Kontroversi Spanduk Malvinas Usai Argentina Kalahkan Inggris, Ini Dia Asal-usul Sengketa Falkland
On Berita – Jakarta – Rivalitas antara Argentina dan Inggris tidak hanya berlangsung di lapangan hijau, tetapi juga memiliki akar sejarah panjang yang berkaitan dengan sengketa wilayah Kepulauan Falkland atau yang oleh Argentina disebut Islas Malvinas.
Ketegangan itu kembali menjadi sorotan setelah pertandingan Argentina melawan Inggris pada ajang Piala Dunia 2026, ketika sejumlah suporter Argentina membentangkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas Son Argentinas” atau “Malvinas adalah milik Argentina.”
Aksi tersebut memicu beragam reaksi di media sosial maupun media internasional.
Bagi sebagian masyarakat Argentina, slogan tersebut merupakan simbol perjuangan mempertahankan klaim historis atas Kepulauan Falkland.
Sementara bagi Inggris, wilayah tersebut merupakan British Overseas Territory yang secara sah berada di bawah administrasi London berdasarkan prinsip hak menentukan nasib sendiri (self-determination) penduduknya.
Kontroversi yang muncul di tengah pertandingan sepak bola kembali mengingatkan dunia bahwa sengketa Falkland belum benar-benar berakhir, meski perang antara kedua negara telah berlalu lebih dari empat dekade.
Apa Itu Kepulauan Falkland?
Kepulauan Falkland merupakan gugusan lebih dari 700 pulau yang terletak di Samudra Atlantik Selatan, sekitar 480 kilometer dari pesisir Argentina.
Wilayah ini hanya dihuni sekitar 3.500 penduduk, namun memiliki posisi yang sangat strategis dari sisi geopolitik maupun ekonomi.
Selain menjadi jalur pelayaran internasional, kawasan ini juga diyakini memiliki potensi sumber daya alam berupa perikanan, cadangan minyak dan gas, serta akses menuju kawasan Antarktika.
Faktor-faktor tersebut menjadikan Falkland memiliki nilai strategis yang jauh lebih besar dibanding jumlah penduduknya.
Meski secara geografis lebih dekat dengan Argentina, sejak tahun 1833 kepulauan tersebut berada di bawah pemerintahan Inggris.
Mengapa Falkland Diperebutkan?
Sengketa Falkland bermula dari perbedaan pandangan mengenai sejarah kepemilikan wilayah tersebut.
- Argentina Mengklaim Sebagai Wilayah Warisan Spanyol
Argentina berpendapat bahwa setelah memperoleh kemerdekaan dari Spanyol pada tahun 1816, seluruh wilayah bekas koloni Spanyol di kawasan tersebut, termasuk Kepulauan Malvinas, secara otomatis menjadi bagian dari wilayah Argentina.
Pemerintah Argentina menilai pengambilalihan Falkland oleh Inggris pada 1833 merupakan tindakan pendudukan yang melanggar kedaulatan negaranya.
Karena alasan itu, hampir setiap pemerintahan Argentina terus memasukkan isu Malvinas sebagai bagian dari kebijakan luar negeri dan identitas nasional.
- Inggris Berdasarkan Administrasi dan Hak Penduduk
Sebaliknya, Inggris berpendapat bahwa Falkland telah berada di bawah administrasinya selama hampir dua abad.
Pemerintah Inggris juga menekankan prinsip hak menentukan nasib sendiri sebagaimana diatur dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Dalam referendum yang diselenggarakan pada 2013, sekitar 99,8 persen penduduk Falkland memilih tetap menjadi bagian dari wilayah Inggris.
Hasil tersebut hingga kini menjadi dasar utama London mempertahankan administrasi atas kepulauan tersebut.
Perang Falkland Tahun 1982
Puncak sengketa terjadi pada 2 April 1982, ketika militer Argentina mendarat dan mengambil alih Kepulauan Falkland.
Sebagai respons, pemerintah Inggris yang saat itu dipimpin Perdana Menteri Margaret Thatcher mengirim armada militer ke Atlantik Selatan.
Perang berlangsung selama sekitar 74 hari dan menelan korban lebih dari 900 jiwa, terdiri dari sekitar 649 tentara Argentina, 255 personel militer Inggris, serta tiga warga sipil Falkland.
Pada 14 Juni 1982, Argentina menyerah dan Inggris kembali menguasai wilayah tersebut.
Meski konflik bersenjata telah berakhir, sengketa diplomatik tetap berlangsung hingga sekarang.
Upaya Penyelesaian di Forum Internasional
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak lama mendorong Inggris dan Argentina untuk menyelesaikan sengketa melalui dialog damai.
Beberapa resolusi Majelis Umum PBB menyerukan kedua negara agar melanjutkan perundingan mengenai status kepulauan tersebut.
Namun hingga kini belum tercapai kesepakatan karena kedua pihak tetap mempertahankan dasar hukum masing-masing.
Argentina mengedepankan prinsip integritas wilayah, sedangkan Inggris menekankan hak menentukan nasib sendiri masyarakat Falkland.
Mengapa Isu Ini Masih Sensitif?
Bagi masyarakat Argentina, Malvinas bukan sekadar wilayah, tetapi bagian dari identitas nasional yang diajarkan sejak pendidikan dasar.
Hampir setiap 2 April, Argentina memperingati Hari Veteran dan Korban Perang Malvinas sebagai bentuk penghormatan kepada para prajurit yang gugur.
Di sisi lain, warga Falkland merasa memiliki hubungan politik, budaya, dan sosial yang kuat dengan Inggris sehingga menolak bergabung dengan Argentina.
Perbedaan pandangan tersebut membuat isu Falkland kerap muncul dalam berbagai momentum internasional, termasuk di ajang olahraga seperti sepak bola.
Kontroversi spanduk yang muncul setelah pertandingan Argentina melawan Inggris di Piala Dunia 2026 menunjukkan bahwa sengketa Falkland masih memiliki dimensi emosional dan simbolik bagi kedua negara.
Meski hubungan diplomatik tetap berjalan, klaim kedaulatan atas kepulauan di Atlantik Selatan tersebut hingga kini belum menemukan titik temu.
Karena itu, penyelesaian sengketa Falkland masih menjadi salah satu isu geopolitik yang terus diperhatikan komunitas internasional.
#OnBerita #Falkland #Malvinas #Argentina #Inggris #PialaDunia2026 #Geopolitik #SejarahDunia #KonflikInternasional #HubunganInternasional #BeritaDunia #Edukasi
Penulis : Rizky Saptanugraha
Editor : Ali Ramadhan
