Diplomasi Indonesia Dipertanyakan, Mahasiswa UNUSIA Minta Evaluasi Kinerja Kemenlu
3 mins read

Diplomasi Indonesia Dipertanyakan, Mahasiswa UNUSIA Minta Evaluasi Kinerja Kemenlu

On Berita – Jakarta – Ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel kembali meningkat dan berpotensi menyeret sejumlah negara ke dalam konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.

Situasi ini menjadi perhatian berbagai pihak, termasuk kalangan akademisi dan mahasiswa di Indonesia yang menilai kondisi tersebut sebagai ujian bagi peran diplomasi Indonesia di tingkat global.

Mahasiswa Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Yadon Hanubun, menilai bahwa konflik yang berkembang di Timur Tengah seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk menunjukkan peran diplomatiknya sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas dan aktif.

Menurut Yadon, dalam situasi konflik global seperti ini Indonesia seharusnya dapat tampil sebagai kekuatan moral sekaligus kekuatan politik yang berperan dalam mendorong perdamaian internasional.

“Konflik yang terjadi di Timur Tengah saat ini seharusnya menjadi momentum bagi diplomasi Indonesia untuk menunjukkan peran strategisnya dalam menciptakan stabilitas global,” ujar Yadon dalam keterangannya.

Namun demikian, ia menilai bahwa dalam perkembangan konflik Iran dan Israel saat ini, diplomasi Indonesia belum terlihat memainkan peran signifikan di panggung internasional.

Hal tersebut memunculkan berbagai pertanyaan mengenai posisi dan pengaruh Indonesia dalam dinamika geopolitik global.

Yadon juga menyinggung kritik dari sejumlah akademisi yang mempertanyakan kapasitas kepemimpinan diplomasi Indonesia saat ini.

Salah satunya disampaikan oleh akademisi Universitas Indonesia, Ronnie H. Rusli, yang sebelumnya mengkritik kualitas kabinet dan menyoroti pentingnya pengalaman serta rekam jejak dalam posisi strategis pemerintahan.

Menurut Yadon, kritik tersebut tidak semata-mata merupakan serangan personal, melainkan refleksi terhadap kondisi diplomasi Indonesia yang dinilai belum mampu merespons dinamika konflik global secara maksimal.

Ia menjelaskan bahwa sejak awal kemerdekaan, politik luar negeri Indonesia dirumuskan dalam prinsip bebas dan aktif.

Prinsip bebas berarti Indonesia tidak terikat pada blok kekuatan manapun, sedangkan aktif berarti Indonesia harus berperan dalam upaya menciptakan perdamaian dunia.

Namun dalam praktiknya, kata Yadon, prinsip tersebut kerap menghadapi berbagai tantangan dalam implementasi, terutama ketika menghadapi konflik internasional yang kompleks seperti ketegangan antara Iran dan Israel.

Sejumlah analis geopolitik juga menilai bahwa posisi Indonesia dalam konflik tersebut menghadapi keterbatasan diplomatik, salah satunya karena tidak adanya hubungan diplomatik langsung dengan Israel.

Kondisi ini membuat ruang diplomasi Indonesia menjadi lebih terbatas dalam mempengaruhi dinamika konflik secara langsung.

Di sisi lain, pemerintah Indonesia saat ini lebih banyak mengambil langkah mitigasi domestik, seperti menyiapkan berbagai skenario perlindungan bagi warga negara Indonesia di kawasan Timur Tengah, termasuk jemaah haji yang berpotensi terdampak situasi keamanan regional.

Yadon menilai langkah tersebut penting dari sisi perlindungan warga negara, namun tidak sepenuhnya menjawab tantangan diplomasi Indonesia dalam memainkan peran strategis di tingkat global.

“Ketika negara hanya fokus pada mitigasi dampak konflik, tetapi tidak mampu berperan dalam meredakan konflik itu sendiri, maka diplomasi negara tersebut perlu dievaluasi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa diplomasi bukan sekadar posisi politik, melainkan tanggung jawab negara dalam menjaga kehormatan serta posisi strategis Indonesia dalam hubungan internasional.

Sebagai bagian dari masyarakat sipil, Yadon berharap pemerintah dapat melakukan evaluasi terhadap arah dan strategi diplomasi Indonesia agar mampu berperan lebih aktif dalam dinamika geopolitik global.

Menurutnya, Indonesia membutuhkan diplomasi yang kuat, memiliki pengalaman, serta visi geopolitik yang jelas agar mampu mempertahankan posisi strategisnya dalam percaturan internasional.

“Politik bebas aktif tidak boleh hanya menjadi slogan sejarah, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang membuat Indonesia dihormati di panggung dunia,” katanya.

#OnBerita #DiplomasiIndonesia #PolitikLuarNegeri #KonflikTimurTengah #IranIsrael #GeopolitikDunia #MahasiswaBersuara #KemenluRI #PolitikBebasAktif #IsuGlobal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *