Sejarah Berdirinya Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Pusat Perjuangan Pendiri NU
6 mins read

Sejarah Berdirinya Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Pusat Perjuangan Pendiri NU

On Berita – Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) resmi menetapkan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sebagai tuan rumah penyelenggaraan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026.

Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Gabungan Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Selasa (7/7/2026).

Penunjukan ini bukan kali pertama bagi pesantren yang menjadi salah satu pusat pendidikan Islam tertua di Indonesia tersebut.

Sebelumnya, Jombang juga dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar Ke-33 NU pada 2015, sebuah forum yang mencatat sejarah penting bagi organisasi, termasuk diterapkannya mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam pemilihan Rais Aam PBNU.

Ketua Organizing Committee (OC) Muktamar Ke-35 NU, Saifullah Yusuf (Gus Ipul), menyatakan pengalaman penyelenggaraan Muktamar pada 2015 menjadi modal berharga dalam mempersiapkan agenda organisasi terbesar Nahdlatul Ulama tahun ini.

“Jombang telah memiliki pengalaman menjadi tuan rumah Muktamar pada 2015. Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal penting dalam mempersiapkan penyelenggaraan Muktamar kali ini,” ujar Gus Ipul.

Di balik penunjukan tersebut, Pesantren Tambakberas menyimpan sejarah panjang yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan bangsa maupun perkembangan Nahdlatul Ulama.

Berawal dari Masa Perang Diponegoro

Salah seorang dzurriyah KH Abdul Wahab Hasbullah, KH Muhammad Wafiyul Ahdi (Gus Wafi), menjelaskan bahwa Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas bermula pada 1825, bertepatan dengan pecahnya Perang Diponegoro.

Menurutnya, pendiri pesantren adalah KH Abdussalam, seorang ulama asal Tuban yang juga dikenal sebagai komandan pleton pasukan Pangeran Diponegoro untuk wilayah Madiun hingga Jawa Timur bagian timur.

“Kebetulan pendirinya adalah Mbah Abdussalam. Beliau merupakan komandan pleton tentara Diponegoro wilayah Madiun ke Timur,” tutur Gus Wafi dalam podcast “Sejarah Berdirinya Tambakberas” di kanal YouTube NU Online.

KH Abdussalam diketahui merupakan keturunan Pangeran Benowo, putra Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir.

Saat perang berlangsung, kawasan yang kini dikenal sebagai Tambakberas dimanfaatkan sebagai tempat persembunyian sekaligus padepokan.

Setelah Perang Diponegoro berakhir pada 1830, KH Abdussalam menetap di wilayah Jombang dan mulai mengembangkan sebuah pusat pendidikan keagamaan yang kemudian berkembang menjadi Pondok Pesantren Bahrul Ulum.

Pada masa awal berdirinya, pesantren tersebut hanya memiliki tiga kamar dengan jumlah santri sekitar 25 orang.

Karena jumlah santrinya itu, masyarakat kemudian mengenalnya sebagai Pesantren Selawe, yang dalam bahasa Jawa berarti dua puluh lima.

“Ada tiga kamar dengan jumlah santri 25 orang. Karena itu kemudian dinamakan Pesantren Selawe,” jelas Gus Wafi.

Selain mengajarkan ilmu syariat dan tarekat, KH Abdussalam juga dikenal mengajarkan ilmu kanuragan kepada para santri.

Di tengah masyarakat, beliau juga dikenal sebagai tokoh yang memberikan pengobatan tradisional menggunakan watu plumpang, batu yang hingga kini masih tersimpan di lingkungan pesantren.

“Mbah Abdussalam juga melakukan pengobatan masyarakat menggunakan watu plumpang yang ada di pondok. Dari situ beliau semakin dikenal masyarakat,” katanya.

Asal Usul Nama Tambakberas

Sepeninggal KH Abdussalam, kepemimpinan pesantren dilanjutkan oleh putra serta menantunya, salah satunya KH Said, yang memperkuat kajian fikih dan syariat Islam.

Dari garis keturunan KH Said lahirlah KH Hasbullah, seorang ulama yang juga dikenal sebagai petani dengan kepemilikan lahan persawahan yang luas di wilayah Jombang.

Menurut Gus Wafi, pada musim panen, halaman rumah KH Hasbullah dipenuhi aktivitas penjemuran gabah dan penyimpanan hasil panen dalam jumlah besar.

Banyaknya gudang beras di kawasan tersebut kemudian melahirkan nama Tambakberas.

“Mbah Said punya anak bernama Hasbullah yang memiliki sawah sangat luas. Ketika panen dibutuhkan halaman yang besar untuk menampung beras. Dari situlah kemudian muncul nama Tambakberas,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, pesantren berkembang menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam terbesar di Indonesia dengan jumlah santri mencapai belasan ribu yang berasal dari berbagai daerah.

Modernisasi Pendidikan oleh KH Abdul Wahab Hasbullah

Perkembangan signifikan Pesantren Tambakberas terjadi ketika kepemimpinan beralih kepada KH Abdul Wahab Hasbullah, putra KH Hasbullah sekaligus salah satu pendiri Nahdlatul Ulama.

Setelah kembali dari Makkah, KH Abdul Wahab membawa gagasan pembaruan sistem pendidikan pesantren melalui penerapan sistem klasikal dan penyusunan kurikulum yang lebih terstruktur.

“Di era Mbah Wahab, pelajaran di pesantren mulai mengalami persentuhan dengan sistem modern. Sistem klasikal mulai diterapkan dan kurikulumnya ditata,” kata Gus Wafi.

Gagasan tersebut sempat mendapat penolakan dari ayahnya yang menganggap sistem klasikal merupakan model pendidikan peninggalan kolonial Belanda.

“Ini sistem Belanda, tidak boleh dimasukkan ke pesantren,” kenang Gus Wafi menirukan penolakan KH Hasbullah.

Perbedaan pandangan itu bahkan membuat KH Abdul Wahab sempat meninggalkan pesantren dan mendirikan musala sebagai tempat mengajar.

Namun, sekitar dua puluh hari kemudian, KH Hasbullah mengubah sikapnya dan justru memberikan dukungan penuh terhadap pembaruan tersebut.

“Mbah Hasbullah sudah tidak marah lagi. Justru beliau memfasilitasi dan membangunkan madrasah,” tutur Gus Wafi.

Sejak saat itu, sistem madrasah berkembang pesat di Tambakberas dan menjadi fondasi pendidikan yang terus bertahan hingga sekarang.

Jejak Pendiri Nahdlatul Ulama

Nama KH Abdul Wahab Hasbullah tidak hanya dikenal sebagai pembaru pendidikan pesantren, tetapi juga sebagai salah satu tokoh utama pendiri Nahdlatul Ulama bersama KH Hasyim Asy’ari.

Lahir di Jombang pada 31 Maret 1888, KH Abdul Wahab dikenal sebagai ulama, pejuang kemerdekaan, tokoh kebangsaan, sekaligus Rais Aam PBNU kedua.

Ia juga dikenang sebagai pencipta syair “Ya Lal Wathan”, yang hingga kini menjadi mars perjuangan warga Nahdlatul Ulama.

Dalam perjalanan intelektualnya, KH Abdul Wahab mendirikan berbagai organisasi dan forum pemikiran seperti Tashwirul Afkar, Nahdlatut Tujjar, Syubbanul Wathan, hingga menggagas Komite Hijaz pada 1926.

Komite tersebut menjadi salah satu tonggak penting yang melahirkan Nahdlatul Ulama sebagai organisasi yang memperjuangkan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia.

Dengan rekam jejak sejarah yang membentang sejak era Perang Diponegoro, menjadi pusat lahirnya gagasan pembaruan pendidikan Islam, hingga melahirkan tokoh-tokoh pendiri Nahdlatul Ulama, Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas memiliki posisi yang sangat penting dalam perjalanan organisasi.

Tak mengherankan apabila PBNU kembali mempercayakan pesantren bersejarah ini sebagai tuan rumah penyelenggaraan Muktamar Ke-35 NU pada Agustus 2026.

#OnBerita #PBNU #NahdlatulUlama #NU #MuktamarNU #Muktamar35NU #Tambakberas #PesantrenTambakberas #Jombang #KHAbdulWahabHasbullah #Pesantren #SejarahNU #IslamIndonesia

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *