Ketegangan AS-Iran Memanas, Trump Bahas Opsi Militer hingga Rencana Bunuh Para Pimpinan Iran
2 mins read

Ketegangan AS-Iran Memanas, Trump Bahas Opsi Militer hingga Rencana Bunuh Para Pimpinan Iran

On Berita – Jakarta – Isu ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah muncul laporan bahwa Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan opsi militer yang sangat agresif terhadap Teheran.

Berdasarkan laporan yang beredar di media internasional, termasuk The Wall Street Journal, Trump disebut menerima sejumlah paparan strategi militer yang mencakup kemungkinan serangan langsung terhadap para pemimpin politik dan militer Iran.

Meski belum ada keputusan final, opsi yang dibahas disebut mencakup kampanye udara selama beberapa pekan yang berpotensi menargetkan figur-figur penting dalam struktur pemerintahan Iran.

Tujuan akhirnya disebut-sebut untuk melemahkan hingga menggulingkan rezim yang berkuasa di Teheran.

Selain itu, alternatif strategi lainnya berfokus pada penghancuran fasilitas nuklir dan instalasi rudal balistik Iran.

Laporan lain dari CBS News menyebutkan bahwa militer AS telah menyampaikan kesiapan operasional dan dapat melancarkan serangan dalam waktu singkat apabila perintah diberikan.

Meski demikian, Gedung Putih dikabarkan masih membuka ruang diplomasi sebagai opsi utama, meskipun tekanan militer terus ditingkatkan.

Pembahasan terkait Iran bahkan dilakukan di Ruang Situasi Gedung Putih, melibatkan penasihat keamanan nasional.

Trump dilaporkan masih berharap tekanan politik dan diplomatik dapat memaksa Iran membatasi atau membongkar program nuklir dan pengembangan rudal balistiknya.

Namun, Iran secara tegas menolak tuntutan tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa pengayaan uranium untuk tujuan damai merupakan hak yang sah dan tidak dapat dinegosiasikan.

Ia menyebut program nuklir Iran bersifat sipil dan berada dalam kerangka hukum internasional.

Di sisi lain, Rusia turut angkat bicara. Dalam wawancara dengan Al Arabiya, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas nuklir Iran dapat memicu konsekuensi besar, termasuk risiko bencana nuklir.

Rusia juga kembali menyoroti keputusan AS yang sebelumnya keluar dari kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 pada masa jabatan pertama Trump.

Ketegangan ini terjadi di tengah peningkatan signifikan kehadiran militer AS di kawasan Timur Tengah.

Dua kelompok kapal induk dan pesawat pembom tambahan telah dikerahkan, yang disebut sebagai salah satu mobilisasi terbesar sejak invasi Irak tahun 2003.

Situasi ini memunculkan kekhawatiran global akan potensi eskalasi konflik terbuka di kawasan yang selama ini sudah rawan gejolak.

Banyak pengamat menilai bahwa jika opsi militer benar-benar ditempuh, dampaknya tidak hanya terbatas pada hubungan bilateral AS-Iran, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas politik dan ekonomi global, termasuk pasar energi dunia.

Untuk saat ini, keputusan akhir masih berada di tangan Presiden Trump.

Namun, dunia internasional terus memantau perkembangan ini dengan waspada, sembari berharap jalur diplomasi tetap menjadi pilihan utama guna menghindari konflik berskala besar.

#OnBerita #Trump #Iran #Geopolitik #ASIran #KrisisTimurTengah #NuklirIran #PolitikGlobal

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *