Ternyata Emiten Konstruksi Non-BUMN Membeli Saham BUMI
3 mins read

Ternyata Emiten Konstruksi Non-BUMN Membeli Saham BUMI

On Berita – Jakarta – Fenomena reli berjilid terus menarik perhatian PT Bumi Resources Tbk (BUMI).

Sepekan terakhir, BUMI naik 26,23% ke posisi 462 saat artikel ini ditulis, dan mungkin akan naik lagi ke level 500.

Laju saham BUMI yang terus meningkat menimbulkan kebenaran baru.

Ternyata PT Paramita Bangun Sarana Tbk (PBSA), sebuah perusahaan konstruksi non-BUMN Karya, memiliki saham di perusahaan tambang yang dimiliki oleh konglomerat Grup Bakrie dan Salim.

Dalam laporan keuangan yang berakhir pada 30 September 2025, PBSA mengungkapkan bahwa perusahaan melakukan investasi jangka pendek berupa saham pada beberapa perusahaan publik.

Salah satunya, per 31 Desember 2024, perusahaan memiliki 100 juta saham BUMI senilai Rp11,8 miliar.

Selain menempatkan modal ke saham BUMI, PT Ascend Bangun Persada dan PT Sigma Mutiara menginvestasikan 100 ribu saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP), yang dimiliki Grup Sinar Mas, dengan nilai pasar sebesar Rp735 juta pada 30 September 2025.

Pada 30 September 2025, PBSA mengumumkan telah menjual sebagian investasi jangka pendek dan mengantongi untung sebesar Rp5,67 miliar dari penjualan saham.

Selain itu, pada 18 Juli 2025 dan 19 Juli 2024, PBSA juga menerima dividen dari INKP sebesar Rp5 juta dan Rp249 juta.

Grup juga memiliki unit penyertaan pada reksa dana yang ditempatkan melalui Bank Kustodian yaitu PT Bank Danamon Indonesia Tbk dan PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR),” bunyi laporan keuangan PBSA dikutip, Senin (5/1/2026).

Per 30 September 2025, PBSA telah menyertakan 46.255.167 reksa dana di KPD Nusadana, 25.585.166 reksa dana di Juara Capital, dan 92.390.981 reksa dana di Nusadana Fixed Income.

Menurut informasi dari Phintraco Sekuritas, investasi PBSA yang dikucurkan baik dalam bentuk reksa dana maupun saham berfungsi sebagai penyangga (buffer).

Investasi total mencapai Rp181 miliar, sebagian besar ditempatkan ke reksa dana (afiliasi Nusadana dan Juara Capital).Menurut Phintraco, klien besar lintas sektor seperti Shell, Bali United, dan Grup Sinar Mas akan mendukung prospek bisnis PBSA.

Namun, pertumbuhannya akan bergantung pada pipeline proyek baru.

Dalam hal kinerja keuangan, PBSA membukukan pendapatan sepanjang sembilan bulan tahun ini sebesar Rp1,02 triliun, naik 43,9% secara tahunan berkat peningkatan kontribusi segmen konstruksi sebesar 66,1% setiap tahun.

Laba bruto naik 45,4% setiap tahun ke Rp207 miliar, Gross Profit Margin (GPM) tetap di 20,3%, dan COGS meningkat seiring dengan aktivitas proyek.

Hasilnya, selama periode 9M25, laba bersih PBSA meningkat 12,4% secara yoy menjadi Rp157,4 miliar, dengan NPM turun ke 15,4% sebagai akibat dari kenaikan pajak akhir dan normalisasi pendapatan non-operasi.

Secara teknikal, Phintraco melihat bahwa PBSA memasuki fase konsolidasi bullish (konsolidasi kuat) setelah sebelumnya mengalami reli yang kuat.

Sepertinya tekanan jual mulai mereda, harga masih berada di atas area pivot dari Rp1.550–1.560.Saham PBSA ditutup menguat sebanyak 7,42% ke 1.665 pada perdagangan sesi I hari Senin, 5 Januari 2026.

Peningkatan volume diikuti dengan kenaikan, yang menunjukkan respons beli di area support. “Selama harga tidak breakdown di bawah support mayor, struktur uptrend menengah masih terjaga,” kata Phintraco.

Phintraco menetapkan target harga saham PBSA di area 1.835–2.005 dan menyarankan investor untuk stop loss di 1.445 dan 1.360.

Mereka juga menyarankan untuk membeli pada breakout jika PBSA berakhir di lebih dari 1.655 dan membeli pada kelemahan di area 1.520–1.560.

#OnBerita #SahamBUMI #PasarModal #InvestasiSaham #EmitenKonstruksi #BursaEfekIndonesia #SahamIndonesia

Penulis : Muhidin

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *