Makin Jauh dari AS, Inggris Bangun Kemitraan Strategis dengan China
On Berita – Jakarta – Hubungan dagang antara Inggris dan China memasuki babak baru setelah kedua negara sepakat memperdalam kemitraan strategis di tengah dinamika ekonomi global yang semakin tidak menentu.
Kesepakatan ini tercapai usai pertemuan antara Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dan Presiden China, Xi Jinping, di Beijing pada akhir Januari 2026.
Pertemuan tersebut menjadi momen bersejarah karena menjadikan Keir Starmer sebagai pemimpin Inggris pertama yang melakukan kunjungan resmi ke China dalam delapan tahun terakhir.
Kunjungan ini juga dinilai sebagai sinyal kuat bahwa Inggris mulai mengambil arah kebijakan luar negeri dan perdagangan yang lebih mandiri, di luar bayang-bayang Amerika Serikat.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin sepakat untuk memperkuat kerja sama di berbagai sektor strategis, khususnya perdagangan, investasi, jasa, serta mobilitas warga negara.
Langkah ini dilakukan sebagai respons atas meningkatnya ketidakpastian global, mulai dari konflik geopolitik, perang dagang, hingga perlambatan ekonomi dunia.
Kebijakan Bebas Visa Jadi Pintu Masuk Kerja Sama
Salah satu poin utama dalam kesepakatan tersebut adalah kebijakan bebas visa bagi warga negara Inggris yang berkunjung ke China hingga 30 hari.
Kebijakan ini dinilai sebagai langkah konkret untuk mendorong interaksi bisnis dan pariwisata antara kedua negara.
Keir Starmer menegaskan bahwa kebijakan tersebut akan memberikan dampak langsung terhadap dunia usaha Inggris.
Menurutnya, China sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia merupakan pasar yang sangat potensial bagi pelaku bisnis Inggris.
Dengan kemudahan visa, perusahaan-perusahaan Inggris diharapkan dapat lebih mudah menjalin kemitraan, membuka kantor perwakilan, serta memperluas jaringan usaha di China.
Selain itu, kebijakan bebas visa juga membuka peluang bagi masyarakat umum untuk berwisata dan memperluas pertukaran budaya, yang pada akhirnya memperkuat hubungan bilateral secara menyeluruh.
Fokus pada Sektor Jasa dan Investasi
Selain kemudahan perjalanan, Inggris dan China juga sepakat untuk menjajaki kemungkinan negosiasi perjanjian di sektor jasa.
Kesepakatan ini akan mengatur berbagai aspek hukum dan operasional bagi perusahaan Inggris yang berbisnis di China.
Beberapa sektor jasa yang menjadi fokus utama meliputi:
- Jasa keuangan dan perbankan
- Layanan kesehatan dan farmasi
- Jasa hukum dan konsultasi
- Pendidikan dan pelatihan professional
- Teknologi dan inovasi digital
Inggris sendiri dikenal sebagai salah satu eksportir jasa terbesar di dunia.
Oleh karena itu, peningkatan akses ke pasar China dianggap sangat penting untuk menjaga daya saing ekonomi nasional.
Pemerintah Inggris menilai bahwa permintaan China terhadap layanan berkualitas tinggi terus meningkat, seiring dengan pertumbuhan kelas menengah dan modernisasi sektor industri di negara tersebut.
Upaya Menjaga Keseimbangan Diplomasi
Meski mempererat hubungan dengan China, Keir Starmer menegaskan bahwa Inggris tetap berupaya menjaga keseimbangan dalam kebijakan luar negerinya.
Ia menyebut bahwa dialog dengan China juga dimanfaatkan untuk membahas berbagai isu sensitif yang selama ini menjadi perbedaan pandangan.
Menurut Starmer, kerja sama tidak berarti mengabaikan perbedaan, melainkan membuka ruang komunikasi yang lebih terbuka dan konstruktif.
Pemerintah Inggris menilai pendekatan diplomasi dialog lebih efektif dibandingkan konfrontasi, terutama dalam menghadapi tantangan global yang kompleks.
Bayang-Bayang Tekanan dari Amerika Serikat
Langkah Inggris memperkuat hubungan dengan China tidak terlepas dari sorotan tajam Amerika Serikat.
Di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, AS menunjukkan sikap keras terhadap negara-negara yang menjalin kemitraan strategis dengan China.
Trump bahkan menyebut bahwa hubungan dekat dengan China dapat membawa risiko serius bagi keamanan dan stabilitas ekonomi negara mitranya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan dagang antara AS dan beberapa sekutunya.
Situasi ini menempatkan Inggris dalam posisi yang cukup dilematis, yaitu:
- Menjaga hubungan tradisional dengan AS
- Mengamankan kepentingan ekonomi nasional
- Menghindari ketergantungan berlebihan pada satu pihak
- Memperluas pasar global secara mandiri
Pemerintah Inggris tampaknya memilih jalur pragmatis dengan memperluas kemitraan tanpa sepenuhnya memutus hubungan dengan Washington.
Kritik dari Oposisi Dalam Negeri
Kunjungan Keir Starmer ke China juga menuai kritik dari sejumlah pihak di dalam negeri.
Partai oposisi, khususnya Partai Konservatif, mempertanyakan timing dan urgensi kerja sama tersebut.
Pemimpin Partai Konservatif, Kemi Badenoch, menyatakan bahwa ia tidak akan memilih melakukan kunjungan ke China dalam situasi geopolitik yang penuh ketegangan seperti saat ini.
Menurut kelompok oposisi, Inggris perlu lebih berhati-hati agar tidak terjebak dalam ketergantungan ekonomi terhadap China yang dapat berdampak pada kebijakan strategis di masa depan.
Strategi Ekonomi Pasca-Brexit
Pengamat menilai bahwa pendekatan Inggris terhadap China tidak dapat dilepaskan dari dampak Brexit.
Sejak keluar dari Uni Eropa, Inggris terus mencari mitra dagang baru untuk menggantikan akses pasar Eropa yang semakin terbatas.
Kerja sama dengan China dinilai sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk:
- Memperluas pasar ekspor
- Menarik investasi asing
- Meningkatkan lapangan kerja
- Menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi
- Memperkuat posisi global Inggris
Dengan populasi besar dan daya beli yang terus meningkat, China dianggap sebagai mitra strategis yang sulit diabaikan.
Arah Baru Politik Luar Negeri Inggris
Kesepakatan antara Inggris dan China mencerminkan perubahan pendekatan politik luar negeri London yang semakin fleksibel.
Inggris tidak lagi sepenuhnya mengikuti garis kebijakan AS, tetapi mulai membangun poros kerja sama yang lebih beragam.
Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan diplomasi di tengah persaingan global yang semakin tajam.
Ke depan, hubungan Inggris-China diperkirakan akan terus berkembang, meski tetap dibayangi tantangan geopolitik dan tekanan dari negara-negara Barat lainnya.
#InggrisChina #KerjaSamaDagang #KeirStarmer #XiJinping #GeopolitikGlobal #PerdaganganInternasional #EkonomiDunia #PolitikLuarNegeri #PascaBrexit
Penulis : Rizky Saptanugraha
Editor : Ali Ramadhan
