Telegram Hadirkan 11 Fitur Baru, Komdigi Tetapkan Risiko Tinggi bagi Anak
3 mins read

Telegram Hadirkan 11 Fitur Baru, Komdigi Tetapkan Risiko Tinggi bagi Anak

On Berita – Jakarta – Telegram menghadirkan pembaruan besar dengan 11 fitur baru yang ditujukan untuk meningkatkan pengalaman pengguna, mulai dari rekomendasi kanal, fitur cerita, personalisasi tampilan, hingga transkripsi pesan suara.

Pembaruan tersebut hadir ketika Telegram juga masuk dalam daftar layanan digital yang dinilai memiliki profil risiko tinggi bagi anak di Indonesia.

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memasukkan Telegram dalam kategori tersebut berdasarkan proses penilaian dan verifikasi terhadap layanan digital yang beroperasi di Indonesia.

Salah satu fitur baru yang diperkenalkan adalah Similar Channels. Fitur ini membantu pengguna menemukan kanal publik lain dengan topik yang memiliki kemiripan.

Telegram juga menghadirkan Story Reposts, yang memungkinkan pengguna membagikan kembali cerita dari teman maupun kanal tertentu ke cerita pribadi.

Telegram turut menambahkan kemampuan menyisipkan pesan video pada cerita. Pengguna dapat menyesuaikan ukuran serta posisi video ketika membuat cerita.

Selain itu, tersedia pula pengaturan warna profil dan latar belakang percakapan yang dapat ditampilkan secara timbal balik oleh pihak-pihak yang berkomunikasi.

Bagi pengelola kanal, pembaruan ini menghadirkan statistik cerita serta opsi reaksi khusus. Telegram juga memperluas fitur transkripsi pesan suara atau voice-to-text.

Pengguna reguler mendapatkan akses terbatas, sedangkan pelanggan Premium memperoleh akses yang lebih luas.

Pengembangan fitur juga menyasar grup dan komunitas.

Sistem Boost memungkinkan anggota meningkatkan level grup sehingga sejumlah kemampuan tambahan dapat dibuka, termasuk cerita grup, tampilan logo, status emoji, hingga berbagai fasilitas komunitas.

Pembaruan Telegram tersebut datang setelah layanan aplikasi sempat dilaporkan mengalami gangguan pada Selasa, 8 September 2026.

Berdasarkan laporan pengguna pada Downdetector, lebih dari 1.000 laporan gangguan tercatat pada periode tersebut, termasuk masalah ketika masuk ke akun maupun mengirim pesan.

Di Indonesia, pembaruan Telegram berlangsung bersamaan dengan penerapan kebijakan pelindungan anak di ruang digital.

Komdigi menyatakan Telegram termasuk layanan dengan profil risiko tinggi bagi anak berdasarkan penilaian terhadap produk, fitur, dan layanan digital.

Hingga 6 September 2026, sebanyak 252 produk, fitur, dan layanan dari 94 Penyelenggara Sistem Elektronik telah menyelesaikan penilaian mandiri.

Dari jumlah tersebut, 60 layanan telah diverifikasi Komdigi, terdiri atas 38 layanan berprofil risiko rendah dan 22 layanan berprofil risiko tinggi.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menjelaskan bahwa profil risiko tinggi memiliki konsekuensi terhadap akses akun anak.

“Profil risiko tinggi berarti dilarang memberikan akses kepada akun anak di bawah 16 tahun atau tidak aman bagi anak,” kata Meutya.

Ia menegaskan, layanan yang masuk kategori tersebut harus menerapkan langkah perlindungan sesuai ketentuan yang berlaku.

Kebijakan itu merupakan bagian dari implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak atau PP Tunas.

Pemerintah mulai menerapkan aturan tersebut pada 28 Maret 2026.

PP Tunas mewajibkan platform digital melakukan pembatasan akses anak sesuai ketentuan usia serta memperkuat perlindungan data pribadi anak.

Dengan demikian, Telegram kini menghadapi dua perkembangan sekaligus di Indonesia, di satu sisi terus memperluas fitur dan kemampuan platform, sementara di sisi lain harus menyesuaikan layanan dengan ketentuan pelindungan anak yang ditetapkan pemerintah.

#OnBerita #Telegram #TelegramUpdate #FiturTelegram #Komdigi #PPTunas #PerlindunganAnak #Teknologi #Digital #MediaSosial #BeritaTeknologi

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *