Mengenal Romo Mudji Sutrisno SJ, Tokoh Katolik dan Pejuang Dialog Kemanusiaan
3 mins read

Mengenal Romo Mudji Sutrisno SJ, Tokoh Katolik dan Pejuang Dialog Kemanusiaan

On Berita – Jakarta – Indonesia kembali kehilangan salah satu figur penting dalam dunia pemikiran, kebudayaan, dan kehidupan keagamaan.

Romo Fransiskus Xaverius Mudji Sutrisno SJ dikenal luas sebagai imam Katolik dari Serikat Yesus, akademisi filsafat, budayawan, sekaligus intelektual publik yang konsisten menyuarakan nilai kemanusiaan, dialog, dan etika sosial.

Sosoknya melampaui batas institusi keagamaan, karena pemikirannya diterima di ruang akademik, budaya, hingga ranah demokrasi.

Romo Mudji Sutrisno lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 12 Agustus 1954.

Lingkungan budaya Jawa yang kuat sejak masa kecil membentuk kepekaan sosial dan kedalaman reflektifnya.

Nilai-nilai kebijaksanaan lokal, seperti laku prihatin, tenggang rasa, dan keselarasan hidup, menjadi fondasi awal yang kelak berpadu dengan pemikiran filsafat Barat dan spiritualitas Katolik.

Panggilan hidup religius membawanya bergabung dengan Serikat Yesus (Jesuit), sebuah tarekat yang dikenal menekankan pendidikan, intelektualitas, dan keterlibatan sosial.

Dalam proses formasi tersebut, Romo Mudji tidak hanya ditempa secara spiritual, tetapi juga secara akademik.

Ia kemudian melanjutkan studi filsafat hingga jenjang doktoral di Universitas Kepausan Gregoriana, Roma, salah satu pusat pemikiran Katolik dunia.

Pendidikan internasional ini memperluas wawasannya tentang tradisi filsafat, etika, dan teologi kontemporer.

Sekembalinya ke Indonesia, Romo Mudji mendedikasikan dirinya sebagai pendidik di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta.

Di lingkungan akademik, ia dikenal sebagai dosen yang kritis, terbuka, dan menantang mahasiswa untuk berpikir mendalam.

Bagi Romo Mudji, filsafat bukan sekadar teori, melainkan cara hidup yang membantu manusia membaca realitas dengan jernih dan bertanggung jawab.

Tak hanya berkiprah di dunia kampus, Romo Mudji juga pernah terlibat langsung dalam proses demokrasi nasional.

Pada awal era reformasi, ia dipercaya menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Keterlibatan ini menunjukkan komitmennya bahwa kaum intelektual dan rohaniwan tidak boleh menjauh dari persoalan publik.

Ia kerap menekankan bahwa demokrasi sejati tidak berhenti pada prosedur pemilu, tetapi harus ditopang oleh etika, kejujuran, dan keberpihakan pada martabat manusia.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, Romo Mudji Sutrisno dikenal sebagai pegiat dialog lintas iman.

Ia meyakini bahwa agama seharusnya hadir sebagai kekuatan yang mempersatukan, bukan memecah belah.

Melalui tulisan, diskusi, dan perjumpaan antar komunitas, ia secara konsisten merawat pluralisme dan toleransi.

Sikapnya yang inklusif membuatnya dihormati tidak hanya oleh umat Katolik, tetapi juga oleh tokoh lintas agama dan kalangan intelektual nasional.

Bagi para murid dan koleganya, Romo Mudji adalah teladan seorang guru sejati.

Ia mengajarkan keberanian berpikir kritis tanpa kehilangan kerendahan hati, beriman tanpa eksklusivisme, serta rasional tanpa menanggalkan empati.

Warisan terbesarnya bukan hanya karya tulis atau jabatan yang pernah diemban, melainkan cara berpikir dan bersikap yang ia tanamkan pada banyak generasi.

Kepergian Romo Mudji Sutrisno SJ meninggalkan duka mendalam, namun juga mewariskan nilai-nilai yang terus hidup.

Di tengah dunia yang kerap terpolarisasi, pesan-pesannya tentang dialog, etika, dan kemanusiaan tetap relevan untuk dijadikan pegangan bersama.

#OnBerita #RomoMudjiSutrisno #TokohKatolik #IntelektualIndonesia #DialogLintasIman #Budayawan #ImamJesuit

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *