Konfercab Jakarta Pusat: Luka yang Tertinggal, Bom Waktu Perpecahan
3 mins read

Konfercab Jakarta Pusat: Luka yang Tertinggal, Bom Waktu Perpecahan

ONBERITA, Jakarta – Konfercab NU Jakarta Pusat yang seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah dan meneguhkan marwah organisasi, justru menyisakan luka yang mendalam di hati banyak warga Nahdliyin.

Luka itu bukan karena perbedaan pilihan, melainkan karena banyaknya warga yang merasa bahwa aturan organisasi tidak lagi menjadi panglima dalam menentukan arah perjalanan NU.

Betapa menyedihkan ketika sebuah Konfercab tetap dipaksakan berlangsung dengan kepesertaan yang dipersoalkan, yaitu MWC yang SK kepengurusannya telah berakhir dan tanpa disertai surat mandat penuh. Keberatan telah disampaikan sejak awal.

Bahkan ketika terjadi walkout sebagai bentuk penolakan terhadap jalannya sidang, proses pemilihan tetap dilanjutkan seolah tidak ada persoalan yang perlu diselesaikan terlebih dahulu.

Yang lebih memprihatinkan, hasil Konfercab yang masih dipersoalkan tersebut justru dipaksakan untuk segera diterbitkan SK.

Seakan-akan seluruh keberatan yang disampaikan warga Nahdliyin tidak lagi dianggap penting. Pertanyaan yang terus bergema di tengah warga adalah, mengapa begitu tergesa-gesa?

Tak sedikit para kiai dan tokoh juga menyampaikan kekhawatiran, bahwa jika kondisi seperti ini terus dipaksakan, maka apa yang semula rukun dan kompak justru bisa pecah dan menimbulkan gejolak yang saling berhadapan.

Lalu, jika itu terjadi, siapa yang akan bertanggung jawab?Jangan sampai timbul kesan bahwa penerbitan SK itu lebih didorong demi memastikan kepengurusan tersebut dapat mengikuti Muktamar dan menggunakan hak suara untuk mendukung kelompok atau calon tertentu.

Jika kepentingan Muktamar mengorbankan aturan organisasi, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar sebuah kepengurusan, tetapi kehormatan Nahdlatul Ulama itu sendiri.

Yang lebih menyakitkan, mereka yang hari ini begitu bersemangat mengejar legitimasi mungkin tidak pernah merasakan bagaimana membangun awal NU Jakarta Pusat dengan air mata dan keringat, apalagi memahami beratnya perjuangan itu.

Ketika banyak ranting belum terbentuk, organisasi berjalan dengan segala keterbatasan, bahkan belum memiliki gedung, para pengurus, kiai, dan warga Nahdliyin berjuang tanpa pamrih hanya untuk menjaga agar NU tetap hidup di Jakarta Pusat.

Kini, setelah NU Jakarta Pusat mulai tumbuh, memiliki ranting-ranting yang aktif, dan memiliki gedung yang menjadi kebanggaan bersama, semua itu justru terancam oleh ambisi jabatan dan kepentingan kekuasaan. Persaudaraan berubah menjadi saling berhadapan. Kepercayaan mulai terkikis.

Suara penolakan terhadap hasil Konfercab semakin menguat dari berbagai MWC, ranting, para kiai, ulama, dan warga Nahdliyin yang menginginkan organisasi kembali berjalan sesuai AD/ART dan Peraturan Perkumpulan.Yang paling menyakitkan adalah ketika suara dari bawah seakan tidak lagi didengar.

Jika suara warga Nahdliyin yang meminta agar aturan organisasi ditegakkan terus diabaikan, lalu kepada siapa lagi kami harus menyampaikan kegelisahan ini?Kami tidak sedang meminta jabatan. Kami tidak sedang mengejar kekuasaan.

Kami hanya ingin NU dijalankan sebagaimana amanat para muassis: organisasi yang berdiri di atas kejujuran, musyawarah, keadilan, dan penghormatan terhadap aturan.

Namun apabila setiap keberatan terus diabaikan, setiap kritik dianggap sebagai gangguan, dan setiap suara warga tidak lagi mendapat tempat, maka jangan heran apabila kekecewaan warga Nahdliyin akan terus membesar.

Yang lahir bukanlah ketenangan, melainkan perlawanan moral untuk menjaga marwah organisasi agar tetap berada di jalan yang benar.Jangan pernah meremehkan suara Nahdliyin di akar rumput.

Merekalah yang menghidupkan ranting, menjaga majelis, merawat tradisi para ulama, dan membesarkan NU dengan pengorbanan, bukan dengan kekuasaan.Jabatan akan berakhir.

Kekuasaan akan berganti. Tetapi luka akibat ketidakadilan dalam berorganisasi dapat dikenang dalam waktu yang sangat lama.

NU adalah warisan para ulama. Ia tidak boleh diwariskan kepada ambisi, tetapi harus dijaga dengan amanah.

Sebab ketika aturan dikalahkan oleh kepentingan, sesungguhnya yang kalah bukan hanya satu kelompok, melainkan marwah Nahdlatul Ulama itu sendiri.

Yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya adalah kehormatan dan kebanggaan ber-NU, bukan catatan sejarah tentang pihak-pihak yang merusak tatanan organisasi dengan menggunakan segala cara demi ambisi kekuasaan dan jabatan.

#FRONT PENJAGA MARWAH NU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *