PBNU Luncurkan Gerakan “Pesantrenku Aman”, Dorong Lingkungan Ramah Anak dan Cegah Kekerasan
On Berita – Jakarta – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) bersama Satuan Anti Kekerasan (SAKA) Pesantren secara resmi mendeklarasikan gerakan Pesantrenku Aman.
Deklarasi tersebut digelar di Pondok Pesantren Terpadu Al-Yasini, Pasuruan, Jawa Timur, pada Selasa (2/6/2026).
Gerakan ini menjadi langkah strategis PBNU dalam memperkuat ekosistem pesantren di Indonesia, khususnya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah anak, aman, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Program tersebut juga merupakan bagian dari agenda besar transformasi pesantren yang tengah digagas organisasi.
Ketua RMI PBNU, KH Hodri Ariev, menegaskan pentingnya kesamaan visi di kalangan pengasuh pesantren dalam menjaga marwah lembaga pendidikan Islam tradisional tersebut.
Ia menyampaikan bahwa pesantren harus terus diperkuat, termasuk dengan memastikan perlindungan bagi santri dari berbagai bentuk kekerasan.
“Gerakan Kampanye Nasional Pesantrenku Aman ini merupakan salah satu turunan dari program Transformasi Pesantren. Sejak tahun 2023, Gus Ketum (KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya) sudah mengamanahi kami untuk merumuskan program besar di lingkungan RMI PBNU,” katanya.
Sementara itu, Penanggung Jawab SAKA Pesantren PBNU, Alissa Wahid, menjelaskan bahwa isu kekerasan di lingkungan pesantren menjadi perhatian serius para tokoh PBNU.
Menurutnya, meskipun jumlah kasus yang tercatat tidak besar, namun dampaknya dinilai sangat signifikan sehingga membutuhkan penanganan sistematis dan pencegahan yang lebih kuat.
“Karena itu, sebelum persoalan ini semakin banyak dan semakin melebar, dunia pesantren dan lembaga pendidikan di lingkungan NU perlu segera melakukan upaya-upaya pencegahan dan penanganan apabila muncul kasus-kasus kekerasan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa program transformasi pesantren yang dijalankan PBNU bertujuan menciptakan ruang belajar yang lebih aman, nyaman, serta berpihak pada perlindungan anak di lingkungan pendidikan berbasis keagamaan.
Lebih lanjut, pengurus SAKA Pesantren PBNU, Ulun Nuha, menyampaikan bahwa meskipun dari lebih dari 42 ribu pesantren terdaftar hanya terdapat sekitar 16 kasus kekerasan, hal tersebut tetap tidak dapat dianggap kecil.
Menurutnya, dari sisi kemanusiaan dan keadilan, setiap kasus memiliki dampak serius.
“16 kasus kekerasan tersebut merupakan persoalan besar dan menjadi fitnah yang serius bagi pesantren saat ini,” katanya.
Ia juga menyoroti bahwa setiap kasus kekerasan di pesantren kerap mendapat perhatian luas publik dan menjadi sorotan di media sosial.
Hal ini terjadi karena tingginya ekspektasi masyarakat terhadap pesantren sebagai lembaga pendidikan yang menjunjung nilai moral dan keislaman.
Diketahui, kegiatan deklarasi ini turut dihadiri Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf.
Pembacaan deklarasi Pesantrenku Aman sendiri disampaikan oleh Pengasuh Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, KH M Wafiyul Ahdi Amanullah.
Dengan adanya deklarasi ini, PBNU berharap tercipta gerakan kolektif di seluruh pesantren di Indonesia untuk memperkuat sistem perlindungan santri dan membangun budaya pendidikan yang lebih aman, sehat, serta berkeadilan.
#OnBerita #PBNU #PesantrenkuAman #PesantrenRamahAnak #RMI #SAKAPesantren #KHYahyaCholilStaquf #PesantrenIndonesia #PendidikanIslam #StopKekerasan #BeritaIndonesia
Penulis : Rizky Saptanugraha
Editor : Ali Ramadhan
