Kader PMII Kritik Aksi PB PMII di Kedubes AS, Dinilai Tanpa Konsolidasi Organisasi
3 mins read

Kader PMII Kritik Aksi PB PMII di Kedubes AS, Dinilai Tanpa Konsolidasi Organisasi

On Berita – Jakarta – Kritik terhadap langkah Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) mencuat dari internal organisasi.

Seorang kader PMII menilai aksi yang dilakukan PB PMII di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat terkait seruan agar Indonesia keluar dari Board of Peace dilakukan tanpa melalui mekanisme konsolidasi organisasi yang jelas.

Seorang kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ishaq Rumakway, menyampaikan kritik terbuka terhadap langkah Pengurus Besar PMII yang menggelar aksi di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta.

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk seruan agar pemerintah Indonesia keluar dari Board of Peace.

Ishaq yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Diskusi dan Kajian Rayon Pembebasan “Hasan Hanafi” menilai bahwa aksi tersebut justru menimbulkan kegelisahan di kalangan kader.

Menurutnya, langkah tersebut dilakukan tanpa melalui proses konsolidasi organisasi yang jelas dan transparan kepada kader di berbagai tingkatan.

“Gerakan tersebut dilakukan tanpa melalui mekanisme konsolidasi organisasi yang jelas kepada kader, mulai dari rayon, komisariat, cabang, hingga PKC,” ujar Ishaq dalam keterangannya.

Ia menegaskan bahwa sebagai organisasi kader yang memiliki tradisi intelektual kuat, setiap sikap politik PMII seharusnya lahir melalui proses diskusi, analisis, dan konsolidasi yang matang.

Tanpa proses tersebut, aksi yang dilakukan dinilai berpotensi menimbulkan kesan prematur serta tidak mencerminkan semangat kolektivitas kader.

Menurut Ishaq, tradisi intelektual yang selama ini menjadi ciri khas PMII harus dijaga dalam setiap pengambilan sikap organisasi, terutama dalam isu-isu politik dan geopolitik internasional.

Ia juga menyoroti persoalan teknis pelaksanaan aksi yang dinilai tidak dipersiapkan dengan baik. Flyer seruan aksi, kata dia, baru disebarkan hanya beberapa jam sebelum kegiatan berlangsung.

“Hal ini semakin memperjelas bahwa aksi tersebut tidak dipersiapkan secara serius dan tidak melibatkan struktur organisasi PMII secara luas,” ujarnya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, memunculkan pertanyaan mendasar di kalangan kader mengenai legitimasi aksi tersebut.

Ia mempertanyakan apakah aksi tersebut benar-benar mewakili sikap organisasi atau hanya merupakan langkah sepihak dari segelintir elit di tingkat pusat.

Menurut Ishaq, jika sebuah gerakan dilakukan tanpa melibatkan rayon, komisariat, cabang, maupun PKC, maka sulit untuk menyebutnya sebagai gerakan organisasi secara kolektif.

“PMII bukan organisasi segelintir orang di pusat. Organisasi ini hidup dari basis kaderisasi di bawah,” tegasnya.

Ia menilai langkah tersebut berpotensi mencederai tradisi demokrasi internal organisasi serta merusak mekanisme pengambilan keputusan yang selama ini dijalankan di PMII.

Lebih jauh, Ishaq menegaskan bahwa kritik yang disampaikannya merupakan bentuk tanggung jawab moral sebagai kader untuk menjaga marwah organisasi agar tetap berjalan sesuai dengan prinsip kolektivitas dan mekanisme kaderisasi.

“Kritik ini adalah bentuk tanggung jawab moral kader untuk menjaga marwah organisasi agar tidak dijalankan secara serampangan dan tanpa basis kader,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa PMII tidak boleh dijadikan alat manuver politik sesaat yang kehilangan akar kader dan proses organisasi.

Menurutnya, apabila PB PMII ingin membawa nama besar organisasi dalam sebuah gerakan politik, maka seharusnya langkah tersebut dilakukan melalui proses konsolidasi yang melibatkan seluruh tingkatan struktur organisasi.

“PMII dibangun oleh kader, oleh tradisi intelektual dan proses kaderisasi yang panjang. Karena itu organisasi ini tidak boleh dikelola oleh segelintir elit yang bertindak sepihak tanpa konsolidasi dan tanpa mandat kader,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa PMII merupakan rumah bersama bagi seluruh kader, sehingga setiap langkah organisasi harus tetap berlandaskan pada mekanisme yang transparan, partisipatif, dan kolektif.

#OnBerita #PMII #PBPMII #KaderPMII #GerakanMahasiswa #KritikInternalPMII #BoardOfPeace #DemokrasiOrganisasi #AksiMahasiswa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *