Mata Uang Iran Anjlok Dampak Demo Besar, Ini Perbandingan Rial dan Rupiah
4 mins read

Mata Uang Iran Anjlok Dampak Demo Besar, Ini Perbandingan Rial dan Rupiah

On Berita – Jakarta – Krisis ekonomi Iran mencapai puncaknya pada awal tahun 2026.

Mata uang nasionalnya, rial Iran, terus terpuruk hingga menyentuh angka terendah sepanjang sejarah lawan dolar Amerika Serikat (AS).

Pada 6–9 Januari 2026, kurs perdagangan pasar bebas menunjukkan bahwa 1 USD setara lebih dari 1,4 juta rial Iran—rekor yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Keadaan ini mencerminkan tekanan ekonomi yang semakin berat: inflasi melonjak, daya beli warga tergerus habis, dan harga kebutuhan pokok meningkat tajam.

Depresiasi mata uang ini pun ikut memicu gelombang protes besar yang melanda banyak kota di Iran, sekaligus menimbulkan krisis sosial dan politik serius.

  1. Seberapa Parah Nilai Tukar Rial Iran?

Untuk memahami seberapa rendahnya nilai rial saat ini, berikut adalah gambaran konversinya:

  • 1 US Dollar (USD) = 1.4 juta rial Iran di pasar bebas (sekitar awal Januari 2026).
  • Nilai kurs ini menunjukkan pelemahan yang signifikan, bahkan dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

Konversi ke Rupiah

Menggunakan kurs rata-rata Rupiah terhadap USD (±Rp 15.000 per USD):

  • 1 rial Iran = Rp 0,015
  • 1.000 rial ≈ Rp 15
  • 1.000.000 rial ≈ ±Rp 15.000

Artinya, satu juta rial—jumlah yang terlihat besar secara nominal—sebenarnya hanya setara dengan puluhan ribu rupiah.

Nilai ini mencerminkan penurunan ekstrem daya beli mata uang Iran.

2. Penyebab Utama Anjloknya Mata Uang Iran

Anjloknya rial bukan fenomena tiba-tiba, melainkan hasil dari kombinasi faktor struktural dan jangka panjang yang saling memperburuk.

  1. Inflasi Tinggi dan Ekonomi Melemah

Krisis nilai tukar di Iran dipicu oleh lonjakan inflasi yang sangat tinggi, mencapai lebih dari 40% per tahun, yang menggerus secara drastis daya beli masyarakat dan membuat harga bahan pokok melonjak, termasuk harga makanan naik hingga puluhan persen.

b. Sanksi Internasional yang Berkepanjangan

Sanksi ekonomi yang diberlakukan oleh AS dan sekutunya sejak lama membatasi akses Iran ke pasar global, khususnya minyak, yang merupakan komoditas utama ekspor negara tersebut. Berkurangnya pendapatan valuta asing mempersempit ruang gerak bank sentral untuk menstabilkan mata uang.

c. Maskapai Kebijakan Nilai Tukar Ganda

Iran memiliki sistem kurs ganda: kurs resmi pemerintah yang jauh lebih rendah, dan kurs pasar bebas yang mencerminkan realitas permintaan dan pasokan. Perbedaan besar ini menimbulkan distorsi dan spekulasi, sehingga harga valuta asing di pasar gelap terus melonjak.

d. Turunnya Harga Minyak dan Pendapatan Negara

Meskipun memiliki cadangan minyak yang besar, Iran kesulitan menjual komoditas ini secara bebas akibat sanksi. Penurunan harga minyak di pasar global juga mengurangi devisa dan memperburuk neraca perdagangan.

e. Kebijakan Fiskal dan Moneter Lemah

Langkah-langkah seperti pencabutan subsidi kurs tertentu atau restrukturisasi moneter belum mampu meredam tekanan inflasi, bahkan kadang memperburuk ketidakpastian pasar, yang mempercepat pelemahan rial.

3. Dampak Krisis Nilai Tukar terhadap Ekonomi dan Kehidupan Masyarakat

Pelemahan mata uang memiliki efek domino yang sangat luas:

  1. Harga Barang Melonjak Tajam

Inflasi harga pangan mencapai puluhan persen dalam beberapa bulan terakhir, membuat biaya hidup rakyat meningkat drastis.

b. Daya Beli Tabungan Hancur

Penyusutan nilai rial memakan habis tabungan masyarakat, terutama kelas menengah dan pekerja yang tidak memiliki aset luar negeri.

c. Harga Impor Naik Drastis

Karena ketergantungan pada impor, termasuk obat dan barang modal, depresiasi rial membuat harga barang impor menjadi jauh lebih mahal.

d. Pemogokan dan Penutupan Usaha

Banyak pedagang, terutama di bazaar tradisional besar seperti di Teheran, menutup toko sebagai bentuk protes terhadap krisis ekonomi yang merusak margin usaha mereka.

4. Dari Krisis Ekonomi ke Demonstrasi Nasional

Turunnya nilai rial memicu ketidakpuasan yang cepat berubah menjadi protes besar di banyak kota besar Iran sejak akhir Desember 2025.

Aksi awalnya dimulai oleh pedagang di pusat-pusat perdagangan besar, kemudian menyebar ke kalangan pelajar, pekerja, dan warga sipil lainnya.

Demonstrasi ini berkembang menjadi salah satu gelombang protes ekonomi terbesar dalam sejarah Iran, melibatkan ribuan orang di berbagai wilayah.

Pemerintah merespon dengan keras, termasuk pemblokiran internet dan penggunaan kekuatan untuk membubarkan massa.

Sorotan internasional pun meningkat seiring laporan tentang jatuhnya ratusan hingga ribuan korban dalam bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan.

5. Prospek dan Tantangan Pemulihan

Krisis yang dihadapi Iran saat ini merupakan kombinasi tekanan internasional, struktural ekonomi, dan tekanan domestik yang memuncak. Tantangan besar mencakup:

  • Stabilisasi nilai tukar melalui reformasi fiskal dan moneter
  • Negosiasi harapan investasi asing untuk meningkatkan devisa
  • Mengurangi dampak sanksi dengan diversifikasi ekspor non-minyak
  • Menurunkan inflasi melalui kebijakan yang kredibel dan terukur

Tanpa langkah strategis, ekonomi Iran akan terus berada dalam tekanan berat, yang berpotensi memicu ketidakstabilan politik jangka panjang.

#OnBerita #IranRial #KrisisEkonomiIran #InflasiIran #ProtesIran #NilaiTukarRial #EkonomiGlobal

Penulis : Rizky Saptanugraha

Editor : Ali Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *