Jelang Ramadan, Kemenag Gelar Pelatihan Hilal untuk Influencer Muda
3 mins read

Jelang Ramadan, Kemenag Gelar Pelatihan Hilal untuk Influencer Muda

On Berita – Jakarta – Kementerian Agama (Kemenag) terus berupaya memperkuat literasi keislaman masyarakat melalui pendekatan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Salah satu langkah terbaru yang dilakukan adalah menyelenggarakan pelatihan khusus pengamatan hilal bagi para konten kreator dan influencer muda, yang selama ini memiliki peran besar dalam membentuk opini publik di ruang digital.

Program ini diselenggarakan sebagai respons atas maraknya informasi keagamaan di media sosial, khususnya menjelang penetapan awal Ramadan dan Idul Fitri.

Dalam beberapa tahun terakhir, perbedaan pandangan terkait penentuan awal bulan Hijriah kerap memicu kebingungan di tengah masyarakat.

Melalui pelatihan ini, Kemenag berharap para kreator mampu menyampaikan informasi yang akurat, berimbang, dan menyejukkan.

Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah Kemenag, Arsad Hidayat, menyampaikan bahwa persoalan hilal telah menjadi bagian penting dalam tradisi Islam sejak masa Rasulullah.

Karena itu, pembahasannya harus dilandasi oleh ilmu pengetahuan dan pendekatan syar’i yang benar.

“Penjelasan tentang hilal harus berbasis ilmu, bukan asumsi atau spekulasi. Inilah yang ingin kami tanamkan kepada para konten kreator,” ujar Arsad dalam keterangannya di Jakarta.

Pelatihan Hybrid untuk Generasi Muda

Kemenag membuka pendaftaran pelatihan ini bagi kreator konten berusia maksimal 35 tahun yang berdomisili di wilayah Jabodetabek.

Peserta juga harus memiliki akun media sosial aktif dengan jumlah pengikut minimal 3.000 orang. Total kuota yang disediakan mencapai sekitar 1.000 peserta.

Pelatihan bertajuk Yasalūnaka ‘an al-Ahillah: Hilal Observation Coaching ini akan dilaksanakan pada Selasa, 17 Februari 2026, secara hybrid.

Sebanyak 30 peserta dengan jumlah pengikut terbanyak akan mengikuti kegiatan secara luring di Auditorium HM Rasjidi, Kementerian Agama, Jakarta Pusat. Sementara peserta lainnya akan mengikuti secara daring.

Skema hybrid ini dipilih agar pelatihan dapat menjangkau lebih banyak generasi muda, sekaligus tetap menjaga kualitas interaksi dan pembelajaran.

Memahami Proses Penentuan Awal Bulan

Dalam pelatihan tersebut, peserta tidak hanya diberikan informasi mengenai hasil penetapan awal Ramadan atau Idul Fitri, tetapi juga diajak memahami proses ilmiah di baliknya.

Materi yang disampaikan mencakup:

  1. Konsep dasar hilal dalam Islam
  2. Parameter astronomis dalam hisab
  3. Teknik rukyatul hilal
  4. Mekanisme sidang isbat pemerintah

Cara menyampaikan informasi falak secara sederhana

Melalui pendekatan edukasi, simulasi, dan visualisasi, peserta diperkenalkan pada instrumen pengamatan hilal serta metode pelaporan yang sesuai standar.

Arsad menegaskan bahwa pemahaman menyeluruh tentang hisab dan rukyat sangat penting agar informasi yang disampaikan kepada masyarakat tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Kami ingin para kreator memahami prosesnya secara utuh. Dengan begitu, konten yang mereka buat bersifat edukatif dan memperkuat kepercayaan publik,” katanya.

Peran Strategis Konten Kreator

Di tengah derasnya arus informasi digital, konten kreator dinilai memiliki posisi strategis sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

Informasi keagamaan yang disampaikan melalui media sosial sering kali lebih cepat diterima dan dipercaya oleh generasi muda.

Namun, tanpa pemahaman yang memadai, konten yang disajikan berpotensi menimbulkan polemik.

Oleh karena itu, Kemenag memandang perlu membekali para kreator dengan pengetahuan yang berbasis ilmu dan nilai moderasi beragama.

Menurut Arsad, edukasi yang tepat akan membantu masyarakat menyikapi perbedaan penentuan awal bulan secara dewasa dan saling menghormati.

“Perbedaan adalah hal yang wajar. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya dalam bingkai persatuan,” ujarnya.

Harapan Kemenag ke Depan

Melalui program ini, Kemenag berharap para peserta dapat menjadi mitra strategis dalam menyebarkan literasi keislaman yang moderat dan berwawasan ilmiah.

Para kreator diharapkan mampu menghadirkan konten yang tidak hanya informatif, tetapi juga menenangkan dan mencerdaskan publik.

Ke depan, Kemenag juga berkomitmen untuk terus membuka ruang kolaborasi dengan generasi muda dalam berbagai program edukasi keagamaan.

Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kualitas informasi Islam di era digital yang semakin dinamis.

Dengan sinergi antara pemerintah dan kreator konten, penetapan awal Ramadan diharapkan dapat dipahami masyarakat secara lebih utuh, rasional, dan proporsional.

#OnBerita #Kemenag #Hilal2026 #RukyatulHilal #Ramadan2026 #KontenEdukasi #LiterasiIslam #ModerasiBeragama #InfluencerMuslim #HisabRukyat

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *