IHSG Selasa 15 September 2026 Melemah 1%, Ini Penyebabnya
3 mins read

IHSG Selasa 15 September 2026 Melemah 1%, Ini Penyebabnya

On Berita – Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berada di zona merah pada awal perdagangan Selasa (15/09/2026).

Indeks saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) terkoreksi lebih dari 1% seiring tekanan dari sejumlah saham berkapitalisasi besar serta sentimen ekonomi dari dalam dan luar negeri.

Mengacu pada data BEI, IHSG pada pukul 09.09 WIB berada di level 6.463,97.

Angka tersebut turun 70,72 poin atau 1,08% dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level 6.534,69.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG sempat berada di level 6.544,77 dan kemudian mencapai posisi tertinggi 6.549,60.

Namun, tekanan jual membuat indeks berbalik melemah hingga menyentuh level terendah 6.462,85.

Tekanan juga terlihat dari mayoritas saham yang diperdagangkan. Sebanyak 297 saham tercatat mengalami penurunan, sedangkan 203 saham menguat dan 463 saham lainnya bergerak stagnan.

Aktivitas perdagangan pada awal sesi tersebut mencatat volume sekitar 2,89 miliar saham.

Nilai transaksi mencapai Rp1,63 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 182.500 transaksi.

Koreksi IHSG turut dipengaruhi pelemahan sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar besar.

Salah satunya adalah Bayan Resources (BYAN) yang pada awal perdagangan tercatat turun 6,8%.

Tekanan juga terjadi pada kelompok saham perbankan dengan kapitalisasi besar.

Saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) melemah 2,35%, Bank Mandiri (BMRI) turun 2,03%, sedangkan Bank Central Asia (BBCA) terkoreksi 1,92%.

Pergerakan saham-saham tersebut menjadi salah satu perhatian investor karena perubahan harga emiten berkapitalisasi besar dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap arah IHSG.

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar salah satunya tertuju pada pergantian Menteri Keuangan.

Purbaya Yudhi Sadewa digantikan oleh Suahasil Nazara yang resmi dilantik pada Senin (14/09/2026).

Arah kebijakan fiskal di bawah kepemimpinan Suahasil menjadi perhatian investor.

Setelah dilantik, Suahasil menyampaikan komitmennya menjaga kesehatan dan kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk mempertahankan defisit di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Kepastian arah kebijakan fiskal dinilai penting bagi pasar, terutama ketika investor masih menghadapi tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi global.

Dari eksternal, pasar juga dibayangi perkembangan konflik di Timur Tengah.

Serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi pada Senin (14/09/2026) menambah kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global.

Situasi tersebut terjadi setelah jalur pipa minyak East-West Saudi sebelumnya mengalami gangguan akibat serangan.

Di sisi lain, Selat Hormuz masih ditutup dan upaya diplomasi untuk membuka kembali jalur tersebut menghadapi berbagai hambatan.

Kekhawatiran terhadap pasokan energi kemudian turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.

Pada perdagangan Senin, kontrak minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 1,24% menjadi US$102,65 per barel. Sementara harga minyak Brent menguat 1,18% menjadi US$106,93 per barel.

Kenaikan harga minyak menjadi perhatian pasar karena dapat meningkatkan biaya energi dan memberikan tekanan terhadap inflasi, khususnya bagi negara yang masih bergantung pada impor minyak.

Sentimen global lainnya berasal dari prospek kebijakan moneter Amerika Serikat.

Bank Indonesia (BI) sebelumnya mengingatkan risiko kondisi suku bunga tinggi dalam periode yang lebih panjang atau higher for longer terhadap negara berkembang.

Kondisi tersebut berpotensi memperkuat dolar AS dan meningkatkan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Jika terjadi, arus modal dapat lebih banyak mengarah ke aset negara maju dan memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah serta pasar keuangan domestik.

Investor juga akan mencermati pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15-16 September waktu Amerika Serikat.

Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas pasar terhadap kenaikan suku bunga The Federal Reserve sebesar 25 basis poin menuju kisaran 3,75%-4,00% mencapai 92,4%.

Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan IHSG pada perdagangan Selasa (15/09/2026) masih akan sangat dipengaruhi perkembangan saham-saham berkapitalisasi besar, arah kebijakan fiskal domestik, dinamika harga energi, serta keputusan kebijakan moneter Amerika Serikat.

#OnBerita #IHSG #IHSGHariIni #PasarModal #BursaEfekIndonesia #SahamIndonesia #Investasi #EkonomiIndonesia #TheFed #HargaMinyak #Rupiah #PasarKeuangan

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *