KH Nasaruddin Umar Didorong Maju Ketum PBNU, Soroti Tantangan Kepemimpinan NU
On Berita – Jakarta – Menteri Agama RI KH Nasaruddin Umar mengungkapkan dirinya mendapat dorongan dari sejumlah senior dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU) untuk maju sebagai calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar Ke-35 NU.
Muktamar Ke-35 NU dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026.
Meski demikian, Nasaruddin menegaskan hingga saat ini dirinya belum pernah mendeklarasikan diri sebagai calon Ketua Umum PBNU.
Dorongan tersebut, kata dia, datang dari sejumlah senior, sahabat, dan tokoh yang berada di lingkungan NU.
“Saya terus terang per hari ini belum pernah menyatakan deklarasi atau apa pun, tapi banyak senior, teman-teman, para suhu, baik para sahabat, sampai menyatakan begini: ketika Anda diminta NU lantas menolak, itu pertanda egois, itu zalim. Anda dibesarkan oleh NU, giliran NU meminta Anda, Anda mencari zona nyaman,” kata Nasaruddin dalam Diskusi Panel Silatnas MA IPNU beberapa waktu lalu di Jakarta.
Menurut Nasaruddin, permintaan dari para senior NU merupakan bentuk amanah yang perlu dipertimbangkan oleh seorang kader.
Namun, ia menekankan bahwa keputusan mengenai siapa yang akan memimpin PBNU tetap menjadi kewenangan para muktamirin.
“Bagi saya berkesan. Jadi ketika kita diminta oleh para senior, oleh orang, maka kita sebagai kader harus bersedia. Tapi dengan catatan bahwa siapa pun nanti yang akan diterima muktamirin, maka kita harus menerima,” ujarnya.
Nasaruddin Bicara Masa Depan NU
Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin juga menyampaikan pandangannya mengenai tantangan dunia Islam dan posisi NU dalam perkembangan peradaban Islam global.
Ia melihat adanya perubahan persebaran komunitas Muslim di berbagai belahan dunia.
Fenomena yang disebutnya sebagai “deterritorialisasi” umat Islam itu membuat komunitas Muslim tidak lagi hanya terkonsentrasi di negara-negara dengan mayoritas penduduk Islam.
“Tidak ada lagi satu negara yang tidak ada umat Islamnya. Bahkan tidak ada satu negara pun yang tidak memiliki masjid dan mushala,” katanya.
Menurut Nasaruddin, kondisi tersebut sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam perkembangan peradaban Islam dunia.
Ia menilai stabilitas ekonomi dan sosial Indonesia menjadi salah satu modal untuk mengembangkan peran tersebut.
“Ini asumsi saya. Kenapa? Karena kalau kita lihat statistik pertumbuhan ekonomi, inflasi, Indonesia memiliki kondisi yang relatif stabil dibandingkan sejumlah negara lain yang mayoritas penduduknya Muslim,” katanya.
Nasaruddin kemudian menyoroti kondisi Timur Tengah yang masih menghadapi berbagai persoalan konflik.
Menurutnya, situasi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi posisi kawasan itu sebagai pusat pengembangan keilmuan Islam.
“Yang paling tepat menghadapi dunia Islam modern yang paling penting jauh dari pusat konflik Israel. Di kawasan Timur Tengah bukan tempat yang nyaman lagi untuk membesarkan atau melahirkan ilmuwan Islam,” katanya.
Ia juga menyinggung Mesir sebagai salah satu pusat pendidikan Islam dunia.
Menurut Nasaruddin, kondisi regional membuat Mesir menghadapi tantangan tersendiri.
“Dalam pertemuan kemarin bersama Bapak Presiden, bahwa memang Mesir itu sendiri sudah tidak nyaman lagi menjadi pusat studi Islam karena energinya habis untuk memikirkan perang terus,” ujarnya.
Nasaruddin menyebut adanya gagasan agar Al-Azhar membuka cabang di Indonesia.
Ia menilai hal tersebut dapat menjadi salah satu indikasi meningkatnya perhatian terhadap potensi Indonesia sebagai pusat pengembangan studi Islam.
“Kalau di Mesir itu overloaded, sudah terlalu banyak sekarang. Peringkatnya lebih ke bawah, lebih bagus Indonesia daripada Mesir. Tiga tahun ini Mesir mengalami degradasi,” katanya.
NU Dinilai Perlu Siapkan Kepemimpinan Strategis
Bagi Nasaruddin, peluang Indonesia menjadi salah satu pusat peradaban Islam dunia harus diikuti kesiapan NU sebagai organisasi Islam besar di Indonesia.
“Tempat paling nyaman adalah Asia Tenggara. Kalau bicara Asia Tenggara adalah Indonesia,” katanya.
Ia kemudian mengajukan pertanyaan mengenai kesiapan NU mengambil peran tersebut.
“Kalau bicara Indonesia maka harus berbicara tentang NU. Siapkah NU menjadi tuan rumah untuk episentrum peradaban Islam?” kata Nasaruddin.
Karena itu, ia menilai kepemimpinan NU ke depan membutuhkan kapasitas yang tidak hanya bertumpu pada senioritas, garis keturunan, maupun besarnya basis jamaah. Menurutnya, kemampuan manajerial juga menjadi faktor penting.
“NU memerlukan figur manajerial, bukan leader yang hanya mengandalkan kesenioran, darah biru, jamaah, tetapi tidak punya bakat mikromanajemen,” katanya.
Ia berharap pemimpin NU berikutnya mampu menggabungkan pemikiran strategis dengan pengalaman praktis.
“Yang diperlukan bakat mikromanajemen. Orang yang punya teori besar dan pengalaman yang praktis. Kepemimpinan NU akan datang diharapkan memiliki makro dan mikromanajemen,” ujarnya.
Selain kemampuan tersebut, Nasaruddin menilai pengalaman nasional dan internasional juga diperlukan untuk menghadapi tantangan NU ke depan.
“Punya pengalaman riil nasional internasional, punya pemikiran untuk menyiapkan pangkalan episentrum Islam masa akan datang,” jelasnya.
Mendapat Dukungan dari PCNU Bungo
Dorongan agar Nasaruddin Umar maju sebagai Ketua Umum PBNU juga datang dari Ketua Tanfidziyah PCNU Bungo, Kiai Syakroni.
Ia menilai Nasaruddin memiliki kapasitas keilmuan, pengalaman kepemimpinan, serta kemampuan menjangkau berbagai kelompok di lingkungan NU.
“Beliau adalah ulama yang memiliki keluasan ilmu, kebijaksanaan dalam memimpin, serta diterima oleh berbagai kalangan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Kami berharap beliau berkenan mengabdikan diri untuk memimpin PBNU pada periode mendatang,” kata Kiai Syakroni.
Kiai Syakroni juga menilai jaringan internasional Nasaruddin dapat menjadi modal untuk memperkuat peran NU di tingkat global.
“Selain mampu menyatukan seluruh elemen jam’iyah Nahdlatul Ulama, beliau juga memiliki hubungan yang sangat baik dengan berbagai tokoh dan lembaga internasional. Modal ini sangat penting agar NU semakin berperan dalam membangun perdamaian dunia dan memperkuat diplomasi keislaman Indonesia,” kata Kiai Syakroni.
Profil Singkat Nasaruddin Umar
KH Nasaruddin Umar lahir di Ujung, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pada 23 Juni 1959. Ia dikenal sebagai ulama, akademisi bidang tafsir Al-Qur’an, dan birokrat.
Saat ini, ia menjabat sebagai Menteri Agama RI setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto pada 21 Oktober 2024.
Sebelumnya, Nasaruddin pernah menjabat Wakil Menteri Agama periode 2011-2014 dan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama.
Di bidang akademik, Nasaruddin merupakan Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia juga dikenal sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta.
Dalam lingkungan NU, Nasaruddin memiliki pengalaman dalam struktur kepengurusan organisasi.
Ia pernah dipercaya sebagai Katib Aam Syuriyah PBNU. Pada kepengurusan PBNU masa khidmah 2022-2026, Nasaruddin Umar ditempatkan sebagai Rais Syuriyah PBNU.
Dengan adanya dorongan dari sejumlah tokoh tersebut, nama Nasaruddin Umar menjadi salah satu figur yang diperbincangkan menjelang Muktamar Ke-35 NU.
Namun, berdasarkan pernyataannya sendiri, hingga saat ini Nasaruddin belum menyatakan deklarasi resmi sebagai calon Ketua Umum PBNU.
#OnBerita #NasaruddinUmar #MuktamarKe35NU #MuktamarNU2026 #PBNU #NahdlatulUlama #NU #KetuaUmumPBNU #GusNasar #NU2026 #MuktamarNU #BeritaNU
Penulis : Rizky Saptanugraha
Editor : Ali Ramadhan
