Sambangi PBNU, Maroko Usulkan Forum Ulama Indonesia-Maroko Saat Bertemu Gus Yahya
2 mins read

Sambangi PBNU, Maroko Usulkan Forum Ulama Indonesia-Maroko Saat Bertemu Gus Yahya

On Berita – Jakarta – Hubungan antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Kerajaan Maroko berpotensi semakin erat setelah Duta Besar Kerajaan Maroko untuk Indonesia, Redouane Houssaini, melakukan kunjungan ke Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Pertemuan yang berlangsung bersama Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya tersebut membahas berbagai peluang kerja sama di sejumlah bidang strategis, mulai dari pendidikan, keagamaan, hingga kebudayaan.

Diskusi juga menyoroti pentingnya memperkuat hubungan masyarakat kedua negara melalui jalur intelektual dan keagamaan.

Ketua PBNU KH Ulil Abshar Abdalla menjelaskan bahwa kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Maroko selama ini telah berjalan cukup baik.

Salah satu bentuk nyata hubungan tersebut adalah pemberian beasiswa bagi pelajar Indonesia yang melanjutkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Maroko.

“Termasuk ada beasiswa yang khusus diberikan melalui NU, sekitar 20 beasiswa setiap tahun. Kita memiliki banyak pelajar dan mahasiswa yang belajar di berbagai perguruan tinggi di Maroko sampai sekarang ini,” ujar Gus Ulil usai pertemuan.

Selain membahas pendidikan, Dubes Maroko juga mengusulkan pembentukan forum dialog yang mempertemukan ulama, akademisi, cendekiawan, dan pemikir dari Indonesia serta Maroko.

Forum tersebut diharapkan menjadi wadah pertukaran gagasan mengenai isu-isu keagamaan kontemporer sekaligus memperkuat penyebaran nilai-nilai Islam moderat kepada generasi muda.

“Beliau mengusulkan tahun depan akan diadakan forum Maroko di Indonesia, di mana para ulama dan pemikir dari dua negara akan bertemu,” kata Gus Ulil.

Menurutnya, Maroko memiliki pengalaman penting dalam menghadapi tantangan ekstremisme keagamaan yang dapat menjadi bahan pembelajaran bersama.

Pertukaran pengalaman tersebut dinilai relevan mengingat kedua negara sama-sama dikenal sebagai negara dengan tradisi Islam moderat yang kuat.

“Kalau kita membaca perkembangan beberapa tahun terakhir, Maroko menghadapi tantangan yang cukup besar dalam menghadapi ekstremisme keagamaan. Dua negara bisa mendiskusikan masalah ini,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut juga dibahas arah hubungan jangka panjang antara Indonesia dan Maroko.

Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah rencana pembentukan kemitraan strategis kedua negara yang ditargetkan dapat terealisasi pada 2029.

“Tapi menuju ke sana membutuhkan persiapan yang cukup panjang. Karena itu, kerja sama kedua negara, termasuk antara Kerajaan Maroko dan NU, perlu diperkuat,” kata Gus Ulil.

Ia menambahkan, pihak Maroko menaruh perhatian besar terhadap peran Nahdlatul Ulama sebagai organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia yang selama ini aktif mengembangkan nilai-nilai Islam yang moderat, toleran, dan berimbang.

“Tadi juga Dubes menekankan pentingnya peran Nahdlatul Ulama sebagai ormas terbesar di Indonesia dalam mengembangkan pemahaman Islam yang lebih berimbang,” terangnya.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan bilateral Indonesia-Maroko melalui jalur diplomasi budaya, pendidikan, dan keagamaan, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas di masa mendatang.

#OnBerita #PBNU #Maroko #IndonesiaMaroko #GusYahya #NU #KerjaSamaInternasional #DiplomasiBudaya #IslamModerat #PendidikanIslam #BeasiswaMaroko #ForumUlama #HubunganBilateral #Keagamaan #CendekiawanMuslim #NahdlatulUlama

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *