Rupiah Tertekan Ketidakpastian Tarif Indo-AS, Begini Proyeksinya
2 mins read

Rupiah Tertekan Ketidakpastian Tarif Indo-AS, Begini Proyeksinya

On Berita – Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah pada awal pekan ini masih berada dalam tekanan dinamika global, khususnya terkait ketidakpastian kebijakan tarif antara Indonesia dan Amerika Serikat.

Sejumlah sentimen eksternal dan domestik diperkirakan akan memengaruhi arah rupiah terhadap dolar AS dalam jangka pendek.

Berdasarkan data pasar terakhir, rupiah berada di kisaran Rp16.865 per dolar AS, sementara indeks dolar AS (DXY) bertengger di level 97,789.

Posisi ini mencerminkan dolar yang relatif stabil di tengah sikap hati-hati bank sentral Amerika Serikat.

Risalah rapat Januari Federal Open Market Committee menunjukkan peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat masih terbatas.

Sikap tersebut membuat imbal hasil obligasi pemerintah AS tetap menarik bagi investor global, sehingga menopang permintaan terhadap dolar.

Foto Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Donald Trump Dalam Forum. Sumber Foto Sosial Media Instagram @KemensetnegRI

Selain itu, data ekonomi AS seperti penurunan klaim pengangguran dan membaiknya survei manufaktur turut memperkuat sentimen positif terhadap mata uang Negeri Paman Sam.

Di sisi lain, hubungan dagang Indonesia-AS justru menghadirkan ketidakpastian baru.

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump sebelumnya menandatangani kesepakatan perdagangan resiprokal bertajuk Implementation of the Agreement toward New Golden Age US–Indonesia Alliance.

Perjanjian tersebut mencakup berbagai nota kesepahaman, pembentukan dewan ekonomi permanen, serta komitmen penurunan tarif dan kerja sama strategis.

Namun, dinamika berubah setelah Supreme Court of the United States menyatakan kebijakan tarif darurat tidak sah secara hukum.

Alih-alih meredakan ketegangan, Trump justru menaikkan tarif impor global menjadi 15 persen.

Langkah ini meningkatkan ketidakpastian kebijakan perdagangan dan memicu volatilitas di pasar keuangan global.

Bagi rupiah, kondisi tersebut menciptakan tekanan ganda. Pertama, penguatan dolar akibat faktor moneter AS.

Kedua, sentimen risiko (risk-off) akibat ketidakpastian perdagangan yang mendorong investor global cenderung mencari aset safe haven.

Dalam situasi seperti ini, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, biasanya mengalami fluktuasi lebih tajam.

Meski demikian, pemerintah Indonesia menyatakan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan kebijakan tarif tersebut.

Pelaku pasar kini juga menantikan perkembangan fiskal domestik, termasuk kondisi APBN, sebagai indikator daya tahan ekonomi nasional.

Dalam jangka pendek, arah rupiah diperkirakan masih akan bergerak volatil mengikuti sentimen global, khususnya perkembangan kebijakan tarif AS serta respons pasar terhadap dinamika geopolitik dan moneter internasional.

#OnBerita #NilaiTukarRupiah #TarifAS #PerdaganganGlobal #RupiahHariIni #EkonomiIndonesia #DolarAS

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *