Erupsi Menerus Gunung Anak Krakatau Berakhir, Status Masih Level III
3 mins read

Erupsi Menerus Gunung Anak Krakatau Berakhir, Status Masih Level III

On Berita – Jakarta – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda telah berakhir setelah berlangsung sekitar 25 jam.

Meski fase tersebut selesai, aktivitas vulkanik gunung api masih berlangsung dan masyarakat diminta tetap mematuhi rekomendasi keselamatan.

Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan, episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berlangsung sejak Jumat 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga Minggu 6 September 2026 pukul 00.40 WIB.

“Pasca-berakhirnya episode tersebut, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau bertransisi kembali ke karakteristik erupsi strombolian yang ditandai dengan perekaman tiga kali gempa letusan/erupsi strombolian,” kata Lana, dilansir dari Antara, Senin (07/09/2026).

Erupsi menerus merupakan aktivitas vulkanik berupa pengeluaran material gunung api yang berlangsung dalam periode tertentu secara berkelanjutan.

Setelah episode tersebut berakhir, aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan karakteristik erupsi strombolian.

Erupsi strombolian umumnya ditandai dengan pelepasan gas dan material vulkanik secara episodik.

Aktivitas tersebut dapat disertai lontaran material akibat tekanan gas dari dalam tubuh gunung api.

Badan Geologi menginterpretasikan perubahan karakter erupsi tersebut sebagai tanda bahwa fase letusan menerus dengan durasi panjang telah berakhir.

Namun, kondisi tersebut belum berarti aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau sepenuhnya berhenti.

Potensi Erupsi Susulan Masih Tinggi

Badan Geologi masih mencatat sejumlah aktivitas kegempaan di Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan hasil pemantauan instrumental pada periode 6-7 September 2026, tercatat tiga kali gempa erupsi, sembilan kali gempa hembusan, 93 kali gempa low frequency, 98 kali gempa hybrid atau fase banyak, empat kali gempa tremor menerus, serta satu kali gempa vulkanik dangkal.

Selain aktivitas kegempaan, pemantauan menggunakan grafik perataan amplitudo RSAM (Real-time Seismic Amplitude Measurement) juga menunjukkan adanya perubahan aktivitas.

Amplitudo RSAM sempat mengalami peningkatan pada 5 September 2026, kemudian mulai menunjukkan tren penurunan sejak 6 September 2026.

Data deformasi dari tiltmeter Stasiun Tanjung juga memperlihatkan adanya indikasi inflasi tipis sejak awal Agustus 2026.

Sementara itu, Stasiun Lava93 menunjukkan pola deformasi yang relatif konstan.

Berdasarkan hasil evaluasi terhadap berbagai parameter tersebut, Badan Geologi masih mempertahankan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga.

Status tersebut menjadi dasar bagi masyarakat dan wisatawan untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya erupsi.

Lana mengimbau masyarakat, wisatawan, maupun pendaki agar tidak mendekati kawah aktif Gunung Anak Krakatau dalam radius tiga kilometer.

Larangan tersebut diberlakukan untuk mengurangi risiko terkena material vulkanik yang dapat terlontar dari kawah.

Sejumlah potensi bahaya yang perlu diwaspadai antara lain lontaran batu pijar, awan panas, aliran lava, hingga hujan abu vulkanik dengan intensitas tinggi.

Selain itu, masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi mengenai kemungkinan tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Masyarakat juga dianjurkan menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, khususnya apabila terjadi hujan abu, guna mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat paparan material vulkanik.

Dengan berakhirnya episode erupsi menerus, aktivitas Gunung Anak Krakatau kini kembali memasuki karakter erupsi strombolian.

Namun, status Level III menunjukkan bahwa potensi bahaya masih perlu diperhatikan sehingga masyarakat di sekitar kawasan Selat Sunda diharapkan mengikuti informasi resmi dan rekomendasi dari Badan Geologi.

#OnBerita #GunungAnakKrakatau #AnakKrakatau #ErupsiGunungApi #BadanGeologi #GunungApi #InfoBencana #BencanaAlam #SelatSunda #Banten #Lampung

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *