Klaim Sepihak Kerja Kebudayaan Adalah Awal Kehancuran Budaya itu Sendiri; Publik Pertanyakan Kerja Bambang Sumantri
On Berita – Bogor – Pelestarian budaya bukan hanya tentang siapa yang bergerak, tetapi sejauh mana masyarakat merasakan manfaat dari gerakan tersebut.
Bambang Sumantri dan Pamong Budaya dalam Pendokumentasian kesenian tradisional Babangen.
Dokumentasi kesenian tradisional, perhatian terhadap sejarah daerah, serta upaya mengenalkan budaya kepada generasi muda merupakan hal yang penting.
Namun, apresiasi tidak boleh membuat evaluasi berhenti. Ketika pelestarian budaya dipromosikan sebagai kerja merawat ingatan kolektif, pertanyaan berikutnya justru menjadi mendasar: sejauh mana ingatan itu berhasil diwariskan, dan siapa yang benar-benar memperoleh manfaatnya?
Dokumentasi sebuah kesenian, misalnya, merupakan langkah awal. Keberhasilannya perlu dilihat lebih jauh: apakah dokumentasi tersebut dapat diakses masyarakat, digunakan dalam pendidikan, membantu regenerasi seniman, dan menjaga agar kesenian tetap dipraktikkan, bukan sekadar tersimpan sebagai arsip.
Pertanyaan serupa berlaku untuk pengembangan ekosistem kebudayaan. Apakah sanggar-sanggar memperoleh ruang yang memadai? Apakah para seniman mendapatkan kesempatan berkarya secara berkelanjutan? Apakah anak-anak muda dilibatkan sebagai pelaku, bukan sekadar penonton dalam kegiatan budaya?
Masa kini kabupaten Bogor terus berbenah dan serius menjaga budaya dan tradisi yang hidup di Bogor. Diantara menyiapkan Insfratruktur gedung kesenian dan memfasilitasi kegiatan pegiat kebudayaan dan seniman seperti pekan seni media Rupakala.
Ini semua adalah wujud menjaga, melestarikan dan melanjutkan nilai-nilai Budaya.
Karena itu, ukuran keberhasilan gerakan kebudayaan tidak semestinya berhenti pada banyaknya kegiatan, dokumentasi, atau publikasi tentang seorang pegiat. Publik perlu memperoleh gambaran mengenai hasil, kesinambungan program, jangkauan manfaat, dan keterlibatan komunitas yang selama ini menjaga tradisi.
Evaluasi yang terbuka justru dapat memperkuat gerakan kebudayaan agar tidak berhenti pada figur, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama.
Bogor membutuhkan lebih dari sekadar cerita tentang orang-orang yang mencintai budaya. Bogor membutuhkan ekosistem yang membuat seniman mampu bertahan, tradisi terus dipraktikkan, situs terlindungi, pengetahuan lokal terdokumentasi, dan generasi muda memiliki ruang untuk mengembangkan identitas budayanya.
Pada akhirnya, keberhasilan pelestarian budaya bukan ditentukan oleh seberapa indah narasi tentang penjaganya, melainkan oleh seberapa kuat budaya itu tetap hidup di tengah masyarakat.
Menjaga budaya tidak bisa disimbolkan kepada satu atau dua orang saja. Menjaga budaya adalah kebersamaan masyarakat yang saling menguatkan.
Maka jika satu orang mengklaim sebagai budayawan atau tokoh yang merasa paling menjaga dan melindungi budaya. Itu adalah awal kehancuran budaya itu sendiri.
