KH Miftachul Akhyar: Syawal Bulan Peningkatan Dzikir dan Amal
2 mins read

KH Miftachul Akhyar: Syawal Bulan Peningkatan Dzikir dan Amal

On Berita – Jakarta – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Miftachul Akhyar, menyampaikan bahwa bulan Syawal merupakan momentum bagi umat Islam untuk meningkatkan kualitas dzikir dan amal ibadah setelah menjalani bulan Ramadhan.

Menurutnya, Ramadhan adalah proses pendidikan spiritual, sedangkan Syawal adalah tahap peningkatan dari hasil pendidikan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa secara makna, Syawal dapat diartikan sebagai peningkatan atau kenaikan derajat.

Oleh karena itu, setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, shalat tarawih, membaca Al-Qur’an, serta berbagai amalan lainnya di bulan Ramadhan, umat Islam seharusnya tidak kembali pada kebiasaan lama yang kurang baik.

Justru, Syawal menjadi waktu untuk mempertahankan bahkan meningkatkan kualitas ibadah yang telah dilakukan selama Ramadhan.

Kiai Miftach, sapaan akrabnya, menekankan bahwa salah satu amalan yang perlu ditingkatkan pada bulan Syawal adalah dzikir.

Namun, dzikir yang dimaksud bukan hanya sekadar ucapan lisan, melainkan juga dzikir yang hadir dalam hati.

Ia menjelaskan bahwa orang yang benar-benar berdzikir adalah orang yang hatinya selalu ingat kepada Allah dalam setiap keadaan.

Menurutnya, untuk mencapai tingkat tersebut, seseorang harus melatih diri secara terus-menerus.

Dzikir harus menjadi kebiasaan, bukan hanya dilakukan pada waktu-waktu tertentu saja.

Jika seseorang sudah terbiasa berdzikir dan mengingat Allah, maka seluruh aktivitas hidupnya akan selalu diarahkan kepada kebaikan dan ibadah.

Ia juga mengingatkan bahwa menjadi ahli dzikir bukan berarti hanya memperbanyak dzikir dan melupakan kewajiban lainnya.

Ibadah wajib tetap harus menjadi prioritas utama, sementara ibadah sunnah dilakukan sebagai pelengkap untuk menyempurnakan ibadah wajib.

Dengan menjalankan kewajiban dan memperbanyak amalan sunnah secara konsisten, seseorang dapat mencapai tingkat keimanan yang lebih tinggi.

Dalam penjelasannya, ia juga menyebutkan bahwa pada tingkat tertentu, seorang hamba akan merasakan manisnya dzikir dan manisnya iman.

Pada tahap tersebut, seseorang akan merasakan ketenangan hati dan kedekatan dengan Allah dalam setiap aktivitas yang dilakukan.

Semua tindakan dan keputusan yang diambil akan selalu berlandaskan nilai-nilai kebaikan dan keimanan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa orang yang selalu mengingat Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya akan mendapatkan kasih sayang Allah.

Bahkan dalam ajaran Islam disebutkan bahwa Allah mengetahui apa yang dibutuhkan hamba-Nya, bahkan sebelum hamba tersebut mengucapkan doa.

Meski demikian, manusia tetap dianjurkan untuk berdoa sebagai bentuk pengakuan bahwa manusia selalu membutuhkan pertolongan dan bergantung kepada Allah.

Melalui momentum bulan Syawal ini, ia mengajak umat Islam untuk tidak menurunkan kualitas ibadah setelah Ramadhan berakhir.

Syawal harus dijadikan sebagai awal peningkatan ibadah, peningkatan dzikir, serta peningkatan amal kebaikan agar nilai-nilai Ramadhan tetap terjaga dalam kehidupan sehari-hari.

#OnBerita #Syawal #KHMiftachulAkhyar #PBNU #Dzikir #Ramadhan #Ibadah #UmatIslam #BeritaIslam #Dakwah

Editor : Rizky Saptanugraha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *