Gus Yahya Paparkan Tiga Tugas Utama Kiai Pesantren Menurut Muqaddimah Qanun Asasi KH Hasyim Asy’ari
2 mins read

Gus Yahya Paparkan Tiga Tugas Utama Kiai Pesantren Menurut Muqaddimah Qanun Asasi KH Hasyim Asy’ari

On Berita – Jakarta – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, menegaskan bahwa kiai pesantren memiliki tiga tugas pokok yang menjadi landasan pengabdian kepada umat sebagaimana tertuang dalam Muqaddimah Qanun Asasi karya pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari.

Penjelasan tersebut disampaikan Gus Yahya saat memberikan sambutan dalam acara Haul Almarhumin Sesepuh dan Warga Pondok Buntet Pesantren yang berlangsung di halaman Masjid Agung Buntet Pesantren, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (1/8/2026).

Menurut Gus Yahya, tugas pertama seorang kiai adalah mengembangkan keilmuan (wadzifah ilmiyah).

Ia menjelaskan bahwa ketika KH Hasyim Asy’ari mengajak para ulama bergabung dalam Nahdlatul Ulama, ajakan tersebut ditujukan kepada ulama yang berpegang pada ajaran Ahlussunah wal Jamaah serta memahami khazanah keilmuan Islam yang diwariskan secara turun-temurun.

“Jelas tidak mungkin memahami Ahlussunah wal Jamaah, mazhab empat tanpa ilmu pengetahuan yang kita kaji di pesantren,” ujar Gus Yahya.

Ia menjelaskan, tradisi keilmuan pesantren bersumber dari karya-karya ulama yang sanad ilmunya tersambung sejak masa para sahabat Nabi, tabi’in, tabi’ut tabi’in, hingga para ulama Nusantara.

Menurutnya, kesinambungan tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga otoritas keilmuan Islam.

Tugas kedua, lanjut Gus Yahya, adalah tarbiyah ruhaniyah atau pembinaan spiritual.

Seorang kiai tidak hanya bertanggung jawab mengembangkan kemampuan intelektual santri, tetapi juga membimbing kehidupan spiritual mereka agar memiliki hubungan batin yang kuat dengan ajaran Rasulullah SAW melalui sanad ruhani yang autentik.

“Melalui itu (sanad ruhani), para ulama memiliki otoritas,” katanya.

Mengutip pandangan ulama besar Ibnu Sirin, Gus Yahya mengingatkan pentingnya memastikan sumber pengambilan ilmu agama.

Ia menegaskan bahwa otoritas keilmuan tidak hanya dibangun melalui penguasaan ilmu, tetapi juga melalui kesinambungan transmisi ilmu dan pembinaan ruhani dari guru kepada murid hingga bersambung kepada Rasulullah SAW.

Karena itu, menurutnya, kiai harus mampu mengembangkan keseimbangan antara semangat intelektual dan kedalaman spiritual, sehingga mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kekuatan akhlak dan keimanan.

Adapun tugas ketiga adalah ri’ayatul jamaah atau mengayomi jamaah, yang dalam lingkup lebih luas berarti merawat dan membimbing umat.

Gus Yahya menilai, seorang ulama yang bergabung dalam Nahdlatul Ulama idealnya memiliki kedekatan dengan masyarakat melalui proses pembinaan yang berkelanjutan.

“Tidak mungkin ulama memiliki pengikut kalau tidak mengasuh mereka, mengayomi mereka, membimbing mereka,” tegasnya.

Menurut Gus Yahya, ketiga tugas tersebut saling melengkapi dan menjadi karakter utama kepemimpinan ulama pesantren.

Keilmuan yang kuat, pembinaan spiritual yang berkesinambungan, serta kepedulian terhadap umat merupakan warisan perjuangan KH Hasyim Asy’ari yang hingga kini tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman.

#OnBerita #GusYahya #KHYahyaCholilStaquf #PBNU #NahdlatulUlama #Pesantren #Kiai #HasyimAsyari #MuqaddimahQanunAsasi #AhlussunnahWalJamaah #BuntetPesantren #IslamNusantara #BeritaNU

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *