Gus Yahya Resmi Nyatakan Maju Lagi di Muktamar Ke-35 NU, Ingin Tuntaskan Program Strategis
On Berita – Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya menyatakan kesiapannya untuk kembali mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27–31 Agustus 2026.
Keputusan tersebut disampaikan Gus Yahya sebagai bentuk komitmennya untuk melanjutkan berbagai program strategis yang telah dirintis selama masa kepemimpinannya sejak terpilih pada Muktamar Ke-34 NU tahun 2021.
Menurutnya, sejumlah agenda besar organisasi masih memerlukan kesinambungan agar manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal oleh warga Nahdlatul Ulama.
“Saya memang hendak mencalonkan lagi karena, pertama, saya ingin menyelesaikan agenda-agenda yang sejak awal sudah saya bangun. Sekarang saya juga lebih mengerti bagaimana meningkatkan capaian-capaian yang sudah berhasil diperoleh,” kata Gus Yahya dalam konferensi pers di Jakarta beberapa waktu lalu.
Salah satu fokus utama yang ingin terus dikembangkan adalah transformasi digital tata kelola organisasi.
Program tersebut dinilai menjadi fondasi penting dalam memperkuat konsolidasi organisasi NU yang memiliki struktur kepengurusan hingga tingkat desa.
Menurut Gus Yahya, sistem administrasi digital yang dikembangkan PBNU kini telah diterapkan di tingkat Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan mulai menjangkau Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU).
“Sudah dinikmati sampai ke tingkat cabang dan sebagian MWC, yaitu kepengurusan di tingkat kecamatan. Sudah ada sekitar 900 dari lebih 7.000 MWC yang sudah masuk ke dalam sistem,” ujarnya.
Ia optimistis seluruh struktur organisasi, mulai dari tingkat wilayah, cabang, hingga kecamatan dapat terintegrasi dalam satu sistem digital dalam waktu kurang dari satu tahun apabila program tersebut terus berjalan sesuai target.
Bagi PBNU, digitalisasi tidak hanya bertujuan mempercepat administrasi organisasi, tetapi juga meningkatkan kualitas pelayanan kepada warga NU di seluruh Indonesia, memperkuat koordinasi antarpengurus, serta menghadirkan tata kelola organisasi yang lebih modern dan akuntabel.
Bursa Calon Ketua Umum Mulai Menghangat
Menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35, sejumlah nama juga mulai disebut sebagai calon potensial Ketua Umum PBNU.
Selain Gus Yahya, beberapa tokoh Nahdlatul Ulama yang masuk dalam bursa antara lain Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo KH Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, Pengasuh Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, hingga mantan Ketua Umum PB PMII Gus Hery Haryanto Azumi.
Meskipun sejumlah nama mulai bermunculan, proses pemilihan Ketua Umum PBNU nantinya tetap akan mengikuti mekanisme organisasi sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama melalui forum Muktamar.
Kiprah Gus Yahya di NU dan Tingkat Internasional
KH Yahya Cholil Staquf dikenal sebagai salah satu tokoh NU yang memiliki pengalaman panjang di bidang organisasi, pemerintahan, maupun diplomasi internasional.
Ia merupakan putra ulama kharismatik KH Muhammad Cholil Bisri dan cucu KH Bisri Mustofa, penyusun Tafsir Al-Ibriz.
Latar belakang pendidikan pesantrennya ditempuh di Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, kemudian melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta di bawah asuhan KH Ali Ma’shum. Ia juga pernah mengenyam pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kariernya di tingkat nasional semakin dikenal ketika dipercaya menjadi Juru Bicara Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Selanjutnya, pada 31 Mei 2018, Presiden Joko Widodo melantiknya sebagai Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Di lingkungan PBNU, Gus Yahya pernah menjabat sebagai Katib Aam PBNU periode 2015–2021 sebelum akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar Ke-34 di Lampung. Dalam pemilihan tersebut, ia memperoleh 337 suara dari total 548 suara sah, mengungguli kandidat lainnya.
Selain aktif di dalam negeri, Gus Yahya juga dikenal sebagai tokoh yang konsisten mengembangkan dialog lintas agama, diplomasi perdamaian, serta memperkenalkan gagasan Islam Nusantara di berbagai forum internasional. Kiprahnya tersebut membuat namanya beberapa kali masuk dalam daftar The 500 Most Influential Muslims, yang memuat tokoh-tokoh Muslim berpengaruh di dunia.
Dengan semakin dekatnya pelaksanaan Muktamar Ke-35 NU, dinamika pemilihan Ketua Umum diperkirakan akan terus berkembang.
Forum lima tahunan tersebut tidak hanya menjadi ajang memilih kepemimpinan baru, tetapi juga menentukan arah kebijakan organisasi Islam terbesar di Indonesia dalam menghadapi tantangan sosial, pendidikan, ekonomi, hingga transformasi digital pada masa mendatang.
#OnBerita #PBNU #NahdlatulUlama #MuktamarNU2026 #GusYahya #NU #Muktamar35NU #IslamIndonesia #OrganisasiIslam #BeritaNU #TransformasiDigitalNU
Penulis : Rizky Saptanugraha
Editor : Ali Ramadhan
