Perundingan AS-Iran Gagal Total, Sengketa Nuklir dan Hormuz Jadi Pemicu
2 mins read

Perundingan AS-Iran Gagal Total, Sengketa Nuklir dan Hormuz Jadi Pemicu

On Berita – Jakarta – Upaya perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung pada akhir pekan di Pakistan dilaporkan gagal mencapai kesepakatan setelah kedua negara menemui jalan buntu dalam pembahasan sejumlah isu strategis.

Negosiasi yang sebelumnya diharapkan menjadi momentum meredakan ketegangan geopolitik itu buyar akibat dua persoalan utama, yakni program nuklir Iran dan sengketa terkait pembukaan kembali Selat Hormuz.

Berdasarkan laporan sumber yang mengetahui jalannya pembicaraan, delegasi AS telah menetapkan sejumlah poin utama yang harus dipenuhi agar negosiasi dapat dinyatakan berhasil.

Namun, setelah pembahasan berlangsung selama berjam-jam hingga memasuki dini hari, kedua pihak tetap tidak mampu menemukan titik temu.

Salah satu hambatan terbesar dalam perundingan tersebut adalah penolakan Iran untuk menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya kepada pihak internasional.

Selain itu, Iran juga menolak desakan Washington untuk segera membuka kembali akses penuh ke Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur vital perdagangan energi dunia.

“Bagi AS, sikap penolakan Teheran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya menjadi hambatan utama yang tidak bisa ditawar,” demikian dikutip dari sumber yang mengikuti proses negosiasi.

Di sisi lain, Iran tetap bersikukuh bahwa pencabutan sanksi ekonomi serta pencairan aset negara mereka yang dibekukan senilai miliaran dolar harus dilakukan terlebih dahulu sebelum kesepakatan lebih lanjut dicapai.

Karena masing-masing pihak mempertahankan tuntutannya, pembicaraan akhirnya dinyatakan gagal.

Selain substansi negosiasi, sejumlah pejabat juga menilai perbedaan gaya diplomasi antara kedua negara turut memperburuk situasi.

Iran dikenal terbiasa menjalani negosiasi panjang dan bertahap, sebagaimana saat menyusun kesepakatan nuklir pada era Presiden Barack Obama yang berlangsung hampir dua tahun.

Sebaliknya, Presiden AS Donald Trump disebut tidak ingin proses negosiasi berjalan terlalu lama.

Ia sebelumnya bahkan menyatakan bahwa AS dan Iran akan bekerja sama menghilangkan apa yang disebutnya sebagai “debu nuklir”, meskipun pernyataan itu dinilai tidak cukup memengaruhi posisi Teheran.

Persoalan Selat Hormuz pun menjadi tekanan tambahan dalam pembahasan kali ini.

Meski Iran sebelumnya menyatakan tetap membuka jalur tersebut, pemerintah Teheran mulai melakukan pembatasan terhadap lalu lintas kapal tanker pasca serangan provokasi yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari 2026.

Langkah Iran itu memicu gejolak di pasar energi global sekaligus meningkatkan tekanan politik terhadap pemerintahan Trump di dalam negeri.

Menyadari posisi strategis Selat Hormuz sebagai jalur distribusi minyak dunia, Iran menolak membuka kembali akses penuh sebelum tercapai kesepakatan final dalam perundingan.

Dengan gagalnya pertemuan ini, ketegangan antara kedua negara diperkirakan masih akan terus berlanjut dalam waktu dekat.

#OnBerita #ASIran #SelatHormuz #GeopolitikDunia #KonflikTimurTengah #DonaldTrump #IranNuklir #BeritaInternasional #Pakistan #DiplomasiGlobal #OnBerita

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *