Gus Yahya Ketum PBNU Siapkan Piagam Ulama untuk Atur Standar Keilmuan dan Etika
4 mins read

Gus Yahya Ketum PBNU Siapkan Piagam Ulama untuk Atur Standar Keilmuan dan Etika

On Berita – Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tengah merumuskan Piagam Nilai-Nilai Keulamaan sebagai langkah strategis untuk mempertegas kembali standar, etika, serta kriteria keulamaan di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU).

Penyusunan piagam ini disebut sebagai upaya menjawab kebutuhan akan penegasan nilai yang selama ini menjadi pedoman, namun dinilai belum dipahami secara seragam di tengah masyarakat.

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menegaskan bahwa penyusunan dokumen tersebut penting untuk memberikan kejelasan konseptual mengenai apa yang dimaksud dengan ulama dalam perspektif NU.

“Perlu ada penegasan kembali secara lebih tertulis tentang apa sebetulnya yang kita anggap sebagai nilai-nilai keulamaan,” kata Gus Yahya dalam Halaqah Piagam Nilai-Nilai Keulamaan di Gedung PBNU Lantai 8, Jakarta, Jumat (5/6/2026).

Menurut Gus Yahya, piagam tersebut akan memiliki sedikitnya tiga fungsi utama. Pertama, sebagai pengingat bagi para ulama agar nilai-nilai keulamaan tetap terjaga dan tidak bergeser dari prinsip dasar yang telah lama dijunjung.

Kedua, sebagai panduan bagi generasi yang ingin menempuh jalan keulamaan agar memahami standar yang harus dipenuhi. Ketiga, sebagai rujukan bagi masyarakat dalam memilih guru agama yang memiliki kapasitas keilmuan yang sahih.

“Nanti kalau menjadi ulama, standar nilainya seperti ini,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa penyusunan piagam ini juga sejalan dengan karakteristik organisasi Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyah yang berlandaskan tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah.

Dalam draf awal, nilai-nilai keulamaan disebut merujuk pada prinsip-prinsip dasar yang tertuang dalam Qanun Asasi karya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

“Bahwa yang tergabung dalam jam’iyah NU adalah para ulama dari kalangan Ahlussunnah wal Jamaah yang mengikuti mazhab empat. Ini menunjukkan adanya dimensi wawasan keilmuan yang menjadi dasar keulamaan,” kata Gus Yahya.

Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi NU, parameter keulamaan tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga memiliki landasan keilmuan yang dapat dijabarkan secara sistematis.

Karena itu, penyusunan piagam ini juga dimaksudkan untuk memperjelas dimensi kognitif dari keulamaan agar tidak disalahpahami di tengah masyarakat.

Dalam kesempatan yang sama, Gus Yahya menyebutkan bahwa tim penyusun yang terdiri dari unsur Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU saat ini tengah merumuskan dua model format piagam.

Model pertama dirancang menyerupai dokumen formal seperti Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang memiliki struktur seperti konstitusi organisasi namun berisi rumusan nilai.

“Modelnya seperti Piagam PBB,” ujarnya.

Sementara model kedua mengacu pada Watsiqah al-Ukhuwwah al-Insaniyyah atau Dokumen Persaudaraan Manusia yang disusun Grand Syekh Al-Azhar, Ahmad Al-Tayyeb, bersama Paus Fransiskus.

Model ini tidak berbentuk pasal-pasal, melainkan narasi sistematis yang menjelaskan nilai-nilai secara lebih konseptual.

“Jadi tidak dalam bentuk pasal-pasal, melainkan berupa paparan yang tersusun secara sistematis mengenai topik yang dibahas, dalam hal ini nilai-nilai keulamaan,” jelasnya.

Sementara itu, Katib Syuriyah PBNU KH Nurul Yaqin Ishaq menilai bahwa penyusunan piagam ini penting sebagai pedoman di tengah munculnya fenomena kaburnya standar keulamaan di masyarakat.

Ia menyoroti adanya kecenderungan atribusi gelar ulama kepada pihak yang tidak memiliki kapasitas keilmuan yang memadai.

“Ada orang yang sesungguhnya tidak memiliki kapasitas keilmuan keagamaan yang memadai, tetapi karena penampilan dan atribut yang melekat padanya, masyarakat menganggap dan mempercayainya sebagai ulama. Padahal, ia tidak lebih dari seorang dukun,” ujarnya.

Menurutnya, draf Piagam Nilai-Nilai Keulamaan telah disepakati untuk dibahas lebih lanjut dalam forum Musyawarah Nasional (Munas) NU sebelum kemudian dibawa ke Muktamar NU.

Ia berharap hasil pembahasan tersebut dapat menjadi warisan penting bagi generasi NU mendatang.

“Materi ini sudah disetujui sebagai salah satu bahan Munas. Nanti insyaallah akan dibawa ke Muktamar,” katanya.

Ia menegaskan bahwa piagam ini diharapkan dapat menjadi panduan moral dan etika dalam menilai serta memahami keulamaan seseorang secara lebih objektif dan berbasis ilmu.

“Mudah-mudahan menjadi legacy bagi NU ke depan,” tandasnya.

Forum halaqah tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh PBNU, di antaranya Katib Aam PBNU KH Akhmad Said Asrori, Wakil Ketua Umum PBNU H Amin Said Husni, Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla, Savic Ali, Sekretaris Umum JATMAN KH Ali M Abdillah, serta sejumlah kiai dan pengasuh pesantren dari berbagai daerah.

#OnBerita #PBNU #NU #Ulama #GusYahya #Keulamaan #IslamIndonesia #AhlussunnahWalJamaah #Pesantren #KajianIslam #OrganisasiNU

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *