28 C
Jakarta
Senin, Februari 18, 2019
Beranda KESEHATAN Jangan Hiraukan Penyakit Psikologis Setelah Melahirkan

Jangan Hiraukan Penyakit Psikologis Setelah Melahirkan

0
14

Gangguan psikologis dapat terjadi pada siapa saja, termasuk pada ibu yang baru saja melahirkan. Hal ini tidak boleh dianggap sepele. Pada beberapa kasus, gangguan psikologis setelah melahirkan dapat memicu tindakan yang mampu mencelakai anak atau dirinya sendiri.

Gangguan psikologis setelah melahirkan dapat terjadi dalam hitungan hari, minggu, atau bahkan lebih lama. Kondisi ini memerlukan penanganan yang tepat dan bantuan psikiater, terlebih jika gangguan psikologis yang dialami berlangsung lebih dari dua minggu.

Hingga kini, belum diketahui pasti penyebab utama terjadinya gangguan psikologis setelah melahirkan. Hanya saja, diketahui ada beberapa faktor yang dapat memicu munculnya gangguan ini, termasuk faktor hormonal, lingkungan, emosional, hingga faktor genetik.

Jenis gangguan psikologis setelah melahirkan juga beragam, berikut beberapa di antaranya:

  • Baby blues syndrome
    Sekitar 40-80% wanita mengalami baby blues syndrome setelah melahirkan. Baby bluessyndrome ditandai dengan rasa khawatir atau keraguan yang berlebihan terhadap kemampuannya merawat anak.
    Selain itu, penderita baby blues kerap bersikap gelisah, tidak sabar, lekas marah, bahkan bisa menangis tanpa alasan yang jelas, hingga sulit tidur. Sebagian penderita baby blues juga merasa sulit membangun ikatan dengan bayinya.
    Baby blues biasanya berlangsung selama beberapa hari dan dapat hilang dengan sendirinya dalam waktu 1 hingga 2 minggu. Bertukar pikiran dengan sesama ibu atau teman yang mampu memahami beban seorang ibu, kemungkinan dapat membantu pemulihannya.
  • Depresi pascamelahirkan
    Jika baby blues terjadi lebih dari dua minggu, maka bisa jadi yang dialami bukanlah baby blues, melainkan depresi pascamelahirkan atau postpartum depression. Gangguan psikologis setelah melahirkan ini memang memiliki gejala yang hampir sama dengan baby blues, namun jauh lebih berat.
    Sebagian wanita yang mengalami depresi pascamelahirkan dapat memiliki rasa bersalah atau penyesalan yang mendalam. Penderita depresi pascamelahirkan sering kali tidak mampu mengurus dirinya sendiri, terlebih bayinya. Saat mengalami kondisi ini, kerap kali mereka juga tidak mampu melakukan aktivitas sehari-hari.
    Seorang wanita berisiko mengalami depresi pascamelahirkan, terutama jika memiliki riwayat depresi sebelumnya atau bila ada anggota keluarga yang pernah terkena depresi.
    Permasalahan rumah tangga, rasa percaya diri yang rendah, dan kehamilan yang tidak direncanakan juga bisa memperbesar risiko terjadinya depresi pascamelahirkan. Kondisi ini perlu segera mendapat penanganan dari psikiater atau psikolog, karena jika dibiarkan, berisiko membahayakan nyawa sang ibu maupun anaknya.
  • Psikosis pascamelahirkan
    Gangguan kesehatan psikologis ini tergolong berat, dan dapat terjadi pada para ibu baru. Psikosis pascamelahirkan dapat terjadi dalam waktu yang cepat, umumnya sekitar tiga bulan pertama setelah melahirkan. Gejala yang muncul hampir sama dengan baby blues dan depresi pascamelahirkan, yaitu muncul rasa gelisah, cepat marah, dan sulit tidur.
    Namun selain gejala tersebut, penderita psikosis pascamelahirkan dapat mengalami halusinasi dan gangguan persepsi. Misalnya melihat atau mendengar sesuatu yang tidak nyata, serta meyakini hal yang tidak masuk akal.
    Wanita yang dicurigai mengalami psikosis pascamelahirkan harus segera mendapat pengobatan, bahkan kemungkinan perlu dirawat. Sebab, penderita kondisi ini berisiko menyakiti dirinya atau orang lain, termasuk bayinya.
    Untuk menangani psikosis pascapersalinan dokter mungkin akan memberikan obat antidepresan, antipsikotik, dan obat yang membantu menstabilkan suasana hati. Dokter perlu memberikan obat-obat tersebut dengan pertimbangan yang tepat, karena berisiko terserap ke dalam air susu ibu (ASI) yang akan diberikan pada bayi.

Gangguan psikologis setelah melahirkan tidak bisa disepelekan. Kenali gejalanya dengan baik, dan apabila timbul gejala-gejala yang mengganggu aktivitas, segera konsultasikan keluhan tersebut ke dokter.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here