Singgung Ratu Kebohongan, Ratna Sarumpaet Menangis di Persidangan

0
27

Terdakwa kasus penyebaran berita bohong atau hoaks, Ratna Sarumpaet, menangis saat membacakan nota pembelaan atau pledoinya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (19/6).

Ratna menangis sejak awal hingga akhir membaca pledoi. Tangisan Ratna semakin menjadi saat menyatakan bahwa tuntutan 6 tahun penjara oleh penuntut umum pada Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan terlalu berat dan menurutnya tak sesuai dengan fakta sidang yang ada.

“Kerasnya tim JPU menetapkan tuntutan paling maksimal pada saya membuat mereka abai atas tanggung jawabnya sebagai bagian dari institusi penegak hukum untuk berpegang pada azas kejujuran, objektivitas, dan keadilan itu sendiri,” kata Ratna saat membacakan pledoinya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (19/6).

Ratna meminta majelis hakim yang menangani perkaranya dapat memberikan putusan yang adil. Sebab, Ratna mengaku telah meminta maaf secara terbuka kepada masyarakat bahwa telah melakukan kebohongan tentang penganiayaan oleh dua orang pria di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, pada Senin, (24/9/2018).

“Saya berharap Yang Mulia Majelis Hakim dapat menilai tentang kebenaran yang sebenar-benarnya kebenaran tentang berita yang dianggap sebagai kebohongan itu, sehingga dapat memutuskan perkara saya ini dengan seadil-adilnya berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa,” ucap Ratna, masih menangis.

Meski mengaku berbohong, namun Ratna mengelak apabila kebohongannya itu membuat keonaran di masyarakat, sebagaimana didakwakan ataupun dituntut oleh jaksa.

Ratna mengaku tidak bermaksud melakukan kebohongan, apalagi kebohongan itu disengaja untuk membuat keonaran atau kekacauan di kalangan masyarakat, sehingga menimbulkan rasa permusuhan di kalangan masyarakat.

“Di dalam persidangan tidak ada satu pun saksi yang bisa membuktikan atau memberikan keterangan terjadinya keonaran termasuk kesaksian yang diberikan oleh Prof Muzakir yang menyebut tidak terjadi keonaran. Pertanyaan saya, lalu di mana dan pada saat kapankah telah terjadi kerusuhan akibat kebohongan saya?” kata Ratna yang mengenakan baju putih ini.

Selain itu, Ratna mengaku telah mendapat sanksi sosial atas kebohongan yang dia buat. Dalam persidangan, Ratna kembali meminta maaf apabila kebohongannya memberikan efek negatif kepada masyarakat.

“Dan akibat kebohongan itu, saya menerima sanksi sosial yang luar biasa berat dari masyarakat. Saya dianggap sebagai ratu pembohong. Sanksi sosial sebagai pembohong itu telah menghancurkan nama baik dan reputasi saya, mengakhiri perjuangan-perjuangan saya, dan saya menerima semuanya sebagai konsekuensi dari perbuatan saya yang telah mengecewakan banyak orang,” ujar Ratna.

Sementara kuasa hukum Ratna, Desmihardi, meminta agar majelis hakim membebaskan Ratna dari semua tuntutan. Menurutnya, Ratna tidak terbukti melakukan kebohongan yang menimbulkan keonaran.

“Memohon, kepada majelis hakim menyatakan terdakwa Ratna bebas dari segala dakwaan, atau dilepaskan dari segala tuntutan hukum,” kata dia saat membacakan pledoinya kuasa hukum.

Di kasus ini, Ratna dituntut 6 tahun penjara. Ia dituntut karena dinilai terbukti telah menyebarkan berita bohong atau hoaks terkait penganiayaan terhadapnya di Bandung, Jawa Barat. Ratna juga dinilai telah terbukti membuat keonaran atas perbuatannya menyebarkan berita bohong tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here