Rais Aam PBNU : Muktamar ke-35 NU Akan Digelar Tanggal 1-5 Agustus 2026
3 mins read

Rais Aam PBNU : Muktamar ke-35 NU Akan Digelar Tanggal 1-5 Agustus 2026

On Berita – Jakarta – Rencana pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mulai mengerucut.

Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftahul Achyar, menyampaikan bahwa agenda lima tahunan tersebut diproyeksikan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026.

“Pelaksanaan Muktamar NU pada awal Agustus tanggal 1-5 Agustus itu sudah siklus muktamar, karena muktamar sebelumnya di Jombang juga Agustus,” ujar Kiai Miftah saat menutup Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) PWNU Jawa Timur di Pesantren Sunan Bejagung 2, Tuban, Minggu (12/4/2026).

Meski jadwal sudah mulai ditetapkan, lokasi penyelenggaraan Muktamar hingga kini masih dalam tahap pembahasan internal.

Sejumlah daerah disebut menjadi kandidat kuat, mulai dari kota besar hingga kawasan pesantren.

“Soal tempat, kita rapatkan dulu, apakah Surabaya atau Jakarta, bisa juga pesantren, apakah di Pesantren Walisongo, Situbondo, asuhan KH Cholil Asad, yang all in, atau pesantren tuan guru di NTB yang juga sudah lama minta, ataukah di Sumbar yang didukung tiga provinsi,” jelasnya.

Lebih dari sekadar agenda organisasi, Kiai Miftah menekankan bahwa Muktamar NU juga harus menjadi momentum untuk kembali meneguhkan jati diri NU yang berakar kuat dari tradisi pesantren.

Ia bahkan menyinggung sejarah panjang pesantren yang telah ada sejak masa Rasulullah.

“Jadi, sejarah pesantren itu sudah ada sejak Rasulullah yakni ‘ashabush shuffa’ yang menjadi tempat kaderisasi santri dari berbagai negara, seperti Abu Hurairah kaderisasi Rasul jadi tokoh besar atau Gubernur di Mesir, Shalahuddin Al-Ayyubi, dan banyak tokoh besar lain,” paparnya.

Dalam konteks sejarah berdirinya NU, Kiai Miftah juga mengingatkan tentang simbol-simbol penting yang menjadi bagian dari amanah para pendiri organisasi.

Ia menyebut adanya isyarat dari Syekh Nawawi yang kemudian diteruskan oleh Syeikhona Cholil melalui simbol ayat Al-Qur’an, tongkat, dan tasbih.

“Masalahnya, NU sekarang belum melaksanakan simbol yang dilambangkan tongkat Nabi Musa yang sakti dalam membasmi kemaksiatan dan menyejahterakan umat dengan mengais tanaman atau rezeki. Faktanya, warga NU yang mencapai 87 persen dari 95 persen Muslim Indonesia itu masih unggul ekonomi sekitar 30 persen,” katanya.

Senada dengan itu, dalam pembukaan Muskerwil, Wakil Rais PWNU Jawa Timur KH Abd Matin Djawahir juga menegaskan pentingnya kembali pada prinsip dasar organisasi yang tertuang dalam Qonun Asasi NU.

Ia menyampaikan pesan dari Rais PWNU Jatim KH Anwar Manshur agar seluruh elemen NU tetap menjaga struktur kepemimpinan yang telah ditetapkan sejak awal berdiri.

“Kemanapun NU, jangan lupa Qonun Asasi. Jangan sampai melenceng dari sejarah awal berdirinya. Dulu, NU didirikan ibarat kiai dan santri. Rais Aam ibarat kiai, dan Ketua Tanfidziyah ibarat santri,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tidak boleh ada lembaga yang posisinya melebihi Rais Aam sebagai otoritas tertinggi dalam struktur NU.

“Jangan sampai ada lembaga di atas PBNU, apapun namanya. Tidak boleh ada yang lebih tinggi dari Rais Aam dan tidak boleh ada yang menghakimi Rais Aam. Supremasi syuriyah harus betul-betul kita perhatikan,” tegasnya.

Selain membahas agenda Muktamar, forum Muskerwil juga merumuskan sejumlah usulan strategis untuk masa depan NU.

Di antaranya adalah penguatan tiga pilar pemberdayaan ekonomi seperti UMKM, hilirisasi pertanian dan perhutanan sosial, serta penguatan filantropi berbasis zakat, infak, dan sedekah (ZIS).

Selain itu, peningkatan layanan kesehatan berbasis jamaah serta penguatan nilai Aswaja juga menjadi perhatian utama.

Dengan berbagai persiapan tersebut, Muktamar ke-35 NU diharapkan tidak hanya menjadi ajang konsolidasi organisasi, tetapi juga momentum untuk memperkuat peran NU dalam menjawab tantangan sosial, ekonomi, dan keumatan di era modern.

#OnBerita #MuktamarNU2026 #PBNU #NahdlatulUlama #BeritaNasional #OrganisasiIslam #NUUpdate #Muskerwil #KiaiMiftah #Aswaja

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *