Latar Belakang Tiang Monorel di Kuningan: Dari Proyek Transportasi hingga Isu Pembongkaran dan Penataan Kota
On Berita – Jakarta – Isu pembongkaran tiang monorel di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, kembali menjadi perbincangan setelah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan akan menindaklanjuti rencana tersebut dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2026.
Rencana ini muncul setelah puluhan tiang monorel terbengkalai selama lebih dari dua dekade terlihat mangkrak di sepanjang Jalan HR Rasuna Said—menjadi pemandangan yang tak hanya mengganggu estetika kota, tetapi juga dinilai menimbulkan masalah keselamatan dan gangguan mobilitas jalan.
Awalnya dibangun sebagai bagian dari sistem transportasi monorel yang diidamkan untuk mengatasi kemacetan Jakarta, tiang-tiang ini kini justru menjadi simbol proyek yang tak pernah selesai dan kebutuhan untuk menata ulang wajah kota Jakarta.
- Sejarah Proyek Monorel Jakarta
Proyek monorel di Jakarta sudah dimulai sejak awal tahun 2000-an sebagai bagian dari upaya menyediakan sarana transportasi alternatif modern di Ibu Kota.
Rencana awal memproyeksikan dua jalur monorel, yaitu jalur hijau sepanjang 14,3 kilometer dari Semanggi ke Kuningan dan jalur lain sepanjang 12,2 kilometer yang berpotensi menghubungkan rute penting lain di Jakarta.
Namun perjalanan proyek ini tidak mulus. Masalah mulai muncul ketika PT Jakarta Monorail (JM) sebagai pengembang utama mengalami kendala pendanaan, sehingga pengerjaan fisik monorel—termasuk pemasangan tiang pancang di titik-titik strategis—berhenti pada akhir 2000-an.
Ketika itu, kontrak dan investasi pun diputus oleh pemerintah dengan beragam tuntutan kompensasi dari pihak pengembang.
Seiring pergantian gubernur dan kebijakan Pemprov DKI, proyek ini akhirnya dibatalkan secara resmi pada pertengahan 2010-an dan monorel tidak pernah beroperasi.
Meskipun begitu, tiang-tiang beton dan struktur penopang yang telah dibangun tetap dibiarkan di tempatnya.
2. Tiang Monorel Mangkrak dan Dampaknya
Berdirinya ratusan tiang monorel yang tak terpakai di sepanjang Jalan Rasuna Said—salah satunya di kawasan Kuningan—membuat banyak pihak melihatnya sebagai sisa proyek infrastruktur yang tak selesai.
Pemandangan tiang beton tanpa rangkaian rel atau kereta menjadi monumen yang mengingatkan pada proyek yang gagal.
Beberapa dampak yang sering disorot antara lain:
- Estetika Kota Terganggu: Struktur beton yang tinggi dan tak terpakai dianggap merusak keindahan lanskap kawasan bisnis seperti Kuningan yang merupakan pusat ekonomi, bisnis, dan diplomasi.
- Isu Keselamatan: Tiang-tiang ini berdiri di jalur lalu lintas padat dengan potensi membahayakan pengendara serta pengguna jalan lain. Ketika hujan atau petir terjadi, struktur mangkrak ini dirasa berpotensi memicu risiko.
- Gangguan Mobilitas: Pembangunan, keberadaan struktur tak fungsional, dan rencana penataannya dapat memengaruhi lalu lintas, sehingga menjadi perhatian serius pemerintah.
3. Isu Pembongkaran Oleh Pemprov DKI Jakarta
Pada awal 2026, Pemprov DKI Jakarta mengonfirmasi rencana pembongkaran tiang monorel di sepanjang Jalan Rasuna Said, termasuk kawasan Kuningan.
Kebijakan ini bertujuan untuk menata kembali ruas jalan dan trotoar, memastikan keselamatan jalan serta memperindah tampilan kawasan yang menjadi wajah ibukota, ditambah sebagai respons terhadap keluhan warga dan pengguna jalan.
Pemerintah provinsi menyatakan bahwa pembongkaran dilakukan tanpa menutup jalur utama di kawasan padat itu, termasuk pengerjaan malam hari agar tidak mengganggu mobilitas harian masyarakat.
Selain itu, Pemprov telah berkoordinasi dengan PT Adhi Karya dan pihak terkait lain mengenai status kepemilikan tiang itu, sambil tetap menghormati hak perusahaan sebagai pemilik aset awal konstruksi.
4. Biaya Pembongkaran Tiang Monorel
Salah satu sorotan utama dari rencana ini adalah biaya pembongkaran yang cukup besar.
Pemerintah DKI Jakarta telah mengalokasikan sekitar Rp 100 miliar dari APBD 2026 untuk membongkar tiang-tiang monorel yang mangkrak itu sekaligus menata ulang jalan dan trotoar di sepanjang koridor Rasuna Said.
Anggaran tersebut selain untuk pembongkaran fisik, juga mencakup perbaikan infrastruktur dasar lain seperti trotoar, marka jalan, dan fasilitas pejalan kaki, sehingga kawasan yang juga menjadi jalur diplomatik dan bisnis internasional ini lebih representatif.
5. Pembelajaran dari Proyek Monorel
Keberadaan tiang monorel mangkrak ini menjadi pelajaran penting dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek infrastruktur besar, khususnya di kota seperti Jakarta yang padat dan memiliki kebutuhan transportasi publik tinggi.
Beberapa hal yang bisa menjadi refleksi antara lain:
- Perencanaan dan Studi Kelayakan: Proyek massal seperti monorel membutuhkan kajian mendalam tentang biaya, hubungan investasi, dan dampaknya bagi mobilitas kota.
- Model Kerja sama Publik-Swasta: Masalah pendanaan dan kontrak konsesi harus dikelola dengan transparan dan realistis, agar investasi tidak berhenti di tengah jalan.
- Pemanfaatan Struktur yang Sudah Ada: Pemerintah dan pihak terkait perlu mengevaluasi ulang peluang penggunaan sisa struktur untuk fungsi lain (misalnya integrasi transportasi lain) sebelum memutuskan pembongkaran.
#OnBerita #TiangMonorel #MonorelKuningan #DKIJakarta #TransportasiPublik #APBD2026 #InfrastrukturJakarta
Penulis : Rizky Saptanugraha
Editor : Ali Ramadhan
