Hari Bela Negara ke-77: Refleksi Sejarah dan Tantangan Bela Negara Modern
On Berita – Jakarta – Menjelang 19 Desember 2025, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Bela Negara (HBN).
Momentum ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan pengingat penting akan perjuangan mempertahankan eksistensi negara di tengah ancaman yang pernah dan masih terus berkembang hingga saat ini.
Peringatan Hari Bela Negara setiap tahunnya diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari upacara resmi, diskusi kebangsaan, hingga kampanye kesadaran bela negara di lingkungan pendidikan dan masyarakat.
Tahun 2025, HBN kembali mengajak seluruh warga negara untuk merefleksikan peran dan tanggung jawabnya dalam menjaga kedaulatan dan persatuan Indonesia.
Pengertian Bela Negara
Mengacu pada panduan resmi Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, bela negara dimaknai sebagai tekad, sikap, dan tindakan warga negara, baik secara individu maupun kolektif, yang dilandasi kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Bela negara tidak hanya diwujudkan melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui kontribusi di berbagai bidang kehidupan, seperti pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, hingga ruang digital.
Nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjadi landasan utama dalam menjalankan semangat bela negara.
Dalam konteks kekinian, bela negara merupakan kewajiban dasar sekaligus kehormatan bagi setiap warga negara.
Kesadaran, tanggung jawab, dan kesiapan berkorban menjadi kunci agar bangsa Indonesia tetap tangguh menghadapi tantangan zaman.
Tantangan Geopolitik dan Ancaman Modern
Letak geografis Indonesia yang berada di persilangan dua benua dan dua samudra menjadikannya wilayah strategis dalam percaturan global.
Kondisi tersebut membuka peluang sekaligus risiko terhadap stabilitas nasional.
Perubahan dinamika politik, ekonomi, teknologi, dan keamanan di tingkat nasional maupun internasional melahirkan beragam bentuk ancaman, baik militer maupun nonmiliter.
Ancaman siber, disinformasi, krisis ekonomi, hingga radikalisme menjadi tantangan nyata yang menuntut kesiapsiagaan seluruh elemen bangsa.
Oleh karena itu, bela negara tidak lagi dipahami secara sempit, melainkan sebagai karakter mental dan sikap hidup warga negara yang adaptif, tangguh, serta siap menjaga keutuhan bangsa dalam situasi apa pun.
Sejarah Lahirnya Hari Bela Negara
Hari Bela Negara berakar dari peristiwa penting pada 19 Desember 1948, ketika Belanda melancarkan Agresi Militer Belanda II ke Yogyakarta, yang saat itu berstatus sebagai ibu kota Republik Indonesia.
Dalam serangan mendadak tersebut, Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan sejumlah pejabat tinggi negara ditangkap oleh Belanda.
Situasi ini menjadi salah satu ujian terberat bagi kelangsungan Republik Indonesia yang baru merdeka.
Namun, sebelum penangkapan terjadi, Presiden Soekarno mengambil langkah strategis dengan memberikan mandat kepada Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi, Sumatera Barat.
Keberadaan PDRI menjadi bukti bahwa negara tetap berjalan meski pusat pemerintahan berada dalam tekanan.
Peristiwa tersebut kemudian dikenang sebagai simbol nyata bela negara, di mana keberanian, kecerdikan, dan solidaritas rakyat menjadi fondasi utama mempertahankan kedaulatan Indonesia.
Tema Hari Bela Negara 2025
Pada tahun 2025, peringatan Hari Bela Negara memasuki usia ke-77 dengan mengusung tema:
“Teguhkan Bela Negara untuk Indonesia Maju.”
Tema ini menegaskan pentingnya memperkuat semangat bela negara sebagai modal utama menuju kemajuan bangsa.
Nilai-nilai sejarah diharapkan tidak berhenti sebagai narasi masa lalu, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata di kehidupan sehari-hari.
Melalui tema tersebut, pemerintah mengajak seluruh masyarakat—dari pelajar, pekerja, hingga pemangku kebijakan—untuk berkontribusi sesuai peran masing-masing demi Indonesia yang berdaulat, bersatu, dan berdaya saing.
#OnBerita #HariBelaNegara #HBN2025 #BelaNegara #IndonesiaMaju #SejarahIndonesia
Penulis : Rizky Saptanugraha
Editro : Ali Ramadhan
