Maju sebagai Calon Ketum PBNU, KH Zulfa Mustofa Tegaskan Pemimpin NU Harus Faqih dan Peka terhadap Kebutuhan Umat
5 mins read

Maju sebagai Calon Ketum PBNU, KH Zulfa Mustofa Tegaskan Pemimpin NU Harus Faqih dan Peka terhadap Kebutuhan Umat

On Berita – Jakarta – Dinamika menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang akan digelar pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, semakin menghangat.

Sejumlah nama mulai mencuat sebagai kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), salah satunya Wakil Ketua Umum PBNU, KH Zulfa Mustofa.

Kiai Zulfa menyatakan kesiapannya untuk maju dalam kontestasi kepemimpinan PBNU apabila memperoleh amanah dan dukungan dari struktur organisasi, khususnya Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) serta Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU).

Baginya, pencalonan sebagai Ketua Umum PBNU bukan sekadar persoalan jabatan, melainkan bentuk pengabdian kepada jam’iyah apabila memang dikehendaki oleh warga Nahdlatul Ulama.

“Kalau aspirasi dari cabang dan wilayah meminta, itu sangat kuat. Saya tidak bisa menolak,” ujar Kiai Zulfa saat menghadiri acara Bedah Ithafu Ummati Al-Muqtafa di Aula Masjid Sunda Kelapa, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (10/7/2026) malam.

Selain KH Zulfa Mustofa, sejumlah tokoh lain juga masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.

Di antaranya Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar KH Abdussalam Shohib (Gus Salam), Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), hingga mantan Ketua Umum PB PMII Gus Hery Haryanto Azumi.

PBNU Jadi Tempat Menempa Keilmuan

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Zulfa mengenang perjalanan panjangnya di lingkungan PBNU.

Sejak bergabung pada 2010, ia telah mengemban berbagai amanah, mulai dari Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU, Katib Syuriyah PBNU, hingga dipercaya menjabat Wakil Ketua Umum PBNU.

Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi proses pembelajaran yang membentuk karakter kepemimpinan dan tradisi intelektualnya.

“PBNU adalah kawah candradimuka saya. Di sanalah saya belajar ushul fiqih, belajar ketelitian menulis, dan belajar cara berpikir para masyayikh,” ungkapnya.

Ia menilai organisasi sebesar Nahdlatul Ulama membutuhkan kepemimpinan yang tidak hanya kuat secara manajerial, tetapi juga memiliki kedalaman ilmu agama yang berpadu dengan kemampuan membaca realitas sosial masyarakat.

Pemimpin NU Harus Faqih dan Memahami Kemaslahatan Umat

Kiai Zulfa menekankan bahwa seorang pengurus Nahdlatul Ulama idealnya memiliki dua kapasitas yang berjalan beriringan.

“Seorang pengurus NU harus menjadi faqihun bi umuri dinihi sekaligus khabirun bi mashalihi khalqihi,” katanya.

Menurutnya, pemimpin NU dituntut memahami persoalan agama secara komprehensif sekaligus memiliki kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat, dinamika sosial, serta berbagai tantangan yang dihadapi umat pada era modern.

Selain itu, ia juga mengajak seluruh kader untuk kembali menguatkan tradisi keilmuan pesantren, memperbanyak kajian kitab klasik, memperkuat budaya literasi, dan menjaga tradisi intelektual yang selama ini menjadi identitas Nahdlatul Ulama.

Soroti Pentingnya Fokus dalam Mengabdi

Dalam pandangannya mengenai arah kepemimpinan organisasi, Kiai Zulfa juga menyoroti pentingnya pembagian peran di lingkungan NU.

Ia menilai kader-kader yang saat ini telah mendapat amanah sebagai pejabat pemerintahan maupun pengurus partai politik sebaiknya tetap fokus menjalankan tugas masing-masing agar setiap amanah dapat dilaksanakan secara maksimal.

“Yang sudah di partai biarkan di partai. Yang sudah jadi menteri biarkan di kementerian. Tidak perlu dipaksa kemudian harus memimpin NU,” ujarnya.

Pernyataan tersebut dipandang sebagai gagasan mengenai pentingnya menghadirkan kepemimpinan organisasi yang memiliki ruang lebih luas untuk mengabdikan waktu dan energi secara penuh kepada jam’iyah Nahdlatul Ulama.

Dukungan dari Berbagai Daerah

Dukungan terhadap pencalonan KH Zulfa Mustofa juga datang dari Ketua Lembaga Dakwah PBNU KH Abdullah Syamsul Arifin atau Gus Aab.

Menurutnya, dalam beberapa bulan terakhir banyak pengurus NU di tingkat wilayah maupun cabang yang menyampaikan aspirasi agar Kiai Zulfa ikut berkompetisi dalam Muktamar Ke-35.

“Beberapa bulan terakhir banyak pengurus wilayah dan pengurus cabang yang datang langsung kepada Kiai Zulfa dan meminta beliau ikut mengambil bagian dalam proses suksesi kepemimpinan di Nahdlatul Ulama,” ujar Gus Aab.

Kiprah Kiai Zulfa Mustofa

KH Zulfa Mustofa lahir di Jakarta pada 7 Agustus 1977 dan dikenal sebagai ulama yang memiliki perhatian besar terhadap kajian kitab kuning, ushul fiqih, serta sastra Arab.

Ia merupakan cicit ulama besar Syekh Nawawi al-Bantani sekaligus keponakan Wakil Presiden ke-13 RI KH Ma’ruf Amin.

Pendidikan formalnya dimulai di SD Al-Jihad Tanjung Priok, kemudian melanjutkan pendidikan di MTs Salafiyah Simbangkulon serta Pondok Pesantren Mathali’ul Falah Kajen, Pati, di bawah bimbingan KH MA Sahal Mahfudh dan KH Rifai Nasuha.

Setelah ayahnya wafat pada 1996, Kiai Zulfa memilih meneruskan perjuangan keluarga dengan aktif berdakwah.

Pada usia 19 tahun ia telah membina sekitar 15 majelis taklim, sebelum akhirnya mendirikan Majelis Taklim Darul Musthofa pada tahun 2000 sebagai pusat pendidikan dan dakwah masyarakat.

Di bidang akademik, ia juga dikenal produktif menulis berbagai karya keislaman, di antaranya Ithafu Ummati Al-Muqtafa serta Al-Fatwa wa Ma La Yanbaghi lil Muta’afqih Jahlih, yang membahas fiqih, ushul fiqih, metodologi fatwa, serta pemikiran Syekh Nawawi al-Bantani.

Menjelang Muktamar Ke-35 NU, dinamika pemilihan Ketua Umum diperkirakan akan semakin berkembang seiring munculnya berbagai aspirasi dari daerah.

Forum lima tahunan tersebut akan menjadi momentum penting dalam menentukan arah kepemimpinan Nahdlatul Ulama untuk periode mendatang.

#OnBerita #PBNU #NahdlatulUlama #MuktamarNU2026 #KHZulfaMustofa #KetuaUmumPBNU #NU #Muktamar35NU #IslamIndonesia #Pesantren #BeritaNU

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *