Bahaya Mengorok Saat Tidur: Kenali Gejala Stroke dan Cegah Sebelum Terlambat
6 mins read

Bahaya Mengorok Saat Tidur: Kenali Gejala Stroke dan Cegah Sebelum Terlambat

On Berita – Jakarta – Gaya hidup masyarakat modern saat ini mengalami perubahan yang sangat cepat. Pola makan tinggi lemak, kurangnya aktivitas fisik, tingginya tingkat stres, hingga kualitas tidur yang semakin buruk menjadi kombinasi yang memicu berbagai penyakit kronis.

Jika dahulu penyakit seperti stroke lebih banyak dialami kelompok lanjut usia, kini kondisi tersebut mulai banyak ditemukan pada usia produktif, bahkan di bawah 40 tahun.

Salah satu penyebab yang sering luput dari perhatian adalah gangguan tidur. Banyak orang menganggap kebiasaan mengorok saat tidur atau mendengkur hanyalah hal yang normal, bahkan dianggap sebagai tanda tidur nyenyak.

Padahal, dalam sejumlah kasus, kebiasaan tersebut dapat menjadi gejala Obstructive Sleep Apnea (OSA) atau apnea tidur obstruktif, yaitu gangguan yang menyebabkan saluran napas tersumbat berulang kali selama tidur.

Kondisi tersebut bukan sekadar mengganggu kualitas istirahat, tetapi juga dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius, mulai dari tekanan darah tinggi, penyakit jantung, gangguan irama jantung, hingga stroke.

Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa tidak semua dengkuran dapat dianggap sebagai kebiasaan biasa.

Stroke Masih Menjadi Salah Satu Penyebab Kematian Tertinggi

Stroke merupakan kondisi ketika aliran darah menuju otak terganggu akibat penyumbatan pembuluh darah (stroke iskemik) maupun pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik).

Ketika pasokan oksigen ke otak terhenti, sel-sel otak mulai mengalami kerusakan hanya dalam hitungan menit.

Semakin lama penanganan terlambat diberikan, semakin besar pula risiko kecacatan permanen bahkan kematian.

Oleh karena itu, stroke termasuk kondisi darurat medis yang membutuhkan penanganan secepat mungkin.

Selama ini masyarakat lebih mengenal faktor risiko stroke seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, merokok, dan obesitas.

Namun, gangguan tidur seperti sleep apnea kini juga diakui sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke.

Saat seseorang mengalami sleep apnea, pernapasan dapat berhenti beberapa detik hingga lebih dari satu menit dan terjadi berulang kali sepanjang malam.

Kondisi tersebut menyebabkan kadar oksigen dalam darah turun, sementara tekanan darah dan denyut jantung meningkat secara berulang.

Jika berlangsung dalam waktu lama, pembuluh darah menjadi lebih rentan mengalami kerusakan.

Ilustrasi orang tua terkena penyakit stroke by Pinterest.

Kenali Tanda-Tanda Gejala Stroke

Mengenali gejala stroke sejak dini sangat penting karena peluang kesembuhan akan jauh lebih besar apabila pasien segera mendapatkan pertolongan medis. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain:

  1. Wajah tampak menurun sebelah. Salah satu sisi wajah terlihat turun atau sulit digerakkan. Ketika diminta tersenyum, senyuman tampak tidak simetris.
  2. Lengan atau kaki tiba-tiba lemah. Penderita mendadak kesulitan mengangkat salah satu lengan atau kaki. Bahkan, anggota tubuh tersebut bisa terasa mati rasa secara tiba-tiba.
  3. Gangguan bicara. Ucapan menjadi pelo, sulit berbicara, atau kesulitan memahami pembicaraan orang lain.
  4. Penglihatan terganggu. Pandangan menjadi kabur, ganda, atau bahkan kehilangan penglihatan secara mendadak pada salah satu mata.
  5. Sakit kepala hebat secara tiba-tiba. Terutama jika disertai muntah, penurunan kesadaran, atau kehilangan keseimbangan.
  6. Sulit berjalan dan kehilangan koordinasi. Penderita dapat merasa pusing hebat, kehilangan keseimbangan, hingga terjatuh tanpa sebab yang jelas.

Apabila salah satu gejala tersebut muncul, segera bawa penderita ke rumah sakit tanpa menunggu keluhan membaik sendiri.

Mengapa Mengorok Bisa Berkaitan dengan Stroke?

Tidak semua orang yang mengorok mengalami sleep apnea. Namun, dengkuran yang keras, disertai napas terhenti beberapa saat, kemudian terdengar seperti tersedak atau terengah-engah, patut diwaspadai.

Pada penderita sleep apnea, saluran napas menyempit ketika otot tenggorokan mengendur saat tidur. Akibatnya, tubuh berulang kali mengalami kekurangan oksigen.

Kondisi tersebut dapat memicu berbagai perubahan di dalam tubuh, seperti tekanan darah meningkat sepanjang malam, peradangan pada pembuluh darah, gangguan irama jantung, peningkatan risiko pembentukan bekuan darah serta penurunan kualitas tidur sehingga tubuh tidak memperoleh waktu pemulihan yang optimal.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memperbesar risiko stroke maupun penyakit kardiovaskular lainnya.

Ilustrasi orang tidur sambil mendengkur by Pinterest.

Ciri-Ciri Mengorok yang Tidak Boleh Diabaikan

Tidak semua dengkuran berbahaya. Namun, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter apabila mengalami beberapa kondisi berikut:

  • Mengorok sangat keras hampir setiap malam.
  • Napas berhenti beberapa detik saat tidur menurut pasangan atau anggota keluarga.
  • Terbangun karena tersedak atau sesak napas.
  • Mengantuk berat pada siang hari meskipun sudah tidur cukup lama.
  • Sering mengalami sakit kepala saat bangun pagi.
  • Sulit berkonsentrasi atau mudah lupa.
  • Tekanan darah sulit dikendalikan.

Dokter biasanya akan melakukan evaluasi lebih lanjut, termasuk pemeriksaan tidur (sleep study) apabila diperlukan untuk memastikan ada atau tidaknya sleep apnea.

Ilustrasi orang berolahraga menjalani pola hidup sehat by pinterest

Cara Mengurangi Risiko Stroke Akibat Gangguan Tidur

Risiko stroke akibat sleep apnea dapat ditekan apabila gangguan tersebut ditangani sejak dini. Selain menjalani pengobatan sesuai anjuran dokter, beberapa perubahan gaya hidup juga sangat membantu.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Menjaga berat badan tetap ideal.
  • Berolahraga secara rutin minimal 150 menit setiap minggu.
  • Menghindari rokok dan minuman beralkohol.
  • Mengontrol tekanan darah, gula darah, dan kadar kolesterol.
  • Tidur dengan posisi menyamping apabila sering mendengkur.
  • Mencukupi waktu tidur selama 7–9 jam setiap malam.
  • Segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala sleep apnea.
  • Jangan Anggap Remeh Dengkuran Saat Tidur

Mengorok memang sering dianggap sebagai hal biasa, bahkan menjadi bahan candaan di lingkungan keluarga.

Namun, apabila disertai henti napas berulang, rasa kantuk berlebihan pada siang hari, atau tekanan darah yang sulit dikendalikan, kondisi tersebut sebaiknya tidak diabaikan.

Semakin cepat sleep apnea dikenali, semakin besar peluang mencegah komplikasi serius seperti stroke, serangan jantung, hingga gagal jantung.

Menjaga kualitas tidur sama pentingnya dengan menjaga pola makan dan rutin berolahraga karena ketiganya merupakan fondasi utama kesehatan jangka panjang.

Memahami tanda-tanda stroke serta mengenali gangguan tidur sejak dini merupakan langkah sederhana yang dapat menyelamatkan nyawa.

Oleh karena itu, apabila Anda atau anggota keluarga memiliki kebiasaan mendengkur yang tidak biasa, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga medis agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.

#OnBerita #Kesehatan #Stroke #SleepApnea #Mengorok #Mendengkur #TidurSehat #PenyakitStroke #PencegahanStroke #KesehatanJantung #GayaHidupSehat #TipsKesehatan

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *