Munas-Konbes NU 2026, Gus Hasbi Tekankan Peran Ulama Nonstruktural
4 mins read

Munas-Konbes NU 2026, Gus Hasbi Tekankan Peran Ulama Nonstruktural

On Berita – Jakarta – Pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso Kediri, KH Ahmad Hasbi Munif atau Gus Hasbi, menegaskan pentingnya melibatkan para ulama dan kiai yang berada di luar struktur organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dalam proses pengambilan keputusan strategis organisasi.

Menurutnya, kekuatan NU selama ini tidak hanya ditopang oleh struktur kelembagaan, tetapi juga oleh peran para ulama yang mengabdi melalui pesantren, majelis ilmu, dan ruang-ruang dakwah di tengah masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Gus Hasbi saat memberikan sambutan dalam pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 yang digelar di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2026).

Dalam sambutannya, Gus Hasbi mengingatkan bahwa Nahdlatul Ulama sejak awal berdiri merupakan rumah besar yang dibangun oleh para ulama dengan beragam bentuk pengabdian.

Sebagian berkiprah melalui struktur organisasi, sementara lainnya mengabdikan diri melalui pendidikan pesantren maupun pengembangan keilmuan di tengah masyarakat.

“NU adalah rumah besar yang dibangun oleh para ulama, yang mana sebagian ulama mengabdi melalui struktur, sebagian lagi mengabdi melalui pondok pesantren. Ada pula ulama yang berada di majelis-majelis ilmu yang pengaruh keilmuannya telah hidup di tengah umat,” ujar Gus Hasbi.

Menurutnya, keberadaan ulama nonstruktural memiliki kontribusi yang tidak kalah penting dalam menjaga arah perjuangan organisasi.

Oleh karena itu, keterlibatan mereka dalam proses pengambilan kebijakan strategis perlu terus dijaga agar keputusan yang dihasilkan tetap mencerminkan aspirasi dan hikmah kolektif para ulama.

“Oleh karena itu kami berharap dalam setiap pengambilan keputusan yang menentukan arah jam’iyyah, hendaknya Nahdlatul Ulama mampu menghadirkan seluruh yang berada di dalam struktur maupun berada di luar struktur,” katanya.

Gus Hasbi juga menegaskan bahwa ukuran kebesaran seorang ulama tidak ditentukan oleh jabatan atau posisi organisatoris yang diembannya.

Menurutnya, yang menjadi ukuran utama adalah keluasan ilmu, kedalaman hikmah, serta pengaruh positif yang diberikan kepada umat.

“Sebab kita semua mengetahui bahwa kebesaran seorang ulama tidak ditentukan oleh jabatan yang beliau pegang, tetapi oleh keluasan ilmu, kedalaman hikmah, dan keberkahan pengaruhnya di tengah umat,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia berharap Munas dan Konbes NU 2026 tidak hanya menghasilkan keputusan administratif dan organisatoris semata, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat persatuan serta menjaga amanah perjuangan para pendiri Nahdlatul Ulama.

Menurut Gus Hasbi, organisasi yang kuat bukan hanya ditopang oleh sistem administrasi yang baik, melainkan juga oleh kedekatan dengan para ulama yang menjadi sumber nilai dan kebijaksanaan.

Karena itu, ia mengingatkan agar mekanisme organisasi yang dibangun tidak sampai menciptakan jarak antara pengambil keputusan dengan para ulama sepuh yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan NU.

“Jangan sampai lahir satu mekanisme yang secara administratif sempurna, tetapi secara kultural membuat sebagian ulama sepuh merasa jauh dari proses yang menentukan masa depan jam’iyyah,” ujarnya.

Dalam pandangannya, struktur organisasi memang diperlukan untuk memastikan tata kelola berjalan efektif.

Namun, keberadaan struktur harus tetap berjalan seiring dengan nilai-nilai hikmah yang diwariskan para ulama.

“Struktur adalah alat, sedangkan hikmah para ulama adalah ruh. Jamiyyah ini akan kokoh apabila keduanya berjalan beriringan,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, Gus Hasbi juga menyampaikan rasa syukur atas kepercayaan yang diberikan kepada Pondok Pesantren Al Falah Ploso sebagai tuan rumah Munas dan Konbes NU 2026. Ia menegaskan bahwa hubungan antara pesantren dan Nahdlatul Ulama merupakan hubungan yang tidak dapat dipisahkan karena keduanya lahir dari akar sejarah dan tradisi yang sama.

“NU adalah pesantren besar, sementara pesantren merupakan NU dalam bentuk yang lebih kecil. Keduanya lahir dari rahim yang sama, tumbuh dengan ruh yang sama, dan berjalan di atas manhaj yang sama,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut menjadi pengingat bahwa penguatan organisasi Nahdlatul Ulama ke depan tidak hanya bertumpu pada sistem kelembagaan, tetapi juga pada keterlibatan seluruh elemen ulama yang selama ini menjadi fondasi moral dan intelektual jam’iyyah.

#OnBerita #NahdlatulUlama #NU #MunasNU2026 #KonbesNU2026 #GusHasbi #KHAhmadHasbiMunif #PesantrenPloso #PonpesAlFalah #Kediri #UlamaNU #KiaiNU #Nahdliyin #OrganisasiKeagamaan #IslamIndonesia

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *