Pendidikan Anak dalam Islam: Cara Mendidik dari Usia 0 hingga 21 Tahun Menurut Sayyidina Ali
6 mins read

Pendidikan Anak dalam Islam: Cara Mendidik dari Usia 0 hingga 21 Tahun Menurut Sayyidina Ali

On Berita – Jakarta – Pendidikan anak merupakan proses panjang yang tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang sama pada setiap fase usia. Setiap tahap perkembangan memiliki kebutuhan psikologis, emosional, dan sosial yang berbeda sehingga memerlukan pola pengasuhan yang disesuaikan.

Hal inilah yang menjadi sorotan pakar parenting, Ning Evi Ghozaly, saat membahas konsep pendidikan anak berdasarkan ajaran Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Dalam program Serial Cara Mendidik Anak Berdasarkan Usia, Fase Mana yang Paling Menantang? yang diproduksi NU Online dan dikutip pada Ahad (14/6/2026), Ning Evi menjelaskan bahwa pola pengasuhan anak dapat dibagi ke dalam tiga fase utama yang masing-masing berlangsung selama tujuh tahun.

Konsep tersebut dikenal dengan rumus 3 x 7 tahun, yang telah lama dikenal dalam tradisi pendidikan Islam.

“Tahapan dibagi menjadi tiga. Tujuh tahun pertama, tujuh tahun kedua, dan tujuh tahun ketiga. Rumusnya 3 x 7,” ujar Ning Evi.

Menurutnya, pembagian fase tersebut membantu orang tua memahami kebutuhan anak sesuai tingkat perkembangannya sehingga proses pendidikan tidak hanya berfokus pada disiplin, tetapi juga pada pembentukan karakter dan hubungan emosional yang sehat.

Fase Pertama: Usia 0–7 Tahun, Masa Menjadi Teladan

Ning Evi menjelaskan bahwa usia 0 hingga 7 tahun merupakan periode emas perkembangan anak.

Pada masa ini, anak memiliki kemampuan meniru yang sangat kuat.

Segala hal yang dilihat, didengar, dan dialami akan tersimpan dalam ingatan mereka dan berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian di masa depan.

“Pada usia ini sebisa mungkin orang tua menjadi model terbaik karena anak sering meniru,” katanya.

Ia menggambarkan anak usia dini sebagai “mesin fotokopi” yang sangat efektif dalam merekam perilaku orang-orang di sekitarnya.

Oleh karena itu, keteladanan orang tua menjadi faktor utama dalam proses pendidikan.

Mengacu pada nasihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib, anak pada rentang usia ini dianjurkan untuk diperlakukan layaknya seorang raja.

Bukan berarti semua keinginannya harus dituruti tanpa batas, melainkan kebutuhan fisik dan emosionalnya perlu dipenuhi dengan penuh perhatian dan kasih sayang.

Dalam menghadapi anak yang sedang mengalami tantrum, Ning Evi mengingatkan orang tua agar tidak langsung memarahi atau menghukum anak.

Sebaliknya, orang tua perlu hadir secara emosional dan berusaha memahami apa yang sedang dirasakan anak.

“Kalau anak mulai tantrum, orang tua perlu memeluknya. Jika tidak mau dipeluk, tunggu saja. Duduk sejajar dengan anak, pandangan mata sejajar, sehingga kita bisa merasakan kegelisahan dan kecemasan yang sedang dialami anak,” ujarnya.

Selain itu, masa usia dini juga menjadi periode penting untuk bermain.

Aktivitas bermain bersama orang tua berfungsi memperkuat ikatan emosional, sementara bermain dengan teman sebaya membantu anak belajar berinteraksi dan memahami lingkungan sosialnya.

“Bermain dengan orang tua akan mempererat hubungan emosional. Dengan teman-temannya, anak belajar bersosialisasi,” tambahnya.

Fase Kedua: Usia 8–14 Tahun, Masa Menanamkan Tanggung Jawab

Memasuki usia 8 hingga 14 tahun, perkembangan anak mulai memasuki tahap yang lebih kompleks.

Pada fase ini, anak mulai membentuk identitas diri, memiliki lingkungan sosial yang lebih luas, dan tidak selalu menjadikan orang tua sebagai satu-satunya sumber informasi maupun tempat berbagi cerita.

“Kadang anak lebih percaya kepada guru atau teman-temannya. Mereka mulai punya rahasia. Memang tidak semua, tetapi rata-rata seperti itu,” jelas Ning Evi.

Menurutnya, tantangan utama orang tua pada fase ini adalah mempertahankan kedekatan emosional agar tetap menjadi sosok yang dipercaya anak.

Kehadiran orang tua dalam kehidupan sehari-hari sangat penting untuk menjaga komunikasi yang terbuka.

“Sebisa mungkin sebelum tidur yang dilihat anak adalah orang tuanya, dan ketika bangun tidur yang pertama kali dilihat juga orang tuanya,” ujarnya.

Selain menjaga kedekatan, orang tua juga perlu mulai mengenalkan tanggung jawab sederhana.

Anak dapat dilibatkan dalam pekerjaan rumah tangga sesuai usia dan kemampuannya, seperti merapikan tempat tidur, mencuci piring, atau membantu tugas-tugas ringan lainnya.

Pada tahap ini pula pendidikan agama mulai ditanamkan secara lebih serius melalui pembiasaan ibadah sehari-hari.

“Terutama kewajiban agama sudah mulai dikenalkan dan dibiasakan,” katanya.

Ning Evi menilai bahwa pembiasaan tanggung jawab dan disiplin sejak usia sekolah akan membantu anak mengembangkan kemandirian serta kesiapan menghadapi tantangan yang lebih besar di masa remaja.

Fase Ketiga: Usia 15–21 Tahun, Masa Menjadi Sahabat Anak

Fase terakhir berlangsung pada usia 15 hingga 21 tahun, yaitu masa remaja hingga dewasa awal.

Dalam konsep pendidikan Sayyidina Ali, orang tua dianjurkan memperlakukan anak sebagai sahabat.

Menurut Ning Evi, pendekatan ini penting karena remaja mulai memiliki pandangan, pemikiran, dan aspirasi sendiri.

Komunikasi yang efektif pada fase ini tidak lagi berbentuk instruksi sepihak, melainkan dialog yang saling menghargai.

“Kalau kita menganggap anak sebagai sahabat, maka yang dibangun adalah dialog, bukan lagi perintah,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pada usia tersebut anak sering kali mengemukakan pendapat yang berbeda dengan orang tua.

Namun, kondisi itu tidak selalu berarti bentuk pembangkangan.

“Kadang orang tua menganggap anak membantah. Padahal sebenarnya mereka sedang belajar memperjuangkan pendapatnya,” jelasnya.

Karena itu, orang tua perlu menjadi pendengar yang baik sekaligus pendamping yang mampu memberikan arahan tanpa menghilangkan ruang berpikir kritis anak.

Pentingnya Keterampilan Hidup dan Doa Orang Tua

Selain pendidikan karakter dan agama, Ning Evi juga menyoroti pentingnya membekali anak dengan keterampilan hidup.

Ia mengutip anjuran dalam tradisi Islam mengenai tiga keterampilan yang layak dipelajari anak, yakni berkuda, berenang, dan memanah.

Menurutnya, berkuda mengajarkan fokus, keberanian, tanggung jawab, dan kemandirian.

Jika tidak memungkinkan, nilai-nilai tersebut dapat diperoleh melalui aktivitas lain yang memiliki manfaat serupa.

Sementara itu, berenang dinilai sebagai keterampilan bertahan hidup yang sangat penting.

“Berenang adalah keterampilan yang tidak bisa diwakilkan orang lain. Dalam kondisi tertentu, kita harus mampu menyelamatkan diri sendiri,” katanya.

Adapun memanah diyakini dapat melatih konsentrasi, ketepatan mengambil keputusan, serta kemampuan berpikir mandiri yang dibutuhkan dalam kehidupan modern.

Di akhir pemaparannya, Ning Evi menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan anak tidak hanya ditentukan oleh metode pengasuhan, tetapi juga oleh doa yang terus dipanjatkan orang tua.

Ia menyarankan agar orang tua membiasakan membaca Surah Al-Fatihah lima kali sehari dan menambahkan shalawat sebanyak tiga kali sebagai bentuk ikhtiar spiritual dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

“Yang terpenting adalah mendoakan mereka setiap saat karena yang menggerakkan hati manusia hanyalah Allah,” pungkasnya.

Konsep pendidikan berbasis tahapan usia yang disampaikan Ning Evi menunjukkan bahwa pengasuhan bukan sekadar mengarahkan anak, tetapi juga memahami kebutuhan mereka di setiap fase kehidupan.

Dengan keteladanan, kedekatan emosional, dialog yang sehat, serta doa yang konsisten, orang tua diharapkan mampu mendampingi anak tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, mandiri, dan berakhlak baik.

#OnBerita #ParentingIslami #PendidikanAnak #SayyidinaAli #NingEviGhozaly #PolaAsuhAnak #TipsParenting #KeluargaMuslim #PendidikanKarakter #AnakSholeh #NUOnline #ParentingIndonesia #PengasuhanAnak #IslamRahmatanLilAlamin #BeritaPendidikan

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *