Program Gentengisasi Prabowo Dorong Kebangkitan Industri Genteng Majalengka
On Berita – Jakarta – Wacana Presiden Prabowo Subianto terkait gerakan nasional penggantian atap seng menjadi genteng tanah liat disambut antusias oleh para pengrajin genteng di Jatiwangi, Kabupaten Majalengka.
Program yang dikenal sebagai “gentengisasi” ini dinilai membuka peluang besar bagi kebangkitan industri genteng rakyat yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat setempat.
Salah satu pengrajin di Desa Burujul Wetan, Kecamatan Jatiwangi, Syamsul, mengaku siap menghadapi peningkatan permintaan jika program tersebut benar-benar direalisasikan oleh pemerintah.
“Kalau memang permintaan naik, kami siap menambah produksi dan tenaga kerja,” ujar Syamsul saat ditemui di lokasi pabriknya.
Saat ini, Syamsul mengelola usaha genteng bermerek “Sri Jaya” yang telah berjalan sejak 2018.
Usaha tersebut merupakan kelanjutan dari bisnis keluarga yang dirintis ayahnya sejak 2005.
Dalam sehari, pabrik miliknya mampu memproduksi sekitar 1.800 genteng dengan melibatkan 35 orang pekerja.
Produk genteng hasil produksinya dipasarkan ke berbagai daerah, mulai dari wilayah Ciayumajakuning, Bandung, Garut, hingga Jawa Tengah seperti Semarang, Kendal, Tegal, dan Brebes.
Dalam sepekan, pengiriman dilakukan secara rutin menggunakan empat armada truk dengan jumlah mencapai belasan ribu unit genteng.
“Biasanya bisa kirim sekitar 18 ribu genteng per minggu,” katanya.
Ragam Produk dan Proses Produksi Tradisional
Dalam menjalankan usahanya, Syamsul memproduksi dua jenis genteng utama, yaitu morando dan plentong.
Genteng morando memiliki bentuk bergelombang besar, sedangkan jenis plentong cenderung lebih datar dengan gelombang kecil.
Kedua jenis tersebut tersedia dalam dua varian, yakni glazur dan natural.
Genteng glazur memiliki tampilan mengkilap karena melalui proses pewarnaan dan pembakaran tambahan, sementara genteng natural mempertahankan warna asli tanah liat.
Dari sisi harga, genteng morando glazur dijual dengan kisaran Rp 3.800 hingga Rp 4.000 per buah, sedangkan versi natural berkisar Rp 2.500 hingga Rp 2.600.
Untuk jenis plentong, harga glazur berada di rentang Rp 2.800 hingga Rp 3.000, sementara natural sekitar Rp 1.800 hingga Rp 2.000 per buah.
Proses produksi genteng di pabrik Syamsul masih mengandalkan metode tradisional.
Tanah liat yang telah dibentuk dicetak dan dipress, kemudian dijemur di bawah sinar matahari selama beberapa jam sebelum dibakar dalam tungku.
Dalam satu kali pembakaran, tungku mampu menampung hingga 8.000 genteng ukuran besar atau sekitar 15.000 genteng kecil.
Proses ini memakan waktu antara delapan hingga 12 jam, tergantung bahan bakar yang digunakan.
Khusus untuk genteng glazur, setelah pembakaran pertama, genteng diberi lapisan pewarna lalu kembali dibakar untuk menghasilkan permukaan mengkilap.
Menopang Kehidupan Pekerja Lokal
Industri genteng di Jatiwangi bukan hanya sekadar usaha produksi, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi ratusan keluarga.
Salah satu pekerja, Soleh, mengaku telah bekerja sebagai kuli panggul selama dua dekade.
“Bayarannya mingguan, alhamdulillah cukup untuk kebutuhan keluarga,” tuturnya.
Bagi para pekerja, keberlangsungan industri genteng sangat menentukan stabilitas ekonomi rumah tangga.
Karena itu, wacana gentengisasi dinilai sebagai angin segar yang dapat menjaga keberlanjutan lapangan kerja di daerah tersebut.
Dukungan DPRD dan Harapan Regulasi Jelas
Wacana Presiden Prabowo juga mendapat respons positif dari kalangan legislatif daerah.
Anggota Komisi II DPRD Majalengka, Iip Rivandi, menyatakan kebanggaannya terhadap perhatian pemerintah pusat terhadap industri genteng rakyat.
Menurutnya, kebijakan tersebut berpotensi memperkuat sektor usaha kecil dan menengah, sekaligus menjaga identitas lokal Jatiwangi sebagai sentra genteng nasional.
“Kami berharap wacana ini segera diwujudkan dalam bentuk kebijakan resmi agar manfaatnya bisa dirasakan secara berkelanjutan,” ujar Iip.
Ia menilai, regulasi yang jelas, seperti instruksi presiden atau aturan teknis lainnya, sangat diperlukan agar program gentengisasi tidak hanya menjadi wacana semata.
Komitmen Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Majalengka juga menyatakan kesiapan mendukung kebijakan penggunaan atap genteng pada bangunan publik.
Bupati Majalengka, Eman Suherman, menegaskan bahwa kebijakan tersebut sejalan dengan visi pembangunan daerah melalui program Majalengka Langkung SAE.
Menurutnya, pembangunan tidak hanya berorientasi pada fisik semata, tetapi juga harus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Penggunaan genteng adalah bentuk keberpihakan kepada produk lokal sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan,” kata Eman.
Pemkab Majalengka berencana mendorong penggunaan genteng pada gedung pemerintahan, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga infrastruktur publik lainnya.
Kebijakan ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi rakyat sekaligus membuka peluang kerja baru.
Jejak Sejarah Genteng Jatiwangi
Jatiwangi memiliki sejarah panjang sebagai sentra industri genteng.
Pada era 1980-an hingga awal 2000-an, daerah ini menjadi pemasok utama genteng ke berbagai wilayah di Indonesia, bahkan menembus pasar luar negeri.
Pada masa kejayaannya, tercatat lebih dari 600 pabrik genteng beroperasi di kawasan tersebut.
Namun, perkembangan kawasan industri, pembangunan infrastruktur besar, serta perubahan preferensi generasi muda menyebabkan industri genteng rakyat mengalami penurunan.
Saat ini, jumlah pabrik yang masih bertahan diperkirakan hanya sekitar 120 unit.
Banyak generasi muda memilih bekerja di sektor manufaktur modern yang dianggap lebih menjanjikan.
Harapan Kebangkitan Industri Genteng
Melalui program gentengisasi, para pengrajin berharap industri genteng Jatiwangi dapat kembali bangkit.
Program ini dipandang sebagai momentum untuk menghidupkan kembali sektor ekonomi tradisional yang sempat terpinggirkan.
Dengan dukungan kebijakan pemerintah pusat dan daerah, serta partisipasi aktif pelaku usaha, industri genteng di Jatiwangi diharapkan mampu tumbuh secara berkelanjutan dan menjadi pilar ekonomi lokal di masa depan.
#OnBerita #Gentengisasi #Jatiwangi #PengrajinGenteng #EkonomiRakyat #Majalengka #UMKM #ProdukLokal #Prabowo #IndustriRakyat
Penulis : Rizky Saptanugraha
Editor : Ali Ramadhan
