Biografi Mitsuyuki Tanaka, Tentara Jepang yang Jadi Letkol TNI
4 mins read

Biografi Mitsuyuki Tanaka, Tentara Jepang yang Jadi Letkol TNI

On Berita – Jakarta – Kisah Mitsuyuki Tanaka—yang kemudian dikenal dengan nama Sutoro—menjadi salah satu cerita paling unik dalam sejarah perjuangan Indonesia.

Sebagaimana diceritakan dalam berbagai forum sejarah lokal di Magelang, ia adalah mantan tentara Jepang yang justru memilih berpihak pada rakyat Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan.

Perjalanan hidupnya memperlihatkan transformasi luar biasa: dari bagian pasukan pendudukan menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Mitsuyuki Tanaka lahir pada 10 November 1921 di Kyomimura, Kota Takayama, Prefektur Gifu, Jepang.

Ia tumbuh di lingkungan pedesaan dan sejak kecil terbiasa membantu keluarga mengurus pertanian.

Masa mudanya tak lepas dari situasi Jepang yang berada di bawah rezim militer dan ekspansi besar-besaran ke berbagai wilayah Asia.

Pada usia 18 tahun, hanya dua bulan setelah menikah dengan Tomiko Yano, ia dikirim ke medan perang di Manchuria, Tiongkok Utara.

Setelah sekitar satu tahun bertugas di Tiongkok, Tanaka dipindahkan ke kawasan Asia Tenggara seiring meluasnya gerak pasukan Dai Nippon.

Ia pernah berada di Filipina, Thailand, Malaya, hingga Singapura. Pada 1942, ia tiba di wilayah Hindia Belanda seperti Tarakan dan Papua.

Menjelang akhir Perang Dunia II, sekitar Juli–Agustus 1945, ia mendarat di Jawa bersama pasukan Jepang.

Foto Keluarga Mitsuyuki Tanaka. Sumber Foto Instagram @mlakumagelang

Titik balik kehidupannya terjadi setelah bom atom dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki serta Jepang menyatakan menyerah kepada Sekutu.

Dalam situasi transisi yang penuh ketidakpastian, Tanaka yang saat itu berada di Magelang mendapat tugas menjaga stabilitas dan mengamankan gudang senjata Jepang sampai pasukan Inggris datang.

Namun, hati kecilnya berkata lain. Alih-alih menyerahkan kendali sepenuhnya kepada Sekutu, Tanaka justru bersimpati pada perjuangan rakyat Indonesia yang baru saja memproklamasikan kemerdekaan.

Ia berkoordinasi dengan pemuda dan laskar setempat untuk memanfaatkan persenjataan yang ada.

Keputusan itu berisiko besar, tetapi menjadi kontribusi penting bagi pejuang di wilayah Magelang.

Tanaka kemudian aktif membantu pelatihan militer bagi para pemuda.

Ia berinteraksi dan bekerja sama dengan sejumlah tokoh militer republik, termasuk Letkol Sarbini dan Ahmad Yani, yang kelak dikenal sebagai salah satu pimpinan TNI.

Dalam sejumlah pertempuran seperti Palagan Magelang (Oktober–November 1945) dan Palagan Ambarawa (Desember 1945), ia turut berada di garis perjuangan.

Bahkan, ia pernah mengalami luka tembak serius di bagian perut dalam salah satu pertempuran tersebut.

Dalam proses berbaur dengan masyarakat, Tanaka mengganti namanya menjadi nama Jawa.

Ia sempat menggunakan beberapa nama seperti Basri, Sutro, Sastro, hingga akhirnya dikenal luas sebagai Sutoro.

Nama itu bukan sekadar identitas baru, melainkan simbol pilihannya untuk menjadi bagian dari Indonesia.

Dokumen Mitsuyuki Tanaka. Sumber Foto Instagram @mlakumagelang

Sutoro kemudian menikah dengan Suparti di Salaman, Magelang. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai sejumlah anak.

Kehidupannya perlahan beralih dari medan perang ke kehidupan sipil, tetapi komitmennya terhadap Indonesia tak pernah pudar.

Ia resmi diangkat sebagai prajurit TNI dan meniti karier militer hingga pensiun pada 1974 dengan pangkat Letnan Kolonel.

Pangkat tersebut disebut-sebut sebagai salah satu yang tertinggi yang pernah diraih oleh mantan tentara Jepang yang bergabung dengan TNI.

Setelah pensiun, Sutoro menetap di Magelang dan membuka usaha bengkel bus di kawasan Pakelan.

Meski telah menjadi warga Indonesia sepenuhnya, ia tetap menjaga disiplin dan nasionalisme yang tinggi.

Keluarganya mengenang bagaimana ia sangat menekankan pentingnya mengibarkan bendera Merah Putih setiap peringatan hari besar nasional.

Baginya, penghormatan terhadap simbol negara adalah bentuk kesetiaan terhadap pilihan hidupnya.

Makam Mitsuyuki Tanaka. Sumber Foto Instagram @mlakumagelang

Sutoro wafat pada 1 Agustus 1998 di Magelang dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giridharmoloyo II.

Keberadaannya di sana menjadi penanda bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia juga diwarnai oleh kisah lintas bangsa dan perubahan hati nurani.

Secara historis, fenomena mantan tentara Jepang yang bergabung dengan perjuangan Indonesia memang bukan satu-dua kasus.

Namun, kisah Mitsuyuki Tanaka menonjol karena kedekatannya dengan masyarakat Magelang dan kiprahnya yang panjang hingga masa agresi militer Belanda.

Pilihannya mencerminkan bahwa identitas tidak selalu ditentukan oleh asal-usul, melainkan oleh keberpihakan dan tindakan.

Biografi Mitsuyuki Tanaka alias Sutoro menjadi pengingat bahwa sejarah tidak selalu hitam-putih.

Seorang prajurit yang awalnya datang sebagai bagian dari kekuatan pendudukan dapat berubah menjadi pembela kemerdekaan.

Transformasinya menunjukkan bahwa nilai kemanusiaan dan solidaritas bisa melampaui batas kebangsaan, terutama dalam masa-masa genting perjuangan sebuah bangsa.

#OnBerita #MitsuyukiTanaka #Sutoro #SejarahIndonesia #PejuangKemerdekaan #TNI #PalaganAmbarawa #Magelang

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *