Bangkit Setelah Banjir: LPBI-NU Dampingi Anak-Anak Terdampak Lewat SHT An-Nahdliyah di Padang Pariaman
On Berita – Jakarta – Pascabencana banjir yang melanda wilayah Sumbar dan sekitarnya, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI-NU) melaksanakan Dukungan Psikososial Anak melalui metode Self Healing Therapy (SHT) An-Nahdliyah, Sabtu (24/01/2026), di Yayasan Kampung Sholawat, Jalan Katapiang, Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat.
Kegiatan ini merupakan respons kemanusiaan LPBI-NU terhadap dampak non-fisik banjir, khususnya tekanan psikologis yang dialami anak-anak seperti rasa takut, cemas, dan kehilangan rasa aman.
Melalui pendekatan psikososial yang terstruktur dan ramah anak, LPBI-NU berupaya membantu anak-anak bangkit secara mental dan emosional agar mampu kembali menjalani aktivitas belajar dan sosial secara wajar.

Program SHT An-Nahdliyah dirancang dalam tiga tahap kunjungan yang saling berkesinambungan.
Kunjungan pertama difokuskan pada pembangunan keakraban, autosugesti, dan motivasi kebangkitan mental.
Anak-anak diajak mengikuti aktivitas sederhana dan menyenangkan seperti lompat zig-zag, pijat pundak, dan usap wajah untuk mencairkan suasana dan membangun rasa aman.
Kegiatan dilanjutkan dengan autosugesti positif melalui afirmasi “Aku baik-baik saja, aku happy-happy saja, aku sehat-sehat saja” yang ditutup dengan yel-yel “Yes” sebanyak tiga kali, serta penguatan motivasi An-Nahdliyah “Aku harus bangkit, karena aku kuat, aku yakin, aku pasti bisa.”
Pada kunjungan kedua, LPBI-NU merencanakan materi Terapi Bermain dan Terapi Tawa sebagai sarana pelepasan ketegangan emosi akibat pengalaman banjir.
Pendekatan ini diharapkan dapat mengembalikan keceriaan, memperkuat interaksi sosial, dan menumbuhkan emosi positif anak melalui permainan edukatif dan aktivitas tawa bersama.

Sementara itu, kunjungan ketiga akan difokuskan pada Terapi Ho’oponopono dan doa muhasabah, sebagai upaya pemulihan batin dan spiritual.
Pendekatan reflektif ini disampaikan secara sederhana, religius, dan kontekstual dengan budaya setempat, guna membantu anak menerima pengalaman traumatik, memaafkan, dan menumbuhkan ketenangan jiwa.
Rakimin selaku Koordinator kegiatan ini menegaskan bahwa pemulihan psikososial anak pascabencana banjir tidak dapat dilakukan secara instan.
“Banjir meninggalkan jejak trauma yang tidak selalu tampak. SHT An-Nahdliyah kami rancang bertahap agar anak merasa aman terlebih dahulu, kemudian ceria kembali, dan akhirnya pulih secara batin. Jika dilakukan berkelanjutan dan didukung keluarga serta sekolah, pemulihan anak bisa berjalan lebih optimal,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa tindak lanjut kegiatan akan dilakukan melalui pendampingan lanjutan serta koordinasi dengan orang tua dan pendidik, agar proses pemulihan psikososial sejalan dengan pemulihan lingkungan dan kegiatan sekolah sehari-hari.
Riza salah satu anak peserta kegiatan mengungkapkan perubahan perasaannya setelah mengikuti sesi pendampingan.
“Setelah banjir saya sering takut dan susah tidur. Tapi setelah ikut kegiatan ini, rasanya lebih senang dan berani. Saya bisa ketawa dan main lagi sama teman-teman,” tuturnya.
Anak tersebut berharap kondisi segera membaik.
“Semoga tidak banjir lagi, sekolah cepat normal, dan kami bisa belajar setiap hari,” tambahnya.
Melalui kegiatan ini, LPBI-NU berharap dukungan psikososial anak menjadi bagian penting dari pemulihan pascabencana banjir, sekaligus menguatkan kesadaran publik bahwa pemulihan bencana tidak hanya menyangkut infrastruktur, tetapi juga kesehatan mental dan masa depan anak-anak.
