Geopolitik Memanas, SBY Minta Indonesia Perkuat Pertahanan dan Diplomasi
3 mins read

Geopolitik Memanas, SBY Minta Indonesia Perkuat Pertahanan dan Diplomasi

On Berita – Jakarta – Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh bersikap lugu atau merasa aman dalam menghadapi dinamika geopolitik global yang kian tidak menentu.

Dalam kuliah umum yang digelar di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026), SBY menyoroti meningkatnya tensi hubungan antarnegara besar yang berpotensi memicu konflik berskala luas, bahkan perang dunia.

Dalam paparannya, SBY menelusuri akar perubahan geopolitik dunia sejak era Perang Dingin.

Ia menjelaskan bahwa pada masa itu, dunia terbagi dalam dua kutub besar: Blok Barat dan Blok Timur.

Setelah Perang Dingin berakhir, Amerika Serikat muncul sebagai kekuatan dominan yang seolah menjadi satu-satunya pemimpin global.

Konsep unipolaritas pun sempat menguat, di mana AS dipandang sebagai “lone ranger” dalam percaturan dunia internasional.

Namun, menurut SBY, realitas global saat ini menunjukkan kecenderungan menuju tatanan multipolar.

Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Uni Eropa, hingga kelompok negara-negara BRICS kini menjadi aktor utama dalam konfigurasi kekuatan global.

Dunia, kata SBY, telah bergerak ke arah distribusi kekuatan yang lebih tersebar.

Meski demikian, ia menilai masih ada dorongan dari sebagian kekuatan besar untuk kembali pada pola dominasi tunggal.

Dalam situasi seperti ini, Indonesia dinilai tidak bisa bersikap pasif. SBY menegaskan bahwa globalisasi telah menciptakan keterkaitan yang sangat erat antarnegara.

Gangguan di satu kawasan dapat berdampak luas ke belahan dunia lain, termasuk Indonesia.

Ia mengingatkan pengalaman sejarah saat Perang Dunia II, di mana Indonesia yang saat itu belum merdeka tetap menjadi korban dampak konflik global.

“Jangan merasa kita tidak punya masalah dengan siapa pun lalu berpikir aman,” kira-kira demikian pesan yang disampaikan SBY.

Ia menilai sikap naif justru berbahaya, sebab konflik global modern tidak selalu menunggu keterlibatan langsung suatu negara untuk menimbulkan dampak ekonomi, sosial, dan politik.

Karena itu, SBY mendorong pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat kesiapan nasional.

Fokus ke dalam negeri tetap penting, terutama dalam meningkatkan daya tangkal (deterrence), memperkuat pertahanan, serta memastikan ketahanan pangan dan energi.

Dalam situasi krisis global, gangguan rantai pasok dan distribusi bisa terjadi sewaktu-waktu.

Tanpa fondasi domestik yang kuat, Indonesia berisiko menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya.

Selain penguatan internal, SBY juga menekankan pentingnya diplomasi aktif. Indonesia harus cermat membaca arah relasi kekuatan global dan mampu menavigasi posisinya di tengah polarisasi internasional.

Diplomasi, kerja sama internasional, serta pemahaman mendalam terhadap konfigurasi kekuasaan dunia menjadi instrumen penting agar Indonesia tidak sekadar menjadi “pelengkap penderita” dalam percaturan global.

Dalam kesempatan yang sama, SBY turut menyoroti transformasi doktrin pertahanan di era modern.

Ia mengingatkan bahwa pola perang saat ini telah berubah drastis. Serangan tidak lagi terbatas pada pertempuran darat atau laut, melainkan juga udara, siber, dan bentuk hybrid warfare lainnya.

Ia mempertanyakan kesiapan Indonesia apabila terjadi serangan udara yang menghantam pusat pemerintahan maupun industri strategis pertahanan.

Menurutnya, penguatan air power atau kekuatan udara menjadi elemen yang tidak bisa diabaikan.

Pertahanan pantai, strategi gerilya, dan perlindungan pulau besar saja tidak lagi memadai.

Era perang modern menuntut kesiapan menyeluruh dari seluruh matra TNI, didukung teknologi dan doktrin yang mutakhir.

Pesan SBY tersebut menjadi refleksi penting di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian.

Ketegangan antarnegara besar, persaingan ekonomi, serta konflik regional yang belum sepenuhnya reda menjadi indikator bahwa stabilitas dunia masih rapuh.

Indonesia, sebagai negara dengan posisi strategis dan ekonomi yang terus berkembang, dituntut untuk lebih waspada sekaligus adaptif.

Pada akhirnya, SBY menggarisbawahi bahwa kesiapan nasional tidak berarti bersikap agresif, melainkan membangun daya tahan dan kapasitas untuk menghadapi berbagai kemungkinan. Dalam dunia yang semakin terhubung, sikap realistis dan strategi yang terukur menjadi kunci agar Indonesia tetap berdiri kokoh di tengah pusaran geopolitik global.

#OnBeria #SBY #GeopolitikDunia #PerangDunia #PertahananIndonesia #Lemhannas #AirPower #DiplomasiIndonesia #KetahananNasional

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *