Mikroplastik dalam Makanan dan Air Minum, Ini Dampaknya bagi Tubuh
On Berta – Jakarta – Isu pencemaran lingkungan kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya temuan partikel plastik berukuran sangat kecil atau yang dikenal sebagai mikroplastik.
Keberadaan mikroplastik kini tidak hanya ditemukan di laut dan sungai, tetapi juga telah masuk ke dalam makanan, minuman, hingga udara yang dihirup manusia setiap hari.
Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri, mengingat dampaknya tidak hanya mengancam ekosistem alam, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan manusia dalam jangka panjang.
Lantas, apa itu mikroplastik dan mengapa keberadaannya dianggap berbahaya?
Pengertian Mikroplastik dan Proses Terbentuknya
Mikroplastik merupakan partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter.
Meski ukurannya sangat kecil, partikel ini sulit terurai secara alami dan dapat bertahan di lingkungan selama puluhan hingga ratusan tahun.
Secara umum, mikroplastik terbentuk melalui dua proses utama.
Pertama, mikroplastik yang sejak awal diproduksi dalam ukuran kecil, seperti butiran pada produk kosmetik dan pembersih.
Kedua, mikroplastik yang berasal dari pecahan plastik berukuran besar, seperti botol, kantong, atau kemasan makanan yang terurai akibat paparan sinar matahari, air, dan gesekan lingkungan.
Seiring waktu, limbah plastik yang tidak terkelola dengan baik akan terus terfragmentasi hingga menjadi partikel mikro yang sulit dikendalikan penyebarannya.

Penyebaran Mikroplastik di Lingkungan
Mikroplastik dapat menyebar dengan sangat cepat dan luas. Partikel ini terbawa aliran air, terbawa angin, serta masuk melalui sistem pembuangan limbah rumah tangga dan industri.
Salah satu sumber terbesar mikroplastik berasal dari aktivitas sehari-hari masyarakat.
Pakaian berbahan sintetis, misalnya, dapat melepaskan ribuan serat mikroplastik saat dicuci.
Limbah tersebut kemudian masuk ke saluran air dan berakhir di sungai maupun laut.
Selain itu, penggunaan plastik sekali pakai yang terus meningkat turut memperparah pencemaran.
Sampah plastik yang dibuang sembarangan akan terurai menjadi partikel kecil dan mencemari lingkungan dalam waktu lama.
Tak hanya di perairan, penelitian juga menemukan keberadaan mikroplastik di udara.
Partikel tersebut dapat terhirup manusia tanpa disadari, terutama di kawasan perkotaan dengan tingkat polusi tinggi.
Mikroplastik dalam Rantai Makanan
Salah satu dampak paling mengkhawatirkan dari pencemaran mikroplastik adalah masuknya partikel ini ke dalam rantai makanan.
Hewan laut seperti ikan, kerang, dan udang kerap mengira mikroplastik sebagai makanan.
Ketika hewan-hewan tersebut dikonsumsi manusia, mikroplastik ikut masuk ke dalam tubuh.
Beberapa penelitian juga menemukan partikel plastik dalam air minum, garam laut, madu, hingga sayuran.
Kondisi ini menunjukkan bahwa paparan mikroplastik telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan sulit dihindari sepenuhnya.
Dampak terhadap Lingkungan
Keberadaan mikroplastik membawa konsekuensi serius bagi kelestarian lingkungan.
Partikel plastik dapat mengganggu pertumbuhan organisme kecil seperti plankton, yang merupakan dasar rantai makanan laut.
Selain itu, mikroplastik juga dapat menyerap zat kimia berbahaya, seperti logam berat dan pestisida.
Ketika partikel tersebut dimakan oleh hewan, racun yang menempel ikut masuk ke dalam tubuh dan terakumulasi.
Dalam jangka panjang, pencemaran mikroplastik berpotensi mengancam keanekaragaman hayati serta merusak keseimbangan ekosistem perairan maupun darat.
Risiko bagi Kesehatan Manusia
Selain berdampak pada lingkungan, mikroplastik juga dinilai berpotensi membahayakan kesehatan manusia.
Meski penelitian masih terus dilakukan, sejumlah temuan awal menunjukkan adanya risiko yang perlu diwaspadai.
Beberapa dampak yang sedang diteliti para ahli antara lain:
- Gangguan pada sistem pencernaan akibat iritasi jaringan usus
- Gangguan hormon akibat zat kimia dalam plastic
- Risiko peradangan dalam tubuh
- Potensi melemahnya sistem kekebalan tubuh
Paparan jangka panjang terhadap mikroplastik dikhawatirkan dapat meningkatkan risiko penyakit kronis, meskipun masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan dampak pastinya.

Upaya Mengurangi Paparan Mikroplastik
Mengatasi persoalan mikroplastik membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, industri, hingga masyarakat.
Di tingkat individu, masyarakat dapat mulai dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menggunakan botol minum dan tas belanja sendiri, serta memilih produk ramah lingkungan.
Pengelolaan sampah yang baik juga menjadi langkah penting untuk mencegah limbah plastik mencemari lingkungan.
Sementara itu, pemerintah di berbagai negara mulai menerapkan kebijakan pembatasan plastik dan mendorong penggunaan bahan alternatif yang mudah terurai.
Industri juga dituntut untuk berinovasi dalam menciptakan kemasan yang lebih ramah lingkungan.
Peran Kesadaran Publik
Masalah mikroplastik tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Perubahan pola konsumsi dan gaya hidup masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan pencemaran.
Kesadaran untuk menjaga lingkungan harus dimulai dari kebiasaan kecil sehari-hari.
Dengan langkah sederhana namun konsisten, masyarakat dapat turut berkontribusi dalam menjaga kelestarian alam sekaligus melindungi kesehatan generasi mendatang.
Keberadaan mikroplastik merupakan ancaman nyata yang tidak boleh diabaikan.
Meski ukurannya kecil, dampaknya sangat besar bagi lingkungan dan kehidupan manusia.
Oleh karena itu, upaya pencegahan dan pengendalian pencemaran plastik harus terus diperkuat melalui kerja sama semua pihak.
Dengan kesadaran dan tindakan nyata, diharapkan pencemaran mikroplastik dapat ditekan, sehingga kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat tetap terjaga di masa depan.
#Mikroplastik #BahayaPlastik #LingkunganHidup #PolusiPlastik #Kesehatan #GoGreen #EdukasiLingkungan #SaveEarth #BeritaLingkungan
Penulis : Rizky Saptanugraha
Editor : Ali Ramadhan
