Petaka Politik 2019 Atas Kepulangan Rizieq

0
60

Onberita – Rizieq Shihab untuk kesekian kalinya pulang kembali ke Indonesia. Tetapi drama akan menyambut kepulangannya. Drama itu, yang telah berlangsung beberapa hari sebelumnya, mendapat sorotan luas media massa.

Banyak pendukung Rizieq yang menghadiri acara subuh berjamaah dalam rangka penyambutan Rizieq di Masjid Jami Baitul Amal, Cengkareng, Jakarta Barat. Polisi pun dibuat sedikit kalang kabut. Aparat dengan jumlah banyak telah dipersiapkan di sejumlah titik terutama di Bandara Soekarno Hatta.

Kabarnya, kepulangan Rizieq Shihab berakhir antiklimaks. Namun pendukungnya tak sedikitpun merasa kecewa. Mereka hanya harus menunda lagi kerinduannya bertemu Rizieq.

Di sudut lain, sebagian orang yang tak menyukai Rizieq ikut merasa lega, tentunya dengan alasan yang berbeda dari para pendukung Rizieq Shihab.

“(Ada dia) Cuma bikin masalah. Demo lagi, razia lagi, hoax lagi,” kata teman saya pendukung Jokowi yang tidak menyukai Rizieq, yang belakangan gemar membaca dan menyebarkan status ‘Selebriti Medsos’ macam Denny Siregar.

Rizieq memang sosok kontroversial. Sulit bagi orang untuk bersikap netral ketika berhadapan dengan dirinya. Biasanya, hanya ada dua pilihan saja: membenci atau mendukung Rizieq.

Rizieq punya ciri khas tersendiri, suaranya yang lantang saat berorasi, sikap tegasnya, dan kritik-kritikannya seburuk apapun kualitas kritikannya terhadap pemerintah, seolah oase bagi sebagian masyarakat yang memang sejak lama merasa puas dengan yang di lakukkan Jokowi.

Rizieq dengan kata lain, telah menjadi kanal bagi sebagian masyarakat untuk menyalurkan ketidakpuasan mereka terhadap pemerintah, di tengah gagalnya manuver politik dari partai-partai oposisi.

Dengan segala atribut dan peran di atas, Rizieq tak ayal lagi telah menjelma jadi salah satu tokoh oposisi nonpartai yang diperhitungkan.

Berbagai cara dan celah untuk membungkam Rizieq. Mulai dari kasus ujaran kebencian, penghinaan terhadap lambang negara, hingga dugaan percakapan mesum dengan Firza Husein.

Pemerintah, dalam hal ini kepolisian, memang berhasil membungkam Rizieq setidaknya sukses memaksa sang imam hengkang ke Arab Saudi. Sayangnya, keberhasilan itu bersifat sementara, rawan dipolitisir, bahkan bisa berujung ‘petaka politik’.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here