Diplomasi Gus Yahya Menguat, Diplomatik PBNU Sambangi Dubes China
On Berita – Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, melanjutkan rangkaian safari diplomatiknya dengan mengunjungi Duta Besar Republik Rakyat China untuk Indonesia, Wang Lutong.
Pertemuan berlangsung di Kantor Kedutaan Besar China di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada Jumat (17/4/2026).

Dalam pertemuan tersebut, berbagai isu strategis dibahas, terutama terkait dinamika geopolitik global dan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Ketua PBNU, Ulil Abshar Abdalla, menjelaskan bahwa salah satu fokus diskusi adalah lemahnya penegakan hukum internasional yang dinilai masih kerap diabaikan oleh negara-negara besar.
Ia juga mengungkapkan bahwa dalam dialog tersebut, pihak China menyampaikan pandangannya terkait tekanan geopolitik yang dihadapi sejumlah negara.
“Bahkan beliau juga mengatakan China sendiri menjadi sasaran tekanan dari Amerika Serikat sejak lama. Indonesia pun tidak lepas dari tekanan tersebut,” kata Gus Ulil usai pertemuan.
Menurutnya, kunjungan ini merupakan bagian dari upaya Gus Yahya untuk menyuarakan keprihatinan atas konflik yang masih berlangsung, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran.

Selain itu, pertemuan ini juga dimanfaatkan untuk menggali pandangan resmi dari China terkait perkembangan situasi global.
“Sekaligus, Gus Yahya ingin menggali pandangan dan perspektif resmi dari China melalui duta besarnya di Indonesia,” ujarnya.
Tak hanya itu, diskusi juga menyinggung isu kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Amerika Serikat, termasuk kabar mengenai izin lintas udara bagi pesawat militer AS di wilayah Indonesia.
“Tadi juga dibicarakan soal kerja sama pertahanan Amerika dengan Indonesia, termasuk isu izin terbang bagi pesawat-pesawat Amerika melintasi wilayah udara Indonesia,” lanjut Gus Ulil.
Ia berharap, safari diplomatik yang dilakukan Gus Yahya dapat menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat Indonesia, khususnya warga Nahdlatul Ulama, dengan negara-negara sahabat.
Melalui jalur ini, aspirasi publik diharapkan dapat tersampaikan secara lebih luas di tingkat internasional.
“Kita berharap aspirasi warga NU, minimal warga Nahdliyin, dan juga bangsa Indonesia dapat diketahui secara resmi oleh negara-negara sahabat melalui jalur diplomasi ini,” jelasnya.
Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan terbuka.
Diskusi intensif selama hampir satu jam memperlihatkan adanya saling pengertian dan pertukaran pandangan yang konstruktif antara kedua pihak.
“Dubesnya sangat menghargai pandangan Gus Yahya. Diskusinya terasa nyambung sebagai sesama sahabat,” tambah Gus Ulil.

Ke depan, agenda safari diplomatik ini akan terus berlanjut. Gus Yahya dijadwalkan akan mengunjungi Duta Besar Rusia, Sergei Gennadievich Tolchenov, serta Duta Besar Pakistan, Zahid Hafeez Chaudhri.
Langkah ini dinilai sebagai upaya memperluas jangkauan dialog dengan negara-negara yang memiliki peran penting dalam dinamika global saat ini.
Sebelumnya, Gus Yahya juga telah melakukan kunjungan ke sejumlah perwakilan negara, seperti Arab Saudi, Turki, Iran, dan Amerika Serikat.
Rangkaian kunjungan ini menunjukkan komitmen PBNU dalam mendorong dialog internasional dan memperkuat peran diplomasi berbasis masyarakat sipil di tengah ketegangan global.
#OnBerita #GusYahya #PBNU #DiplomasiGlobal #KonflikIran #ASvsIran #Geopolitik #ChinaIndonesia #HubunganInternasional #PerdamaianDunia #IsuGlobal
Penulis : Rizky Saptanugraha
Editor : Ali Ramadhan
