Kondisi Ibu Ani Yudhoyono sempat Membaik Sebelum Wafat

0
56

Meninggalnya Kristiani Herawati Yudhoyono atau biasa disebut Ani Yudhoyono memang menyisakan duka mendalam bagi seluruh masyarakat Indonesia. Wanita yang sempat menjadi Ibu Negara selama satu dekade ini menghembuskan nafas terakhir karena penyakit kanker darah yang dialaminya.

Pada Februari 2019, Ani dilarikan menuju National University Hospital (NUH) untuk mendapatkan perawatan intensif atas kanker darah yang dialaminya. Awalnya proses pengobatan berjalan dengan sempurna dengan bantuan para dokter-dokter ahli.

Ani pun kerap mengunggah perkembangan kesehatannya selama di rumah sakit. Dalam beberapa kesempatan Ani pun terlihat lebih bugar. Dan seminggu sebelum berpulang, istri mantan presiden keenam republik Indonesia ini tampak sehat.

Ia bahkan sempat keluar dari rumah sakit selama beberapa jam dan melakukan fotografi yang merupakan hobinya. Namun, beberapa hari menjelang kematiannya, Ani dikabarkan mengalami drop dan sempat dilarikan ke ruang ICU.

Tentunya sebagian orang merasa aneh dengan kejadian yang dialami oleh Ani Yudhoyono. Pasalnya, ia sempat terlihat sehat sebelum meninggal pada Sabtu 1 Juni 2019. Ternyata dalam dunia medis, kondisi ini dinamakan dengan Terminal Lucidity.

Merangkum dari berbagai sumber, secara harfiah Terminal Lucidity ini disebut sebagai kejernihan menjelang ajal. Namun, menurut seorang pakar biologi, Michael Nahm, Terminal Lucidity akan membuat mental penderitanya menjadi tajam, beberapa saat sebelum ajal.

“munculnya kejernihan dan ketajaman mental pada pasien yang tak sadarkan diri, mengalami gangguan kejiwaan, atau sangat lemah beberapa saat sebelum ajal menjemput,” terang Michael.

Lebih lanjut, gejala ini kabarnya bisa menimpa siapapun dengan rentang hari, jam, maupun menit sebelum akhirnya meninggal dunia. Kabarnya Terminal Lucidity paling sering menyerang penyakit yang melibatkan otak.

Beberapa penyakit tersebut meliputi tumor otak, meningitis, trauma otak, stroke, skizofrenia dan Alzheimer. Meski demikian, hal ini tidak menutup kemungkinan dialami oleh para pasien yang mengidap penyakit kronis.

Hingga saat ini, belum diketahui secara pasti bagaimana fenomena ini bisa terjadi. Namun, menurut sebuah penelitian, pasien yang menderita penyakit kronis, volume otak akan sedikit menyusut. Ini disebabkan karena jaringan-jaringan otak semakin melemah dan menyusut.

Alhasil otak yang sebelumnya penuh dengan tekanan menjadi agak melonggar. Gejala inilah yang dinilai dapat mengembalikan berbagai macam fungsi otak yang telah rusak menjadi baik kembali. Beberapa diantaranya adalah kemampuan mengingat dan kemampuan berbicara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here