Mencintai Papua, Warga Washington Ingin Menjadi WNI

0
59

Negara kita memberikan ruang kepada warga negara asing (WNA) untuk beralih menjadi warga negara Indonesia (WNI) melalui jalur naturalisasi, sebagaimana yang dilakukan Wallace Din Wayli yang berasal dari Washington, Amerika Serikat (AS).

Menurut Plt Kepala Kanwil Kementerian Hukum dan HAM (Kemkumham) Provinsi Papua Max Wambrauw, pada 23 Mei 2019, Wales Din Wayli, telah diambil sumpahnya menjadi WNI.

“Wallace sudah 42 tahun berada di Papua dengan kegiatan yang luar biasa, membangun pendidikan khusus orang asli Papua,” kata Wambrauw, seusai mengambil sumpah dan melantik Wales menjadi WNI, di Aula Kanwil Kemkuham Papua, Kamis.

Max Wambrauw mengharapkan setelah resmi menjadi WNI, Wallace bisa berkolaborasi dengan program-program pemerindah daerah serta LSM yang ada di Tanah Papua.

Wallace sendiri, merupakan pendiri sekolah “Papua Harapan” di Kabupaten Jayapura, Papua. Sebelumnya Wallace menjadi pilot pesawat mission aviation fellowship (MAF).

Tapi sekarang ia sudah membangun sekolah khusus anak asli Papua yang tersebar hingga ke pedalaman Papua. ” Wallace seorang pejuang pendidikan di tanah Papua. Membangun Papua adalah membangun manusianya,” kata Wambrauw.

Wallace, lahir di Washington, AS, pada 5 April 1948. Ia mengaku beralih jadi WNI karena kecintaannya terhadap Indonesia, khususnya warga Papua.

Pria yang sudah mahir berbahasa Indonesia mengatakan, “Saya begini karena kehendak Tuhan. Tuhan memanggil saya ke Papua untuk membantu sebaik mungkin di sini (Papua),” kata Wallace.

Menurutnya, bersama yayasan Papua Harapan, pihaknya sudah membangun sekolah di wilayah Jayapura dan sebagian di pedalaman Papua, termasuk membangun klinik kesehatan.

Harapan Wallace kedepannya agar bisa membangun sebuah sistem kesehatan yang paling baik untuk anak-anak kita di pedalaman. “Saya lihat potensi pendidikan yang luar biasa dalam diri anak-anak Papua tetapi kesempatan belum ada. Kami mau kasih mereka kesempatan dan waktu sebaik-baiknya dan maju bersaing dengan seluruh dunia,” ujarnya

Dijelaskannya, sekolah pada Yayasan Papua Harapan menerima anak-anak Papua dari tingkat TK dan SD. Namun ke delan akan dibangun sekolah untuk anak-anak SMP dan SMA di pedalaman Papua.

“Kami mulai dengan 7 orang anak Papua, dan dalam waktu dekat mereka akan diwisuda. Saya bangga sekali dengan mereka. Hal ini akan kami terapkan kepada seluruh anak Papua,” jelasnya.

Enam sekolah yang telah dibuka Yayasan Papua Harapan di pedalaman Papua bekerja sama dengan Grup Lippo, yakni di Tolikara, Mamit, Karbaga, Koropun, Nautsa, Danage, dan Doboto.

Turut hadir pada acara pelantikan yakni isteri dan keluarga Wallace dan pejabat daerah setempat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here