Sejumlah Tokoh PBNU Hadiri Peluncuran Buku Terbaru KH Ma’ruf Amin, Bahas Arah Gerakan Nahdlatul Ulama
3 mins read

Sejumlah Tokoh PBNU Hadiri Peluncuran Buku Terbaru KH Ma’ruf Amin, Bahas Arah Gerakan Nahdlatul Ulama

On Berita – Jakarta – Sejumlah tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang disebut masuk dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menghadiri peluncuran buku terbaru Mustasyar PBNU, Prof. KH Ma’ruf Amin, berjudul Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdhiyyah dalam Perspektif KH Ma’ruf Amin. Acara tersebut berlangsung di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, pada Rabu (5/8/2026) malam.

Beberapa tokoh yang hadir di antaranya Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Menteri Agama KH Nasaruddin Umar, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Marsudi Syuhud, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), serta Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon KH Imam Jazuli.

Dalam sambutannya, KH Ma’ruf Amin mengapresiasi kehadiran para tokoh NU tersebut.

Ia juga menyinggung secara ringan banyaknya figur yang disebut akan maju dalam pemilihan Ketua Umum PBNU pada Muktamar Ke-35 NU.

“Selain Ketua Umum, juga hadir banyak calon ketua umum. Ada yang sudah diumumkan, ada yang sudah deklarasi, dan ada yang belum deklarasi. Saya ingin menyampaikan terima kasih,” ujar KH Ma’ruf Amin.

Buku yang diluncurkan mengupas tiga fondasi utama gerakan Nahdlatul Ulama, yakni fikroh (cara berpikir), manhaj (metode), dan harakah (gerakan).

Menurut KH Ma’ruf, ketiga aspek tersebut merupakan pedoman penting agar warga NU memahami organisasi secara utuh, bukan hanya sebatas menjalankan tradisi keagamaan atau amaliyah.

Dalam pengantarnya, Wakil Presiden RI ke-13 itu menegaskan bahwa NU merupakan sebuah sistem perjuangan yang memiliki arah dan pedoman yang jelas.

“NU adalah sistem yang hidup. Jangan dibiarkan NU itu dilepas tanpa arah, tanpa irsyadat (petunjuk), tanpa taujihat (bimbingan),” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga khittah Nahdlatul Ulama, yakni garis perjuangan yang diwariskan para pendiri organisasi. Menurutnya, setiap langkah warga NU hendaknya berpijak pada nilai-nilai yang telah dirumuskan oleh para muassis dalam berpikir, bersikap, maupun bertindak.

KH Ma’ruf menjelaskan bahwa gerakan NU dijalankan melalui tiga fungsi utama, yaitu himayah (menjaga), ishlah (memperbaiki), dan taqwiyah (menguatkan).

Ketiga fungsi tersebut diterapkan dalam bidang keagamaan, kebangsaan, dan ekonomi sebagai bagian dari kontribusi NU bagi masyarakat.

Selain membahas aspek keagamaan, buku tersebut juga memberikan perhatian terhadap penguatan ekonomi warga Nahdliyin.

KH Ma’ruf mengulas sejarah berdirinya Nahdlatut Tujjar pada 1918 sebagai fondasi kemandirian ekonomi warga NU, sekaligus menyoroti perkembangan Gerakan Koin NU yang dinilai berhasil membangun semangat gotong royong ekonomi melalui partisipasi masyarakat.

Menurutnya, kontribusi kecil yang dilakukan secara kolektif mampu menjadi kekuatan besar dalam membangun kemandirian organisasi dan kesejahteraan umat.

Ia juga memperkenalkan konsep tasyri’iyyah al-iqtishadiyyah, yakni penerapan prinsip-prinsip fikih muamalah dalam regulasi dan kebijakan ekonomi syariah untuk menciptakan keadilan distributif.

Di akhir pemaparannya, KH Ma’ruf mengajak seluruh warga Nahdlatul Ulama untuk berorganisasi secara ‘alā baṣīrah, yakni berdasarkan pemahaman, keyakinan, dan argumentasi yang kuat.

Ia menegaskan bahwa semangat hubbul wathan atau cinta tanah air harus diwujudkan melalui kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan negara.

#OnBerita #PBNU #NahdlatulUlama #NU #KHMarufAmin #GusYahya #MuktamarNU #BukuBaru #FikrohManhajHarakah #IslamIndonesia #Pesantren #Kiai #BeritaNasional

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *