Harga Minyak Dunia Turun, DPR Nilai Ada Peluang Harga Pertamax Kembali Disesuaikan
OnBerita – Jakarta – Penurunan harga minyak mentah dunia dalam beberapa pekan terakhir membuka peluang bagi penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi di dalam negeri.
Sejumlah anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menilai kondisi tersebut dapat menjadi momentum bagi pemerintah dan PT Pertamina (Persero) untuk mengevaluasi harga jual Pertamax agar lebih sesuai dengan perkembangan pasar global.
Dalam perdagangan internasional, harga minyak mentah mengalami tren penurunan setelah meredanya kekhawatiran terhadap pasokan energi global serta meningkatnya produksi dari sejumlah negara produsen minyak.
Kondisi tersebut turut mempengaruhi perhitungan harga BBM di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Anggota Komisi VII DPR RI yang membidangi energi menilai bahwa mekanisme penetapan harga BBM non-subsidi pada dasarnya mengikuti sejumlah variabel, termasuk harga minyak mentah dunia dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
“Jika tren penurunan harga minyak dunia terus berlanjut dan faktor-faktor lainnya mendukung, tentu ada peluang harga Pertamax kembali disesuaikan. Yang terpenting adalah pemerintah dan Pertamina melakukan evaluasi secara objektif dan transparan,” ujarnya.
Menurutnya, masyarakat berharap penurunan harga energi di pasar global juga dapat memberikan dampak positif terhadap biaya hidup dan aktivitas ekonomi di dalam negeri.
Oleh karena itu, setiap perubahan harga BBM perlu mempertimbangkan kondisi pasar sekaligus daya beli masyarakat.
“Ketika harga minyak dunia naik, masyarakat menerima adanya penyesuaian harga. Maka ketika harga minyak dunia turun, publik juga berharap ada penyesuaian yang mencerminkan kondisi tersebut,” katanya.
Meski demikian, DPR mengingatkan bahwa penentuan harga BBM tidak hanya dipengaruhi oleh harga minyak mentah dunia.
Faktor lain seperti kurs rupiah, biaya distribusi, biaya pengolahan, serta kondisi fiskal perusahaan juga menjadi bagian dari perhitungan yang harus diperhatikan.
Pengamat energi, Ahmad Rizki, menilai bahwa peluang penurunan harga Pertamax memang terbuka apabila tren harga minyak dunia dapat bertahan dalam jangka waktu yang lebih panjang.
“Penyesuaian harga BBM biasanya tidak dilakukan hanya berdasarkan pergerakan harga harian. Yang dilihat adalah tren dalam periode tertentu agar kebijakan yang diambil tetap stabil dan tidak menimbulkan gejolak di pasar,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa kebijakan harga energi yang responsif terhadap kondisi pasar dapat meningkatkan kepercayaan publik sekaligus memberikan kepastian bagi dunia usaha.
Sementara itu, hingga saat ini pemerintah maupun PT Pertamina belum mengumumkan adanya perubahan resmi terhadap harga Pertamax.
Namun, perkembangan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah diperkirakan akan terus menjadi perhatian dalam evaluasi harga BBM non-subsidi ke depan.
Turunnya harga minyak dunia menjadi sinyal positif bagi pasar energi global.
Masyarakat kini menantikan langkah pemerintah dan Pertamina dalam menentukan kebijakan harga yang tetap memperhatikan keseimbangan antara kondisi pasar, keberlanjutan usaha, dan kepentingan konsumen.
Penulis : Mohammad Hanif aulia
Editor : Ali Ramadhan
