Pakar Psikologi Politik: Sebaiknya Prabowo Memunculkan Narasi Yang Berdampak Langsung Pada Masyarakat

0
242

Onberita.com – Hamdi Muluk, Pakar psikologi politik dari Universitas Indonesia menilai ada kemiripan kampanye Prabowo Subianto dengan Donald Trump.

Prabowo membuat slogan yang hampir serupa, yakni Make Indonesia Great Again. Ia juga menilai Prabowo selalu mencitrakan dirinya sebagai seorang nasionalistik.

Menurut Hamdi Muluk, jargon itu tidak pas dilekatkan pada kondisi Indonesia. Sebab indonesia belum pernah mencapai posisi “hebat”.

“Logikanya nggak nyambung. Memang kapan Indonesia great?”

“Kecuali Seperti Cina yang sekarang menguasai perekonomian dunia.”

“Indonesia sekarang itu, justru kondisi 20 tahun lalu Cina,” ucapnya.

Kalau pun ingin dibandingkan dengan era Soeharto, kata Hamdi, tidak realistis.

Sikap sama juga ditunjukkan dengan menyebut media melakukan kebohongan dalam pidaton di acara peringatan Hari Disabilitas Internasional, Rabu (5/12/2018).

Merujuk kepada Donald Trump, ia berkali-kali menuding media menyebarkan berita miring tentang dirinya.

“Kemiripan dua orang ini memang sama.”

“Pengamatan banyak orang, sepanjang ini polanya sama.”

“Tapi ada beberapa hal yang menetap di Prabowo, terlepas dari fenomena Trump, retrotika tentang nasionalistik,”jelas Hamdik Muluk.

Tapi menurut Hamdi Muluk, pernyataan kontroversi semacam itu tak terlalu diminati publik dan takkan berhasil meningkatkan popularitasnya.

Ia menyarankan Prabowo, agar menghadirkan program-program yang dibutuhkan masyarakat seperti bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan atau menaikkan pertumbuhan ekonomi.

“Popularitas Prabowo tuh sudah mentok.”

“Ekstabilitasnya saja terpaut 20 persen dari Jokowi.”

“Jadi sebaiknya sekarang dia memunculkan narasi yang berdampak langsung ke masyarakat,” sambungnya.

Ini karena berbagai isu dan program yang disampaikan ke publik oleh kedua kubu tidak punya efek elektoral yang signifikan.

Dalam survei terbaru dari Lingkaran Survei Indonesia Denny JA, tingkat keterpilihan Jokowi-Maruf sebesar 52,2 persen, sementara Prabowo-Sandi sebesar 29,5 persen.

Isu seperti Tampang Boyolali misalnya, sebanyak 65,8 persen responden menyatakan tidak suka dengan pernyataan tersebut.

Sementara mereka yang menyatakan suka hanya sebesar 9,3 persen.

Selain itu, pernyataan Prabowo yang mengatakan jika terpilih sebagai presiden tidak akan mengimpor juga hanya menyita perhatian publik sekitar 18,7 persen pemilih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here