Gus Yahya Ungkap Ketatnya Standar Keulamaan pada Awal Pendirian NU
2 mins read

Gus Yahya Ungkap Ketatnya Standar Keulamaan pada Awal Pendirian NU

ONBERITA, Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), mengungkapkan bahwa para pendiri Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan standar keulamaan yang sangat ketat pada masa awal berdirinya organisasi.

Menurutnya, syarat tersebut diterapkan untuk menjaga kualitas kepemimpinan keagamaan sekaligus memastikan otoritas keilmuan para ulama yang menjadi penggerak organisasi.

Gus Yahya menjelaskan hal tersebut saat membuka Acara Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) Angkatan ke-2 Pengurus Cabang (PCNU) Kabupaten Rembang di Hotel Pollos, Rembang, Jawa Tengah, pada Rabu (15/7/2026).

“Orang yang dipanggil oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari itu menunjuk kepada karakteristik yang jelas dan ketat karena yang diundang itu adalah para ulama. Ini berarti mereka yang terdidik secara khusus.

Tidak mungkin tidak terdidik secara khusus, enggak mungkin menjadi ulama kalau tidak dididik secara khusus,” jelasnya.

Gus Yahya menceritakan pengalaman yang pernah diceritakan oleh Kiai Muchith Muzadi, kakak kandung KH Hasyim Muzadi.

Menurutnya, saat masih menjadi santri senior di Pesantren Tebuireng, Kiai Muchith telah dipercaya menjadi tangan kanan KH Abdul Karim Hasyim untuk menyiapkan berbagai keperluan yang berkaitan dengan tugas-tugas kepemimpinan NU.

Namun, kata Gus Yahya, meski telah memegang berbagai tanggung jawab penting, Kiai Muchith masih belum dapat menjadi anggota NU.

“itu belum bisa menjadi anggota. Jadi tidak mudah. Ini berarti bahwa memang NU itu pada dasarnya didirikan sebagai organisasi kader,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa organisasi sebesar NU tidak mungkin dibiarkan berjalan tanpa tata kelola kepengurusan yang jelas.

Gus Yahya menekankan, sejak awal dibentuk struktur kepengurusan yang berfungsi mengelola keseluruhan organisasi dan jamaah NU yang terus berkembang.

“Tidak mungkin organisasi atau kumpulan orang ini dibiarkan gelundung begitu saja tanpa ada pengelolaan. Harus dikelola,” tegasnya.

Setelah berdiri lebih dari satu abad, Gus Yahya menilai masih terdapat satu karakter yang menonjol dalam tubuh NU yaitu lebih banyak tampil sebagai kumpulan warga yang berpusat di sekitar tokoh-tokoh besar dibandingkan sebagai organisasi yang bekerja secara terstruktur melalui kelompok-kelompok strategis yang terorganisasi.

#GusYahya #NahdlatulUlama #NU #MunasNU #KonbesNU #Keulamaan #Pesantren #BeritaNasional #ONBERITA

Penulis: Woko Baruno

Editor: Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *