LPBI PBNU Soroti Lonjakan Harga Plastik, Anwar Sjani Dorong Pelaku Usaha Tinggalkan Plastik Sekali Pakai
3 mins read

LPBI PBNU Soroti Lonjakan Harga Plastik, Anwar Sjani Dorong Pelaku Usaha Tinggalkan Plastik Sekali Pakai

On Berita – Jakarta – Lonjakan harga plastik di pasar domestik mendapat sorotan dari Anggota Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LPBI PBNU), Anwar Sjani.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi momentum penting untuk mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat dan pelaku usaha menuju penggunaan kemasan yang lebih ramah lingkungan.

Dalam keterangannya, Kamis (9/4/2026), Anwar menilai kenaikan harga bahan plastik seharusnya tidak hanya dipandang sebagai tantangan ekonomi, tetapi juga peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai yang selama ini menjadi salah satu penyumbang utama limbah lingkungan.

Ia mendorong para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), khususnya yang beroperasi di pasar tradisional, agar mulai mempertimbangkan penggunaan bahan kemasan alternatif berbasis alami dan tradisional.

Menurutnya, Indonesia memiliki banyak sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan sebagai pengganti plastik.

“Pasti ini memaksakan pelaku usaha untuk mampu mencari solusi. Dia mesti dipaksakan untuk bagaimana menggunakan kemasan-kemasan yang memang ramah lingkungan. Apa mungkin kita balik ke daun pisang, daun jati, daun lapa, atau mungkin pelepah,” ujarnya saat dihubungi NU Online, Kamis (9/4/2026).

Anwar menjelaskan bahwa perubahan menuju kemasan ramah lingkungan harus dilakukan secara realistis dengan tetap mempertimbangkan aspek harga, kemudahan penggunaan, dan ketersediaan bahan.

Ia menilai, bahan daur ulang seperti kantong berbahan kertas dapat menjadi salah satu opsi yang lebih murah dan praktis untuk digunakan dalam jangka pendek.

“Misalnya kalau untuk kantong belanja, diganti misalnya dalam bahan baku dari daur ulang, bahan-bahan yang sifatnya itu dari paper bag. Tapi dari ulang sudah lebih murah dan tidak memberatkan,” lanjutnya.

Selain itu, Anwar menyoroti masih terbatasnya produsen yang bergerak dalam sektor plastik ramah lingkungan di Indonesia.

Menurutnya, pemerintah maupun stakeholder terkait perlu memberikan dukungan kepada pelaku industri yang mengembangkan produk kemasan biodegradable agar produksinya dapat ditingkatkan.

“Nah, kalaupun jenis plastik yang memang ramah lingkungan, mereka disupport, pelaku-pelaku usaha itu, untuk memproduksi lebih banyak, karena memang kebutuhannya banyak. Masalahnya beberapa kelompok pelaku usaha yang memproduksi plastik-plastik yang jenis yang ramah lingkungan itu hanya di beberapa kalangan-kalangan saja,” katanya.

Lebih lanjut, ia menyoroti potensi inovasi modern berbasis bahan alami seperti kantong berbahan pati singkong.

Produk tersebut, kata Anwar, dinilai mampu menjadi alternatif ideal karena memiliki karakteristik menyerupai plastik, tetapi dapat terurai secara alami dalam waktu relatif singkat.

“Paling kita berharap ini ada inovasi yang modern, inovasi modern dalam lingkungan, bagaimana kantong-kantong, ada kantong singkong yang terbuat dari pati singkong. Bentuknya mirip banget dengan plastik, tapi itu sari pati dari singkong,” ujarnya.

“Dan itu bisa terurai kurang lebih bisa dua sampai enam bulan, sangat cocok untuk belanja, dan juga untuk kemasan barang-barang yang kering,” tambahnya.

Di sisi lain, Anwar menekankan bahwa keberhasilan transisi menuju kemasan ramah lingkungan juga bergantung pada edukasi kepada masyarakat.

Menurutnya, pelaku usaha perlu mulai membangun kesadaran konsumen bahwa penggunaan kemasan alternatif adalah bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan.

“Memang harus mulai beralih ke kemasan alternatif yang ramah lingkungan dimulai secara bertahap dan bisa mengedukasi konsumen tentang pentingnya perubahan ini. Banyak konsumen justru lebih menghargai usaha yang memang peduli sama lingkungan,” tuturnya.

#OnBerita #LPBIPBNU #HargaPlastik #KemasanRamahLingkungan #UMKM #LingkunganHidup #SampahPlastik #EcoFriendly #BisnisHijau #Sustainability

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *