Sekolah Selama Ramadan 2026 Tetap Efektif, Ini Skema Pembelajaran Pemerintah
3 mins read

Sekolah Selama Ramadan 2026 Tetap Efektif, Ini Skema Pembelajaran Pemerintah

On Berita – Jakarta – Pemerintah resmi menetapkan kebijakan pengaturan pembelajaran bagi murid selama Bulan Ramadan 2026 dengan menitikberatkan pada penguatan nilai keagamaan, pembentukan karakter, serta keberlanjutan proses pendidikan secara seimbang.

Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga efektivitas pembelajaran tanpa mengabaikan kekhusyukan ibadah di bulan suci.

Kesepakatan tersebut dihasilkan dalam Rapat Tingkat Menteri (RTM) yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno di Kantor Kemenko PMK pada Kamis (5/2/2026).

Dalam rapat tersebut, pemerintah menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga menjadi sarana strategis dalam membangun karakter generasi muda.

Pratikno menilai bahwa proses belajar selama Ramadan perlu diarahkan secara adaptif.

Pembelajaran tidak semata-mata berfokus pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan sikap religius, empati sosial, dan kebiasaan positif.

“Ramadan adalah momentum pendidikan karakter. Pembelajaran harus memperkuat nilai keagamaan sesuai keyakinan murid, sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial,” ujar Pratikno.

Penguatan Nilai Keagamaan dalam Pembelajaran

Dalam kebijakan tersebut, pemerintah mendorong sekolah untuk memperkuat materi keagamaan secara proporsional.

Bagi peserta didik beragama Islam, kegiatan pembelajaran dapat diisi dengan tadarus Alquran, pesantren kilat, kajian keislaman, serta pembinaan akhlak.

Sementara itu, murid non-Muslim difasilitasi melalui kegiatan bimbingan rohani sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.

Pendekatan ini dinilai penting agar seluruh peserta didik tetap mendapatkan ruang pembinaan spiritual tanpa merasa terpinggirkan.

Dengan demikian, suasana belajar selama Ramadan tetap inklusif dan kondusif.

Menjaga Efektivitas Pembelajaran di Bulan Puasa

Salah satu tantangan utama pembelajaran selama Ramadan adalah menurunnya stamina dan konsentrasi siswa akibat perubahan pola makan dan jam istirahat.

Oleh karena itu, pemerintah mendorong satuan pendidikan untuk menyesuaikan metode pembelajaran.

Beberapa strategi yang dianjurkan antara lain:

  1. Menyederhanakan materi tanpa mengurangi substansi.
  2. Mengoptimalkan pembelajaran berbasis diskusi dan refleksi.
  3. Mengurangi aktivitas fisik yang terlalu berat.
  4. Memberikan ruang istirahat yang cukup.

Dengan penyesuaian tersebut, diharapkan siswa tetap mampu mengikuti pelajaran secara optimal meskipun sedang berpuasa.

Penguatan Karakter Melalui Kegiatan Sosial

Selain aspek akademik dan spiritual, pembelajaran Ramadan juga diarahkan untuk memperkuat karakter sosial.

Sekolah didorong mengadakan berbagai kegiatan positif, seperti berbagi takjil, santunan sosial, lomba keagamaan, hingga kegiatan literasi religius.

Pratikno menekankan pentingnya pembiasaan nilai gotong royong dan empati sejak dini.

Program seperti gerakan satu jam tanpa gawai dan pembiasaan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat turut menjadi bagian dari kebijakan tersebut.

“Kita ingin anak-anak belajar peduli terhadap sesama dan membangun kebiasaan hidup yang sehat,” katanya.

Skema Pembelajaran Ramadan 2026

Berdasarkan hasil rapat, pemerintah menetapkan skema pembelajaran sebagai berikut:

  • Pembelajaran di luar satuan pendidikan: 18–20 Februari 2026
  • Pembelajaran tatap muka: 23 Februari–16 Maret 2026
  • Libur pasca-Ramadan: 23–27 Maret 2026

Pemerintah daerah dan sekolah diberi kewenangan untuk mengatur teknis pelaksanaan sesuai kondisi lokal, selama tidak bertentangan dengan kebijakan nasional.

Harapan terhadap Dunia Pendidikan

Melalui kebijakan ini, pemerintah berharap pembelajaran selama Ramadan tetap berjalan efektif, bermakna, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.

Keseimbangan antara ibadah, belajar, dan pengembangan karakter menjadi kunci utama keberhasilan program ini.

Turut hadir dalam rapat tersebut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti serta perwakilan kementerian dan lembaga terkait lainnya.

Sinergi lintas sektor dinilai penting agar kebijakan ini dapat diimplementasikan secara optimal di seluruh daerah.

Dengan pengaturan yang tepat, Ramadan 2026 diharapkan menjadi momentum lahirnya generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat secara moral dan sosial.

#OnBerita #Ramadan2026 #PendidikanIndonesia #PembelajaranRamadan #SekolahSelamaPuasa #KarakterBangsa #MenkoPMK #BelajarEfektif #PendidikanKarakter #GenerasiBeriman

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *