berbagai faktor,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kolaborasi lintas agama diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang lebih tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari konflik hingga dampak ekonomi yang ditimbulkan.

“Yang dibicarakan tadi adalah peluang-peluang kerjasama, kerjasama peningkatan sosial ekonomi, kerjasama di tingkat akar rumputnya sehingga dari kerjasama ini harapannya warga itu bisa menjadi lebih tangguh menghadapi bencana, menghadapi tantangan dan dinamika apapun begitu,” tutupnya.

Peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya peran tokoh agama dan negara dalam menjaga stabilitas dunia.

Di tengah ketegangan global yang terus meningkat, seruan untuk mengedepankan dialog, toleransi, dan kerja sama lintas sektor menjadi semakin relevan demi mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan.

#OnBerita #PerdamaianDunia #ASvsIran #PBNU #GusYahya #DiplomasiGlobal #KonflikInternasional #PausLeoXIV #IndonesiaUntukDamai #Geopolitik #DialogGlobal

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *